Ekspor Batu Bara Kembali Dibuka, Rupiah Jaya Jaya Jaya!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 January 2022 15:04
Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia) Foto: Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sukses membukukan penguatan 3 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/1). Beberapa sentimen positif dari dalam negeri mampu mendongkrak kinerja Mata Uang Garuda.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 14.285/US$, dan sempat bertambah hingga 0,31% ke Rp 14.260/US$. Setelahnya penguatan rupiah terpangkas bahkan sempat berbalik melemah tipis 0,04%.

Di penutupan perdagangan, rupiah berhasil kembali ke zona hijau, menguat tipis 0,04% di ke Rp 14.300/US$.


Data yang dirilis dari dalam negeri hari ini cukup bagus. Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel di bulan November melesat 10,8% year-on-year (yoy), dari bulan sebelumnya yang naik 6,5% (yoy).

"Mayoritas kelompok mencatatkan perbaikan kinerja penjualan eceran secara tahunan, terutama Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Makanan, Minuman, dan Tembakau," tulis BI dalam keterangan resminya, Selasa (11/1).

Jika dilihat secara bulanan, penjualan ritel tumbuh 2,8% month-to-month (mtm), lebih rendah dari kenaikan bulan sebelumnya 3,2% (mtm).

Sementara itu untuk bulan Desember, BI memprakirakan penjualan ritel akan meningkat secara bulanan, didorong peningkatan permintaan selama Hari Raya Natal dan libur akhir tahun. Penjualan ritel Desember diprediksi tumbuh 3% (mtm) dan 8,9% (yoy).

Luhut Binsar Pandjaitan (Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi) mengungkapkan pemerintah Indonesia siap untuk kembali membuka keran ekspor batu bara secara bertahap mulai Rabu, 12 Januari 2022.

"Ada beberapa belas kapal yang diisi batu bara telah diverifikasi malam ini telah dilepas. Kemudian nanti kapan mau dibuka ekspor bertahap dimulai Rabu," tegas Luhut.

Awal tahun ini, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kebijakan yang menghebohkan dunia. Indonesia melarang ekspor batu bara selama sebulan untuk memastikan kecukupan kebutuhan dalam negeri, terutama untuk pembangkit listrik.

Namun, Luhut menyebut saat ini pasokan batu bara untuk pembangkit listrik sudah memadai. "Sudah semua baik, jumlah hari itu kita sudah bertahap bisa 15 hari mengarah ke 25 hari, untuk cadangan," tuturnya.

Dengan dibukanya kembali keran ekspor, maka neraca dagang Indonesia bisa mempertahankan surplusnya. Tingginya harga batu bara menjadi salah satu pendongkrak neraca dagang hingga mencatat surplus selama 19 bulan beruntun hingga November lalu.

Surplus tersebut akan membantu transaksi berjalan (current account) Indonesia agar tidak mengalami defisit yang besar bahkan bisa mencatat surplus.

Defisit transaksi berjalan yang tidak besar atau jika bisa surplus akan memberikan dampak positif ke rupiah.

Ketika ekspor batu bara dilarang, surplus tentunya akan menyempit, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali defisit. Sebab Penjualan batu bara ke luar negeri tersebut rata-rata tiap bulan ditaksir bernilai US$ 1,4 - 1,7 miliar atau senilai Rp 20 - 24 triliun (kurs Rp 14.350/US$).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading