2021 in Review

Saham Bukalapak & Grab Longsor, GoTo Gimana?

Market - Riset, CNBC Indonesia
29 December 2021 06:45
Commuters wait for a train next to Grab transport booking service app advertisements at a train station in Singapore February 10, 2016.REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib nahas harus dialami oleh duo startup raksasa asal Asia Tenggara yang melantai di bursa saham yaitu PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan Grab Holdings. Kinerja saham kedua perusahaan rintisan tersebut malah ambles signifikan pasca melantai perdana di pasar modal.

BUKA, seperti yang kita tahu, merupakan emiten teknologi yang bergerak di sektor e-commerce. Startup yang digawangi Achmad Zaky satu dekade silam resmi menyandang status "Tbk" pada 6 Agustus lalu dan berhasil meraup pendanaan senilai hampir Rp 22 triliun.


Saat penawaran umum (IPO) saham BUKA dihargai Rp 850/unit. Hanya dua hari melesat, investor BUKA terutama yang membeli di harga atas, harus menanggung rugi yang besar lantaran harga sahamnya anjlok signifikan.

Pada perdagangan kemarin (28/12/2021) harga saham BUKA ditutup di level Rp 430/unit. Artinya jika seorang investor membelinya saat IPO dan menggenggamnya hingga kemarin, maka kerugian yang diderita mencapai 49,4%.

Setali tiga uang, saham startup yang bergerak di sektor ride hailing asal Singapura yakni Grab juga mengalami penurunan harga saham yang signifikan. Sebagai informasi, Grab melantai di bursa Nasdaq AS melalui mekanisme Special Purpose Acquisition Company (SPAC).

Dalam kasus Grab, perusahaan cek kosong yang melakukan akuisisi saham Grab adalah Altimeter Growth Corp (AGC).

Deal yang terjadi antara Grab dengan AGC resmi diselesaikan pada 1 Desember 2021. Total nilai proceeds dari transaksi ini mencapai US$ 4,5 miliar atau setara dengan Rp 64,35 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.350/US$.

Aksi korporasi berupa merger AGC dengan Grab tersebut tercatat memiliki nilai transaksi terbesar untuk emiten startup yang berasal dari kawasan Asia Tenggara di bursa AS.

Proses akuisisi Grab oleh AGC yang kemudian dikenal dengan sebutan business combination tersebut direstui oleh pemegang saham AGC pada 30 November 2021.

Saat listing pada awal Desember ini, saham Grab dibuka menguat hingga US$ 13,08/unit. Namun kinerja saham Grab justru ambles setelahnya.

Bahkan pada penutupan, saham Grab terjun ke level US$ 8,75/unit. Artinya harga saham Grab langsung ambles 33% dalam sehari.

Saham Grab sempat sideways beberapa hari sebelum akhirnya kembali melemah dan ditutup di level US$ 7,09/unit pada 27 Desember 2021. Artinya harga saham Grab telah terkoreksi 46% dari level tertingginya dan terjun 19% dari level penutupan saat debutnya melantai di Nasdaq.

Tentu fenomena ini juga mendapat perhatian dari para pelaku pasar. Pasalnya tahun depan ada beberapa startup yang juga berencana IPO di bursa domestik seperti GoTo yang merupakan super apps dan e-commerce hasil merger GoJek dengan Tokopedia yang diperkirakan akan menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar ketiga terbesar di BEI mengalahkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Selain GoTo ada juga startup yang bergerak di bidang aplikasi booking perjalanan online yakni Traveloka. Berdasarkan berbagai sumber valuasi Traveloka diperkirakan mencapai US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 39,5 triliun.

Namun jika melihat kinerja saham startup pasca listing yang melempem sejatinya ada beberapa skenario yang mungkin terjadi dan bisa menjelaskan mengapa kinerja saham IPO jumbo perusahaan rintisan seperti BUKA dan Grab bisa anjlok signifikan.

Pertama adalah kemungkinan adanya exit strategy dari investor lama. Sebagaimana diketahui bersama, investor lama startup adalah mereka venture capital yang berpartisipasi dalam berbagai seri pendanaan.

Tak bisa dipungkiri IPO memang salah satu strategi mengubah investasi mereka menjadi cuan alias Exit Strategy yang patut diperhitungkan mengingat investor lama dapat menjual sahamnya ke berbagai investor baik institusi seperti aset manajemen, asuransi, dana pensiun hingga retail di pasar modal. Inilah yang tak bisa dilakukan ketika private market.

Memang ada yang namanya lock up period di mana investor lama yang menggenggam porsi saham besar tidak bisa melepas mayoritas saham di pasar begitu saja, dimana dalam kasus BUKA, 90% saham dikunci selama 8 bulan. Namun setelahnya tentunya mereka bebas melakukan aksi jual.

Selain exit strategy, investor saham publik sebaiknya tidak FOMO dengan hype yang ada saat ini soal saham teknologi. Ada baiknya investor juga mempertimbangkan likuiditas di pasar.

Bayangkan saja nilai IPO yang besar ini akan benar-benar menyerap likuiditas di pasar. Jika size-nya terlalu besar dikhawatirkan likuiditas pun tak mencukupi untuk menyedot IPO terlalu jumbo.

Faktor ketiga yang perlu dipertimbangkan adalah time frame investasi. Model startup yang masih gencar bakar uang dengan bottom line minus ini akan cenderung berorientasi pada pengembangan ekosistem yang "oligopoli" bahkan "monopolistik" sehingga jangka waktunya haruslah panjang untuk benar-benar dapat mencetak untung dan membagi dividen.

Untuk saat ini IPO saham teknologi terutama startup dengan valuasi jumbo masih dielu-elukan. Namun bijaknya investor penting untuk mempertimbangkan ketiga aspek-aspek di atas.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menanti Keputusan Tapering, IHSG Bertahan di Zona Hijau


(trp/trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading