Rupiah Tak Jadi Melemah, Tapi Siap-Siap Besok "Boom"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 November 2021 15:40
Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia) Foto: Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sepanjang perdagangan hari ini tertahan di zona merah melawan dolar Amerika Serikat (AS). Di akhir perdagangan rupiah membaik dan berakhir stagnan, tetapi tetap waspada besok akan terjadi "boom" alias pergerakan besar rupiah. Entah itu merosot atau malah menguat tajam, semua tergantung rilis data inflasi AS malam ini.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,07% ke Rp 14.265/US$. Depresiasi rupiah bertambah hingga 0,14% ke Rp 14.275/US$ yang menjadi level terlemah hari ini. Mata Uang Garuda bergerak di dekat level tersebut nyaris sepanjang perdagangan, sebelum memangkas pelemahan beberapa menit sebelum perdagangan berakhir.

Saat penutupan, rupiah berada di Rp 14.255/US$, rupiah stagnan alias sama persis dengan posisi akhir perdagangan kemarin.


Bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan mempercepat laju tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) serta menaikkan suku bunga lebih awal membuat rupiah sulit menguat.

Dalam pengumuman kebijakan moneter awal bulan ini, The Fed mengumumkan mulai melakukan tapering sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya. Tapering langsung dimulai bulan ini, dengan nilai QE saat ini sebesar US$ 120 miliar, maka perlu waktu 8 bulan hingga menjadi nol, atau QE berakhir pada bulan Juni tahun depan. Hal itu lah yang ingin dipercepat oleh Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller.

Waller menyerukan agar The Fed melipat gandakan tapering sehingga bisa berakhir di bulan April tahun depan dan bisa menaikkan suku bunga di kuartal II-2022.

"Pemulihan pasar tenaga kerja yang cepat serta tingginya inflasi mendorong saya untuk melakukan tapering lebih cepat dan tidak lagi menerapkan kebijakan akomodatif di 2022," kata Waller sebagaimana diwartakan Reuters, Jumat (22/11).

Sejak muncul isu dipercepatnya tapering dan kenaikan suku bunga, rupiah jadi kesulitan menguat.Data inflasi Amerika Serikat bisa memperkuat isu tersebut.

Inflasi AS versi personal consumption expenditure (PCE) yang akan dirilis mala mini merupakan acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan suku bunga.

Inflasi inti PCE diprediksi tumbuh 4,1% year-on-year (YoY) di bulan Oktober, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,6% YoY yang merupakan level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Semakin tinggi inflasi PCE makan spekulasi laju tapering akan dipercepat akan semakin menguat. Spekulasi kenaikan suku bunga lebih cepat juga akan menyusul, dan rupiah berisiko terpuruk besok. Sebaliknya, jika ada kejutan dimana inflasi tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya, rupiah berpotensi melesat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading