Allo Bank: Bank Digital yang 'Dibekingi' 4 Unicorn

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 January 2022 10:30
cover headline, allobank, ctcorp, bukalapak, carro, grav, traveloka, growtheum

Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi tawar PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) sebagai bank digital berpotensi akan semakin kuat ke depan. Ini lantaran bank digital milik pengusaha nasional Chairul Tanjung tersebut bakal ditopang oleh empat unicorn Tanah Air.

Keempat unicorn yang dimaksud adalah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Grab, Traveloka, dan Carro. Unicorn-unicorn tersebut akan berpartisipasi dalam aksi korporasi penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMTED) atau rights issue bank milik pengusaha nasional Chairul Tanjung tersebut senilai Rp 4,80 triliun.

Nantinya BUKA akan menggenggam 11,49% saham Allo Bank, Traveloka melalui Abadi Investments Pte. Ltd. mengempit 7,00%, Grab via H Holdings Inc menguasai 2,07%, dan Carro sebesar 0,69%.


Unicorn adalah sebuah istilah untuk perusahaan rintisan (startup) yang memiliki valuasi US$ 1 miliar (Rp 14,3 triliun).

Selain keempat perusahaan berbasis teknologi itu, investor anyar Allo Bank juga mencakup CT Corp milik Chairul Tanjung (akan memiliki 1,88% saham), konglomerat raksasa Grup Salim (6,00% saham), dan perusahaan private equity asal Singapura Growtheum Capital Partners.

Masuknya perusahaan besar tersebut akan semakin membekali Allo Bank dengan ekosistem raksasa, demi mengakselerasi ekspansi layanan kredit di Indonesia. Ditambah, setelah rights issue, modal inti Allo Bank akan mencapai lebih dari Rp 6 triliun, salah satu bank digital dengan modal terbaik di Tanah Air.

Keempat unicorn di atas memiliki lini bisnis beragam dan ceruk pasar andalannya masing-masing, mulai dari e-commerce, UMKM, ride-hailing dan antar makanan, layanan keuangan (termasuk paylater), produk perjalanan wisata, hingga jual-beli mobil online. Semuanya ada dalam satu aplikasi alias superapp.

Dengan demikian, Allo Bank akan diuntungkan dengan beragam lini bisnis di ekosistem digital keempat unicorn tersebut, yang pada gilirannya turut mendongkrak kinerja kredit dan keuangan perusahaan.

Selain itu, ada investor raksasa di balik unicorn-unicorn tersebut. Grab Holding Inc 'dibekingi' konglomerat manajemen investasi asal Jepang Softbank, Bukalapak dengan Grup Emtek (kepemilikan terbesar, 23,93%) dan Alibaba.

Asal tahu saja, Alibaba masuk Bukalapak lewat anak usaha Ant Group, API (Hong Kong) Investment Limited yang menggenggam 17,40% saham BUKA sebelum masa IPO, atau sebesar 13,05% pasca-IPO.

Kemudian, GIC Singapura, Sequoia Capital, JD.com, sampai Qatar Investment Authority berada di balik Traveloka.

Tidak ketinggalan, CARRO juga telah memperoleh pendanaan US$ 500 juta dari Softbank Vision Fund dan sejumlah fund asing.

Perusahaan digital memang sedang menunggangi tren ekonomi internet yang terus bertumbuh di Indonesia.

Nilai ekonomi internet Indonesia (berdasarkan GMV) juga masih memimpin di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Menurut data e-Conomy Sea 2021, ekonomi internet mencapai US$ 70 miliar pada 2021, naik 49% dibandingkan 2020 sebesar US$ 47 miliar. Adapun pada 2025, secara CAGR, ekonomi internet Indonesia diprediksi akan mencapai US$ 146 miliar.

Semua sektor mengalami pertumbuhan sebesar dua digit pada tahun 2021, dengan platform e-commerce yang menjadi pendorong utama. Ekonomi e-commerce RI tumbuh 52% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 53 miliar pada 2021.

Ruang untuk menuju inklusi keuangan memang masih sangat luas. Ini terlihat dari riset Google, Temasek, dan Bain & Company 2019 (dalam e-Conomy SEA 2019), hanya 25% dari 400 juta penduduk dewasa di Asia Tenggara, atau sebanyak 100 juta orang, sudah mendapat layanan perbankan penuh (banked).

Sebanyak 25% sisanya telah memiliki rekening bank, tapi belum mendapat akses layanan finansial (underbanked). Sisanya sebesar 50% belum tersentuh layanan finansial atau perbankan sama sekali (unbanked).

Khusus di Indonesia, riset tersebut menunjukkan bahwa 47 juta orang di Indonesia "underbanked" dan 92 juta "unbanked"--sejauh ini jumlah terbesar di Asia Tenggara.

Kekuatan Keempat Unicorn

Sebagai gambaran, saat ini Bukalapak juga memiliki lini bisnis O2O dengan brand Mitra Bukalapak, logistik dengan nama Bukasend, hingga keuangan dengan nama Bukatabungan.

Bukalapak saat ini melayani lebih dari 6,7 juta penjual online, 10,4 juta Mitra Bukalapak dan 100 juta pengguna.

Bersama Bukalapak, Allo Bank bisa berpeluang bekerja sama untuk meningkatkan akses pinjaman atau kredit digital di sektor UMKM pedesaan, termasuk Mitra Bukalapak. Belum lagi, tidak menutup kemungkinan pula bahwa ke depan Bukalapak juga akan memanfaatkan ekosistem ritel milik CT Corp, Transmart.

Kemudian, Grab, yang didirikan pada 2012, adalah superapp terkemuka dengan layanan jasa transportasi online, layanan keuangan digital, sampai layanan pesan antar makanan. Grab saat ini melayani jutaan pelanggan melintasi 465 kota di 8 negara di kawasan Asia Tenggara.

Selain di Indonesia, Grab juga hadir di Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, hingga Vietnam.

Menurut data milik Grab, secara total, ada 25 juta pengguna transaksi bulanan dan lebih dari 9 juta mitra pengemudi, mitra pedagang dan agen GrabKios terdaftar di seluruh jaringan Grab.

Lalu, Traveloka, salah satu lifestyle superapp terkemuka di Asia Tenggara, menawarkan sejumlah layanan kepada pengguna, seperti produk perjalanan, hotel, layanan lokal, dan layanan keuangan.

Traveloka menyediakan layanan pelanggan 24/7 dalam bahasa lokal serta lebih dari 40 metode pembayaran lokal yang berbeda. Superapp Traveloka telah diunduh lebih dari 60 juta kali, menjadikannya aplikasi travel dan lifestyle booking terpopuler di kawasan Asia Tenggara.

Selanjutnya, CARRO adalah salah satu platform jual beli mobil bekas terbesar di Asia Tenggara.

CARRO menjual berbagai merek mobil seperti Toyota, Nissan, Honda, Volkswagen, Audi, Mercedes Benz dan BMW.

Mengutip data di website resmi CARRO, saat ini lebih dari 9.800 transaksi jual beli mobil berhasil tercatat di CARRO, dengan nilai transaksi Rp 3,83 triliun.

Saat ini, CARRO memiliki 200 karyawan di seluruh Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

SepertiĀ dijelaksan di atas, tidak hanya para unicorn, Allo Bank juga akan disokong oleh ekosistem raksasa milik CT Corp dengan basis captive customer hingga 100 juta pengguna dan Grup Salim dengan berbagai jaringan ritel, teknologi, dan consumer goods miliknya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Dia Ekosistem Raksasa Pemilik Saham Allo Bank Pasca HMETD


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading