Ini Alasan Rupiah Hanya Melemah Tipis Saat Dolar AS "Ngamuk"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 November 2021 12:40
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah tertahan di zona merah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Selasa (23/11). Jerome Powell yang kembali dipilih untuk memimpin bank sentral AS (The Fed) membuat dolar AS "mengamuk". Meski demikian, pelemahan rupiah terbilang masih wajar, bahkan bisa dikatakan cukup kuat meski The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga lebih awal dari ekspektasi pasar.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,04% ke Rp 14.250/US$. Depresiasi rupiah kemudian membesar menjadi 0,21% ke Rp 14.275/US$. Posisi rupiah sedikit membaik pada pukul 12:00 WIB berada di Rp 14.270/US$ atau melemah 0,18% di pasar spot.

Di sisa perdagangan hari ini rupiah masih sulit untuk bangkit, terlihat dari pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang sedikit lebih lemah siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 11:54 WIB
1 PekanRp14.255,50Rp14.260,5
1 BulanRp14.278,00Rp14.286,0
2 BulanRp14.324,00Rp14.339,5
3 BulanRp14.373,00Rp14.383,0
6 BulanRp14.531,00Rp14.539,0
9 BulanRp14.681,00Rp14.678,0
1 TahunRp14.841,00Rp14.832,0
2 TahunRp15.340,00Rp15.369,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Presiden AS, Joe Biden, resmi menominasikan Jerome Powell untuk melanjutkan periode kepemimpinannya di The Fed yang berakhir Februari 2022.

Sebelumnya muncul wacana Powell akan diganti, sebab ada beberapa elit Partai Demokrat yang tidak setuju dengan Powell. Wacana tersebut semakin menguat setelah Biden mewawancarai Powell dan calon lainnya Lael Brainard.

Brainard saat ini menjabat Dewan Gubernur The Fed, dan dianggap lebih dovish ketimbang Powell. Seandainya ia yang dipilih, maka pasar melihat suku bunga rendah akan ditahan lebih lama. Tetapi dengan Powell kini melanjutkan periode kedua kepemimpinannya proyeksi kenaikan suku bunga di semester II-2022 masih berada pada jalurnya, bahkan bisa lebih awal lagi untuk meredam inflasi. Hal tersebut terlihat dari melesatnya yield obligasi AS (Treasury) tenor 10 tahun sebesar 8,43 basis poin ke 1,6322%, yang memicu kenaikan indeks dolar AS sebesar 0,5% ke 96,5 yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2020.

Meski dolar AS sedang kuat-kuatnya, nyatanya pelaku pasar malah mengurangi posisi beli (long) Mata Uang Paman Sam ini.

Data dari Commodity Futures Trading Commision (CFTC) yang dirilis Jumat lalu menunjukkan posisi net long pada pekan yang berakhir 16 November turun menjadi US$ 18,3 miliar, dari pekan sebelumnya US$ 18,75 miliar.

Posisi net long tersebut merupakan dolar AS melawan yen, euro, poundsterling, franc, dolar Kanada, dan dolar Australia.

Sementara untuk posisi dolar AS melawan mata uang yang lebih luas posisi net long turun menjadi US$ 17,98 miliar dari sebelumnya US$ 18,58 miliar, dan sudah turun dalam 5 pekan beruntun.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan rupiah cukup kuat melawan dolar AS meski The Fed sudah melakukan tapering di bulan ini.

Selain itu, fundamental dari dalam negeri juga cukup bagus. Bank Indonesia (BI) memiliki cadangan devisa yang cukup besar untuk melakukan intervensi, kemudian defisit transaksi berjalan diperkirakan tidak akan besar, bahkan mencatat surplus di kuartal III-2021.

Selain itu, kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia juga tidak sebesar di 2013, saat ini di kisaran 23%. Sehingga ketika taper tantrum terjadi, capital outflow tidak akan semasif 2013.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading