Ada Pemain Kakap Borong Bitcoin Rp 5,88 T, Buat Apa?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
30 November 2021 09:15
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by André François McKenzie on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan yang bergerak di bidang business intelligence dan data analytics asal Amerika Serikat (AS) MicroStrategy mengumumkan kembali membeli aset kripto (cryptocurrency) bitcoin (BTC) selama kuartal keempat tahun ini.

Melansir Cointelegraph, Selasa (30/11), CEO Microstrategy Michael Saylor mengumumkan lewat akun Twitternya, perusahaan telah membeli 7.002 bitcoin senilai US$ 414,4 juta atau setara dengan Rp 5,88 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$) di harga rata-rata pembelian US$ 59.187 per koin.


Dengan demikian, hingga Senin (29/11), Microstrategy memiliki total sekitar 121.044 bitcoin yang diperoleh dengan harga pembelian agregat US$ 3,57 miliar (Rp 50,69 triliun) dan harga pembelian rata-rata sekitar US$ 29.534 per bitcoin, termasuk biaya dan pengeluaran.

Seiring dengan pembelian bitcoin tersebut, MicroStrategy menjual 571.001 saham perusahaan antara 1 Oktober dan 29 November 2021 dengan harga masing-masing US$ 732,16, menghasilkan total US$ 414,4 juta dalam bentuk tunai.

Detail pembelian transaksi tersebut dijelaskan dalam pernyataan resmi perusahaan yang melantai di bursa saham Nasdaq AS tersebut kepada pihak OJK-nya AS atau SEC (Securities and Exchange Commission).

Dengan total kepemilikan jumbo tersebut, tidak mengherankan MicroStrategy dijuluki oleh penggemar kripto sebagai whale (paus) alias individu atau entitas yang memegang bitcoin/kripto lain dalam jumlah besar. Para whale dianggap, dengan kepemilikan kripto jumbonya, bisa menggerakkan harga pasar secara signifikan.

Mengacu pada penjelasan Coinmarketcap, saat ini salah satu whale bitcoin terbesar di dunia kripto adalah pencipta bitcoin yang misterius Satoshi Nakamoto. Sementara, dari sisi investor institusi, Tesla dan MicroStrategy tampil menonjol dalam daftar whale raksasa karena mereka memiliki ratusan ribu bitcoin.

Menurut catatan Cointelegraph, pada Agustus 2020, perusahaan dengan kode ticker saham MSTR tersebut menyatakan pihaknya akan mengadopsi Bitcoin sebagai treasury reserve asset atau aset yang digunakan untuk menyimpan kelebihan dana moneter pada waktu tertentu.

Dalam situs resminya, MIcroStrategy mengklaim sebagai "perusahaan publik pertama yang mengadopsi bitcoin sebagai treasury reserve asset'.

MicroStrategy juga menyebutkan, mata uang digital sebagai "penyimpan nilai yang dapat diandalkan" dan investasi yang menarik dengan potensi pengembalian jangka panjang yang lebih besar daripada memegang uang tunai.

Memang, apabila menilik laporan keuangan perusahaan, per Juni 2020 MicroStrategy tercatat mulai memiliki bitcoin. Pada Juni 2020, perusahaan yang berdiri sejak 1989 tersebut mencatatkan kepemilikan 38.250 bitcoin senilai US$ 425 juta.

Kemudian, perusahaan kembali memborong 32.219 bitcoin pada September 2020. Selanjutnya, per Desember 2020 setelah kembali membeli 20.857 bitcoin lagi, total nilai tercatat (carrying amount/value--dihitung dari biaya pembelian aset dikurangi akumulasi penyusutan) aset yang dimiliki perusahaan mencapai US$ 1,05 triliun.

Sejak itu, MicroStrategy hampir secara konsisten membeli Bitcoin setiap kuartal.

Seperti dijelaskan Cointelegraph, umumnya, investor sehari-hari menderita kerugian saat harga Bitcoin turun dan bakal untung saat harga terapresiasi. Namun, itu belum tentu berlaku untuk MicroStrategy.

Menurut transkrip konferensi pendapatan yang diterbitkan bulan lalu, Phong Le, presiden dan kepala keuangan MicroStrategy, mengatakan bahwa kepemilikan Bitcoin perusahaan diklasifikasikan sebagai "aset tidak berwujud yang berumur tidak terbatas berdasarkan aturan akuntansi yang berlaku."

Secara sederhana, Ini berarti bahwa setiap saat setelah akuisisi, jika nilai wajar--atau nilai pasar--bitcoin turun di bawah nilai bukunya, perusahaan perlu mengakui biaya penurunan nilai. Nantinya, biaya penurunan nilai ini kemudian dapat digunakan untuk mengimbangi kewajiban pajak penghasilan badan secara legal.

Sementara, berdasarkan data Coinmarketcap, pukul 08.09 WIB, harga bitcoin, yang merupakan kripto dengan kapitalisasi pasar paling jumbo saat ini, turun 0,27% ke US$ 57.721,78/koin setelah kemarin berhasil rebound di atas 5%. Adapun koin kripto raksasa lainnya masih menghijau pagi ini, seperti ethereum (ETH) yang naik 3,29% ke US$ 4.503,50/koin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

ETF Bitcoin Futures Pertama Mulai Diperdagangkan di AS


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading