PDB China Tak Meyakinkan, IHSG Berakhir Merah di Sesi 1

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 January 2022 11:57
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berayun ke zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama Senin (17/1/2022), di tengah rilis data ekonomi China yang gagal memenuhi ekspektasi akan adanya pertumbuhan pesat.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 6.655,83 atau drop 37,57 poin (-0,56%) pada pukul 11:30 WIB. Dibuka naik 0,27% ke 6.711,406, indeks acuan utama bursa ini sempat menguat ke level tertinggi hariannya pada 6.711,822 pukul 09:00 WIB.

Namun selepas itu, IHSG berbalik melemah sehingga menyentuh level terendah hariannya pada 6.649,812 beberapa menit pukul 11:10 WIB. Mayoritas saham tertekan sebanyak 287 unit, sedangkan 215 lain naik, dan 166 sisanya flat.


Nilai perdagangan surut ke level Rp 5,8 triliun dengan melibatkan 10 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 793.000-an kali. Investor asing hari ini mencetak pembelian bersih (net buy), senilai Rp 192,46 miliar.

Saham yang mereka buru terutama adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan nilai pembelian bersih masing-masing sebesar Rp 132,4 miliar dan Rp 73,2 miliar. Keduanya menguat, masing-masing sebesar 0,48% dan 1,35% ke Rp 4.200 dan Rp 18.825/saham.

Sebaliknya, saham yang mereka jual terutama adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Astra Interational Tbk (ASII) dengan nilai penjualan bersih masing-masing sebesar Rp 16,9 miliar dan Rp 9 miliar. Keduanya melemah, masing-masing sebesar 1,79% dan 1,31% menjadi Rp 6.875 dan Rp 5.650/saham.

Dari sisi nilai transaksi, saham ARTO dan BBRI memimpin dengan total nilai perdagangan masing-masing sebesar Rp 686,2 miliar dan Rp 251,9 miliar, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 241,4 miliar.

Koreksi IHSG terjadi di tengah pergerakan variatif bursa utama Asia, di mana indeks KOSPI Korea Selatan dan indeks bursa Malaysia memimpin koreksi masing-masing sebesar 1,34% dan 0,71%. Sebaliknya, Shenzhen China dan Nikkei Jepang memimpin reli, masing-masing sebesar 1,35% dan 0,8%.

Pelaku pasar di Asia bereaksi beragam terhadap rilis Produk Domestik Bruto (PDB) China yang per kuartal IV-2021 tumbuh 4%, atau lebih baik dari ekspektasi pasar dalam polling Reuters yang memprediksi pertumbuhan sebesar 3,6% secara tahunan.

Meski demikian, capaian kuartal terakhir tahun lalu itu masih terhitung melambat dibandingkan dengan pertumbuhan PDB kuartal III-2021 yang naik 4,9% (secara tahunan). Di sisi lain, penjualan ritel Desember hanya tumbuh 1,7% atau jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,7%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Lumayan Bikin Lega Nih, China Tak Lagi Jadi Ancaman RI!


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading