Ada Tuntutan Hukum Mati di Pasar Modal, Ini Kata OJK dan BEI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
09 December 2021 14:40
Ilustrasi Foto OJK

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperbaiki governance lintas lembaga untuk menghindari terjadi kembali masalah hukum di lembaga jasa keuangan. Ini salah satunya untuk menghindari agar tidak lagi terjadi masalah hukum hingga tuntutan hukuman mati di pelaku jasa keuangan Indonesia.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK Luthfi Zain Fuady mengatakan dia menyebutkan kasus seperti yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) merupakan permasalahan yang tak hanya melibatkan pasar modal, namun juga berhubungan dengan institusi keuangan non-bank.

"Akan dirumuskan governance untuk lembaga jasa keuangan yang kakinya dua. Pengelolanya akan dilihat lagi lebih dalam. Kebijakan investasinya bagaimana karena ada sebagian yang dikelola di pasar modal, jadi governancenya mesti bagus dan clear, itu mesti dilakukan," kata Luthfi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/12/2021).


Sejalan dengan itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi juga mengharapkan dengan adanya hukuman seperti ini, ke depan tidak akan terjadi tindakan yang sama di pasar modal.

"Mudah-mudahan itu kasus terakhir di pasar modal dan tidak ada lagi yang semacam itu," kata dia di kesempatan yang sama.

Untuk diketahui, Heru Hidayat yang merupakan tersangka dari kasus korupsi Asabri dituntut pidana hukuman mati atas keterlibatannya.

Tuntutan hukuman mati ini sendiri merupakan yang pertama kali dalam kasus yang terkait dengan transaksi dan manipulasi di pasar modal. Sebelumnya hanya ada satu narapidana lain yang pernah dituntut pidana mati atas kasus korupsi dan itu terjadi di lembaga keuangan lain.

Dalam kasus ini, Heru dan komplotannya juga menempatkan dana ke saham-saham gorengan, ini dilakukan dengan harga yang telah dimanipulasi sehingga bernilai tinggi. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kinerja portofolio investasi Asabri terlihat baik.

Kemudian saham-saham non-likuid itu sendiri dimanipulasi sedemikian rupa agar terlihat ramai berpindah tangan dengan cara melakukan transaksi semu yakni saham dijual dan dibeli oleh pihak yang sama dengan nominee (nama alias) yang berbeda agar tidak terdeteksi oleh regulator.

Tuntutan mati yang diajukan Jaksa kepadanya salah satunya dikarenakan besarnya kerugian yang ditanggung oleh negara yang juga mengakibatkan begitu banyak orang seperti anggota TNI, Polri dan ASN/PNS di Kemenhan yang menrupakan peserta di PT. ASABRI menjadi korban.

Sebelumnya dia juga telah diputus hukuman seumur hidup atas kasus korupsi di Jiwasraya. Dia juga diharuskan mengembalikan uang pengganti kerugian negara senilai Rp 10,72 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

OJK: Nilai Penawaran Umum di Pasar Modal Kalahkan Kredit Bank


(mon/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading