Ternyata Ini Durian Runtuh dari China yang Bikin RI Bahagia

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
26 December 2021 07:30
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia diuntungkan dari kenaikan harga komoditas internasional pada tahun ini, di mana komoditas ini mampu mendongkrak penerimaan negara. Hingga akhir bulan lalu, penerimaan negara telah mencapai Rp 1.699,4 triliun atau 97,5% terhadap target APBN.

Harga komoditas yang tinggi ini bagaikan mendapatkan 'durian runtuh' bagi komoditas ekspor unggulan Indonesia. Diantaranya adalah nikel, minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan karet.

Kenaikan harga ini membuat penerimaan negara dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam (SDA) migas naik 24,7% dan SDA Non-migas yang naik hingga 86,9% atau telah tembus target penerimaan di tahun ini.


Bukan hanya itu saja, ekonomi China yang berpotensi masih tumbuh tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia. Sebab, China adalah mitra ekonomi utama bagi Indonesia baik di sisi perdagangan maupun investasi.

Di sisi perdagangan, China adalah pasar ekspor terbesar buat Indonesia. Pada Januari-September 2021, nilai ekspor Indonesia ke China tercatat US$ 36,39 miliar atau setara dengan Rp 516,73 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$). Ini mencakup 22,14% dari total ekspor Indonesia. Artinya, lebih dari seperlima produk ekspor Tanah Air dikirim ke Negeri Panda.

Di sisi investasi, nilai Penanaman Modal Asing (PMA) dari China pada Januari-September 2021 mencapai US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 32,66 triliun. China menempati peringkat ketiga, hanya kalah dari Singapura dan Hong Kong.

Belum lagi kalau bicara kunjungan wisatawan. Sebelum pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19), wisatawan asal China adalah salah satu paling rajin berkunjung ke Nusantara.

Pada 2019, porsi kunjungan wisatawan China yang datang ke Indonesia adalah 12,01%. Hanya kalah dari Malaysia (18,51%) dan Singapura (12,86%). Sepanjang 2014-2019, rata-rata lama tinggal wisatawan China di Indonesia adalah 7,74 hari/kunjungan. Rata-rata pengeluaran per kunjungan adalah US$ 1.162,9 (Rp 16,5 juta).

Pada 2019, pengeluaran wisatawan China di Indonesia adalah US$ 1.114,48 (Rp 15,8 juta). Dari jumlah tersebut, 37,14% dipakai untuk keperluan akomodasi. Sementara 18,88% untuk makanan-minuman, 16,04% untuk transportasi, 16,89% untuk belanja, 1,12% untuk paket tur lokal, dan 9,93% untuk keperluan lainnya.

Namun, 'durian runtuh' dari sektor pariwisata ini akan sangat tergantung dari kemampuan Indonesia untuk mengendalikan pandemi Covid-19.

Jika pandemi semakin 'jinak', berbagai restriksi bisa dilonggarkan termasuk membuka pintu bagi para pelancong. Dengan begitu, wisatawan mancanegara bisa pelesiran di Ibu Pertiwi dan membawa berkah bagi jutaan rakyat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pekan Bergejolak Harga Komoditas


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading