RI Kalah Jauh, China Cetak Rekor Produksi Baru Bara 2021!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
18 January 2022 11:25
FILE PHOTO: A worker speaks as he loads coal on a truck at a depot near a coal mine from the state-owned Longmay Group on the outskirts of Jixi, in Heilongjiang province, China, October 24, 2015. REUTERS/Jason Lee/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi batu bara China mencapai rekor output tertinggi tahun lalu akibat dorongan pemerintah bagi para penambang untuk meningkatkan produksi bahan bakar fosil mereka demi melindungi pasokan energi dalam melalui krisis gas musim dingin.

Produsen sekaligus konsumen batu bara terbesar di dunia tersebut menambang 384,67 juta ton batu bara bulan lalu, melampaui rekor sebelumnya 370,84 juta ton yang terjadi pada November, setelah pemerintah meminta para penambang bekerja dengan kapasitas maksimum untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Angka resmi pemerintah menunjukkan bahwa produksi batu bara China tersebut juga merupakan rekor tertinggi dalam setahun penuh. Produksi batu bara China tahun 2021 berada di level tertinggi sepanjang masa sebesar 4,07 miliar ton, naik 4,7% pada tahun sebelumnya. Rekor ini tercipta selang beberapa pekan setelah pemimpin dunia berkumpul di Glasgow dalam KTT iklim COP26.


Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa konsumsi energi global dari batu bara, yang merupakan sumber tunggal emisi iklim terbesar di dunia, akan mencapai tingkat rekor pada tahun 2021 didorong oleh lonjakan permintaan energi dalam pemulihan ekonomi global setelah pandemi virus corona.

PLTU batu bara turun 4% pada tahun 2020 karena pandemi menyebabkan perlambatan ekonomi global, tetapi IEA menemukan bahwa lonjakan permintaan listrik selama tahun 2021 melebihi pertumbuhan dari sektor energi rendah karbon, membuat banyak negara kaya lebih bergantung pada bahan bakar fosil untuk membangkitkan listrik.

Laporan terbaru IEA, yang diterbitkan minggu lalu, menemukan bahwa peningkatan paling tajam dalam permintaan listrik global tahun lalu dipicu oleh penggunaan batu bara yang naik 9% dari tahun sebelumnya. Angka tersebut lebih dari setengah peningkatan permintaan listrik global.

Rekor konsumsi batu bara China terjadi beberapa minggu setelah kesimpulan dari KTT iklim COP26, yang berakhir dengan perselisihan sengit atas janji untuk meninggalkan batu bara. Intervensi menit-menit terakhir oleh India berhasil melunakkan bahasa pakta tersebut dari "phasing out" menjadi "phasing down".

Terminologi phase out merupakan penghapusan bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara dan subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien, serta beralih ke opsi energi lebih bersih. Sementara phase down merupakan penurunan bertahap.

IEA menemukan bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara di AS dan UE menghasilkan listrik 20% lebih banyak tahun lalu, dari tingkat yang rendah pada tahun 2020, tetapi penggunaannya tetap di bawah tahun 2019. IEA juga menyebutkan ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga batu bara diperkirakan akan menurun lagi tahun depan karena permintaan listrik melambat dan perluasan energi alternatif terbarukan terus berlanjut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tahan Lonjakan Harga, China Bakal Genjot Produksi Batu Bara!


(fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading