Ngeri! Begini Kekuatan Raksasa Digital di Balik Allo Bank

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 January 2022 12:25
INFOGRAFIS, Ekosistem Raksasa Pemilik Saham Allo Bank Pasca HMETD

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekosistem raksasa yang dimiliki para investor strategis berpotensi akan semakin memperkokoh bisnis bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) di masa mendatang. Para investor kelas kakap itu sendiri memiliki lini bisnis yang beragam, mulai dari ritel, e-commerce, jasa ride-hailing, sampai produk perjalanan.

Masuknya tujuh investor strategis tersebut terjadi seiring Allo Bank menggelar aksi korporasi penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMTED) atau rights issue bank milik pengusaha nasional Chairul Tanjung tersebut senilai Rp 4,80 triliun.

Ketujuh investor besar yang dimaksud adalah CT Corp, Grup Salim, Growtheum Capital Partners, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Grab, Traveloka, dan Carro. Empat nama terakhir adalah pemain besar di sektor teknologi dan ekonomi digital RI alias unicorn.


Unicorn adalah sebuah istilah untuk perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi US$ 1 miliar (Rp 14,3 triliun).

Menurut rilis pers Bank Allo, Rabu (5/1/2022), tujuan dari kerja sama antara Allo Bank dan para investor tersebut adalah untuk mengakselerasi ekspansi layanan penyaluran kredit di Indonesia.

Nantinya BUKA akan menggenggam 11,49% saham Allo Bank, Traveloka melalui Abadi Investments Pte. Ltd. mengempit 7,00%, Grab via H Holdings Inc menguasai 2,07%, dan Carro sebesar 0,69%.

Selain keempat perusahaan berbasis teknologi itu, investor anyar Allo Bank juga mencakup CT Corp milik Chairul Tanjung (akan memiliki 1,88% saham), konglomerat raksasa Grup Salim melalui PT Indolife Investama Perkasa (6,00% saham), dan perusahaan private equity asal Singapura Growtheum Capital Partners.

Masuknya perusahaan besar tersebut akan semakin membekali Allo Bank dengan ekosistem raksasa, demi mengakselerasi ekspansi layanan kredit di Indonesia. Ditambah, setelah rights issue, modal inti Allo Bank akan mencapai lebih dari Rp 6 triliun, salah satu bank digital dengan modal terbaik di Tanah Air.

Berikut ini Tim Riset CNBC Indonesia merangkum 'kekuatan' masing-masing investor strategis, termasuk perusahaan digital, yang menopang Allo Bank.

CT Corp

Pemilik Bank Allo, Chairul Tanjung, memiliki grup usaha yang berfokus pada layanan konsumen yang terintegrasi lewat CT Corp.

CT Corp bergerak di bidang layanan keuangan, media, ritel, hiburan, hingga gaya hidup.

Grup CT Corp mengoperasikan sejumlah stasiun televisi utama Tanah Air, perbankan, perusahaan asuransi, media digital, hotel, taman hiburan, mal, agen travel, sampai bisnis ritel dan fashion.

Di layanan keuangan, misalnya, selain Bank Allo yang pada tahun lalu resmi diakuisisi Mega Corpora, Grup CT Corp juga memiliki PT Bank Mega Tbk (MEGA) sampai Mega Insurance. Bank Mega sendiri diakuisisi CT Corp pada 1996 (sebelumnya bernama Bank Karman).

Menurut data resmi perusahaan, saat ini terdapat lebih dari 14.000 jaringan keuangan milik CT Corp, dengan 60 juta transaksi ritel tahunan, dan 1 juta pengunjung ritel.

Perusahaan yang sudah 37 tahun berkecimpung di dunia bisnis Tanah Air ini saat ini hadir di 56 kota dan 24 provinsi di Indonesia, dengan 2.000 outlet, dan 100.000 karyawan.

Selain itu, dalam rilis pers Allo Bank, Chairman CT Corp Chairul Tanjung menyebutkan, captive customer CT Corp diperkirakan mencapai lebih dari 100 juta pengguna (user).

Grup Salim

Kemudian, Grup Salim dikenal sebagai salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang merentang dari bisnis ritel, perbankan, otomotif, barang konsumen, perkebunan, sampai infrastruktur digital teknologi yang sedang berkembang dan platform bisnis digital.

Grup Salim adalah pemilik perusahaan produsen mie instan brand Indomie dan berbagai produk makanan dan minuman, yakni duo Indofood PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Selain itu, Grup yang didirikan oleh Sudono Salim tersebut juga masuk ke industri kelapa sawit lewat PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Di industri otomotif, Salim masuk lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) dan PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS). Indomobil adalah distributor merek mobil terkenal, seperti Suzuki, KIA, Audi, hingga Jaguar.

Tidak hanya itu, Grup yang sekarang dinakhodai Anthoni Salim itu memiliki bank bernama PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) yang dibeli pada 2017 silam.

Kemudian, di bisnis ritel, Grup Salim memiliki PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), pemilik gerai Indomaret.

Menurut website Indomaret, saat ini Indomaret memiliki gerai mencapai lebih dari 19.446 gerai. Sebagian besar pasokan barang dagangan untuk seluruh gerai berasal dari 22 pusat distribusi Indomaret yang menyediakan lebih dari 5.000 jenis produk.

Selain Indomaret, DNET juga menggenggam 35,84% perusahaan pengelola restoran cepat saji KFC PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST).

Masih ada investor kakap lainnya >>>

Begini 'Amunisi' Bukalapak, Grab, Traveloka dkk!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading