Analisis

Omicron Sudah Sampai di Amerika, Rupiah Bisa Menguat Hari Ini

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 December 2021 06:45
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hingga perdagangan Rabu kemarin, rupiah sudah tidak pernah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) dalam 8 hari bertuntun. Rincinannya 6 kali melemah dan 2 kali stagnan.

Sementara pada perdagangan hari ini, Kamis (2/12) rupiah berpeluang untuk menguat. Sebab, indeks dolar AS tidak terlalu kuat meski ketua The Fed, Jerome Powell yang mengatakan bisa mempercepat laju tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

"Saat ini perekonomian sangat kuat dan inflasi juga sangat tinggi, oleh karena itu menurut pandangan saya akan tepat jika mempertimbangkan menyelesaikan tapering lebih cepat, mungkin beberapa bulan lebih awal," kata Powell di hadapan Senat AS, sebagaimana diwartakan CNBC International, Selasa (30/11).


Apalagi, ketidakpastian akan perekonomian Negeri Paman Sam semakin meningkat setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengumumkan menemukan kasus Omicron pertama di Amerika Serikat.

Omicron kini dikhawatirkan akan cepat menyebar, apalagi di Afrika Selatan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) kini didominasi varian Omicron, hanya 4 pekan setelah kasus pertama ditemukan.

Jika sampai menyebar di Amerika Serikat, ada risiko akan berdampak ke perekonomian, sementara The Fed akan mengurangi stimulus moneter guna meredam inflasi. Pengurangan stimulus bisa memperlambat roda perekonomian, sehingga Negeri Adikuasa diliputi ketidakpastian. 

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR masih tertahan di rerata pergerakan 200 hari (moving average 200/MA 200) di kisaran Rp 14.340/US$. Artinya sudah empat hari beruntun MA 200 menahan pelemahan rupiah.

Level tersebut akan menjadi kunci pergerakan rupiah hari ini. Jika level tersebut ditembus, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.385/US$. Jika hari ini mengakhiri perdagangan di atas MA 200, maka tekanan bagi rupiah akan semakin besar.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian bergerak naik dan mulai masuk ke wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Ketika USD/IDR mencapai overbought, maka kemungkinan akan berbalik turun.

Selama bertahan di bawah MA 200, rupiah berpeluang menguat menuju MA 100 di kisaran Rp 14.300/US$ hingga Rp 14.290/US$. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading