Sri Mulyani Bilang 68% BUMN Bisa Bangkrut, Simak Data Ini!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
16 December 2021 16:25
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Press Statement: Kebijakan Cukai Hasil Tembakau 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali mengungkapkan fakta mengejutkan soal Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sri Mulyani menyebutkan, sebanyak 68% dari BUMN khususnya penerima suntikan modal menghadapi potensi bangkrut. 

Adapun BUMN tersebut, jelas Sri, biasanya menerima suntikan modal dari pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Kemungkinan bangkrut ini dipaparkan saat membedah kinerja BUMN penerima PMN tahun 2020 saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

"Dari sisi distress atau kemungkinan bangkrut ada 68% dari BUMN kita itu (bisa bangkrut) dan 32% nya masuk kategori aman," ungkapnya dalam raker Komisi XI, Rabu (15/12/2021).


Kemudian, jika dilihat dari rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/ DER), juga ditemukan bahwa BUMN penerima PMN sebagian besar mempunyai utang yang cukup tinggi dibandingkan rerata industrinya. Bahkan, kata Sri Mulyani, utang tersebut di atas rata-rata industrinya.

Sementara, yang sebanding dengan industrinya hanya 2%. Lalu, utang yang berada di bawah rata-rata industrinya tercatat sebanyak 34%.

Secara rule of thumb, DER suatu perusahaan biasanya dikatakan sehat apabila berada di bawah angka 1 atau 100%. Akan tetapi, tentunya angka tersebut ini berbeda-beda dari satu sektor ke sektor lainnya. Sebagai patokan, secara umum, batas wajar DER sendiri adalah 3 kali (300%) hingga 4 kali (400%).

"BUMN kita 55% itu debt-nya, utangnya berada di atas rata-rata dari industri di mana mereka berada," ujarnya.

Menurut data Sri Mulyani, alokasi dana untuk BUMN melalui PMN sepanjang 2005-2021 terbagi dalam tiga klaster yakni pendirian BUMN Rp 3 triliun, restrukturisasi BUMN Rp 12,7 triliun dan peningkatan kinerja BUMN Rp 345,6 triliun.

Lantas, bagaimana sebenarnya kondisi keuangan sejumlah BUMN yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

Dalam tulisan ini, Tim Riset CNBC Indonesia akan berfokus pada 20 emiten yang termasuk ke dalam indeks IDXBUMN20, dengan menggunakan laporan keuangan per kuartal III (Q3) 2021. Adapun emiten BUMN Karya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) baru merilis laporan keuangan per kuartal II 2021.

Dari 20 emiten BUMN tersebut, 5 emiten merupakan BUMN Karya atau konstruksi plus satu emiten semen, kemudian 7 emiten bank, 3 emiten tambang, dan empat sisanya beragam-mulai dari migas, telekomunikasi hingga farmasi.

Berikut tabel kinerja keuangan 20 emiten BUMN per kuartal III 2021.

Kinerja Keuangan 20 Emiten di BEI per Triwulan III 2021

Kode Ticker

Pendapatan Bersih Q3 2021

Perubahan YoY (%)

Laba Bersih Q3 2021

Perubahan YoY (%)

PTBA

Rp 19.38 T

50.84

Rp 4.77 T

175.90

ANTM

Rp 26.48 T

46.79

Rp 1.71 T

104.65

KAEF

Rp 9.49 T

34.74

Rp 301.93 M

711.71

PTPP

Rp 11.21 T

10.75

Rp 129.42 M

207.44

BJTM

Rp 4.78 T

9.95

Rp 1.19 T

7.81

BMRI

Rp 72.27 T

8.89

Rp 19.23 T

37.08

BRIS

Rp 13.29 T

6.87

Rp 2.26 T

37.01

TLKM

Rp 106.04 T

6.11

Rp 18.87 T

13.15

BBRI

Rp 91.01 T

6.00

Rp 19.26 T

36.41

BJBR

Rp 9.76 T

5.80

Rp 1.42 T

18.22

PGAS

US$ 2.25 M

4.80

US$ 286.21 Juta

437.41

JSMR

Rp 10.63 T

0.80

Rp 749.42 M

375.52

ELSA

Rp 5.72 T

-0.71

Rp 37.56 M

-79.92

SMGR

Rp 25.33 T

-1.15

Rp 1.39 T

-9.99

BBTN

Rp 16.79 T

-1.35

Rp 1.52 T

35.32

WIKA*

Rp 6.77 T

-5.13

Rp 83.42 M

-66.69

BBNI

Rp 37.52 T

-10.73

Rp 7.75 T

79.33

ADHI

Rp 7.35 T

-13.09

Rp 17.02 M

10.63

TINS

Rp 9.70 T

-18.73

Rp 611.99 M

Dari Rugi ke Untung

WSKT

Rp 7.13 T

-39.31

Rp 252.71 M

Dari Rugi ke Untung

Sumber: Laporan keuangan di BEI | *WIKA per kuartal II 2021

Apabila menilik data di atas, sebanyak 12 emiten berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih secara tahunan (year on year/YoY).

Emiten tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi emiten BUMN dengan pertumbuhan pendapatan tertinggi (50,84% secara yoy) di tengah booming harga batu bara sepanjang tahun ini.

Selain itu, ada 12 emiten juga yang sukses mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara yoy per akhir kuartal III 2021. Emiten farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan emiten migas PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) menduduki peringkat pertama pertumbuhan laba terbesar.

Lalu, di antara 8 emiten yang mengalami penurunan pendapatan, ada dua nama terbesar, yakni emiten tambang nikel PT Timah Tbk (TINS) dan BUMN Karya PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Namun, kendati terjadi penurunan pendapatan secara tahunan, kedua emiten tersebut berhasil membalik rugi bersih pada tahun lalu menjadi rugi bersih pada akhir September 2021.

Menyoal Rasio Utang Emiten Pelat Merah

Apabila menelisik rasio utang lewat DER, ada 12 emiten yang memiliki posisi DER sangat tinggi, yakni semua emiten dari sektor BUMN Karya dan perbankan.

Hanya saja, DER yang tinggi untuk sektor konstruksi dan perbankan seringkali dianggap wajar.

Untuk sektor konstruksi, misalnya, tinggi DER lazim terjadi lantaran tingginya modal kerja dan biaya operasi di awal proyek dan waktu pengembalian atas modal yang dikeluarkan juga relatif lebih lama.

Sementara, untuk sektor perbankan, DER tinggi terjadi karena memiliki model usaha berupa simpan pinjam. Dana dari nasabah atau dana pihak ketiga (DPK) terhitung sebagai utang yang membuat DER sebuah bank menjadi tinggi. Bahkan, beberapa DER emiten bank tergolong tinggi sekali, seperti DER PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang mencapai 940,76% atau 9,4 kali.

Namun, biasanya, yang lebih diperhatikan dalam menganalisis keuangan perbankan adalah rasio lainnya, seperti Capital Adequacy Ratio (CAR), rasio kecukupan modal hingga posisi kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) dan beberapa nama lagi. Adapun sejauh ini, kedua indikator tersebut tergolong aman.

Apa Kabar Posisi DER BUMN Karya?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading