Modal Inti Bank Allo Rp 6 T, Resmi Naik jadi KBMI 2

Market - adf, CNBC Indonesia
14 January 2022 19:10
Harga saham emiten bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) melonjak pada awal perdagangan hari ini, Selasa (11/1/2022). Kenaikan saham BBHI terjadi seiring pengusaha nasional Chairul Tanjung (CT), yang merupakan ultimate shareholder Allo Bank, membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Harga saham emiten bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) melonjak pada awal perdagangan hari ini, Selasa (11/1/2022). Kenaikan saham BBHI terjadi seiring pengusaha nasional Chairul Tanjung (CT), yang merupakan ultimate shareholder Allo Bank, membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten bank digital milik pengusaha nasional Chairul Tanjung, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) menyatakan telah memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai kewajiban modal inti untuk 2021 dan Rp 3 triliun untuk tahun ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi di website Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Allo Bank menjelaskan, untuk tahun lalu, modal inti minimum yang wajib dipenuhi perseroan adalah sebesar Rp 1 triliun. Kewajiban tersebut lebih kecil dari ketentuan OJK secara umum sebesar Rp 2 triliun.

Menurut penjelasan manajemen, ini karena Allo Bank telah tercatat dalam administrasi pengawasan Otoritas Jasa Keuangan sebagai anggota Kelompok Usaha Bank (KUB) Mega Corpora, grup milik Chairul Tanjung.


Masuknya Allo Bank dalam KUB Mega Corpora tersebut berdasarkan Surat Otoritas Jasa Keuangan No. S-69/PB.31/2021 tanggal 13 April 2021 perihal Perubahan Struktur Kelompok Usaha Bank (KUB) Mega Corpora.

Adapun dalam struktur KUB tersebut, PT Bank Mega Tbk (MEGA) menjadi pelaksana perusahaan induk, sedangkan Allo Bank bersama PT Bank Mega Syariah menjadi anggota.

Adapun, untuk memenuhi kewajiban Rp 1 triliun OJK, eks Bank Harda Internasional tersebut telah melaksanakan Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue melalui Penawaran Umum Terbatas II (PUT II) berdasarkan pernyataan efektif dari OJK tertanggal 30 Juni 2021.

Dana yang diperoleh dari PUT II tersebut sebanyak Rp 749.850.177.600 (Rp 749,85 miliar). Dengan tambahan dana PUT II itu, per tanggal 31 Agustus 2021 modal inti Perseroan tercatat sebesar Rp 1.145.364.666.946 (Rp 1,14 triliun).

"Oleh karenanya perseroan telah memenuhi kewajiban modal inti minimum [untuk tahun 2021] yang diatur dalam POJK 12/2020," kata manajemen Allo Bank, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (14/1/2022).

Menurut laporan keuangan Allo Bank per kuartal III-2021, jumlah modal inti (tier 1) perusahaan terkini mencapai Rp 1,26 triliun.

Saat ini, Allo Bank sendiri sedang melaksanakan aksi korporasi rights issue senilai Rp 4,80 triliun.

Ke depan, dengan tambahan modal senilai Rp 4,80 triliun tersebut, maka modal inti BBHI akan berubah menjadi Rp 6,06 triliun.

Dengan demikian, Allo Bank akan naik kelas ke dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 (atau bank dengan modal inti di atas Rp 6 triliun).

Menjawab pertanyaan bursa mengenai strategi perseroan pasca-pemenuhan modal inti minimum tersebut, pihak Allo Bank menjelaskan, strategi yang akan dilakukan oleh perseroan untuk mempertahankan modal inti minimum adalah dengan mempertahankan profitabilitas.

Hal tersebut, jelas pihak Allo Bank dilakukan melalui pertumbuhan secara organik, yakni dengan cara mempertahankan atau meningkatkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NIM), menjaga kualitas aktiva produktif.

Kemudian, cara lainnya adalah dengan mempertahankan atau meningkatkan fee based income (pendapatan berbasis komisi), dan menjaga atau meningkatkan efisiensi biaya-biaya operasional.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading