Menguat di Kurs Tengah BI, Rupiah juga Terbaik di Asia

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 November 2021 15:55
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah perkasa melawan dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan awal pekan ini, Senin (15/11). Mata uang Garuda menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI), dan di pasar spot menjadi yang terbaik di Asia.

Melansir data dari BI, kurs tengah rupiah atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini berada di Rp 14.206/US$, menguat 0,26% dibandingkan posisi Jumat pekan lalu.

Sementara itu di pasar spot, rupiah menguat 0,16% ke Rp 14.210/US$. Meski penguatan rupiah tidak besar, tetapi hingga pukul 15:16 WIB, tidak ada mata uang utama Asia yang lebih baik dari rupiah.


Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Rupiah sukses mempertahankan penguatan hari ini setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor Indonesia pada Oktober 2021 mencapai US$ 22,03 miliar, naik 53,35% secara year-on-year (YoY) dan 6,89% dibandingkan bulan sebelumnya.

Realisasi ini juga membawa ekspor Indonesia kembali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sementara impor dilaporkan mencapai US$ 16,29 miliar, naik 51,06% YoY.

Dengan nilai ekspor dan impor tersebut, surplus neraca perdagangan Indonesia pada bulan Oktober sebesar US$ 5,74 miliar. Surplus tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya US$ 4,74 miliar yang tercatat pada Agustus lalu.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia sebelumnya memperkirakan ekspor tumbuh 46,06%, sedangkan impor tumbuh 58,35%, dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,89 miliar.

Selain mencatat rekor, neraca perdagangan Indonesia sudah mengalami surplus dalam 18 bulan beruntun.

Surplus neraca perdagangan akan sangat membantu kinerja transaksi berjalan. Saat transaksi berjalan semakin sehat, maka nilai tukar rupiah akan lebih stabil.

Sementara itu, yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang melemah melawan dolar AS, meski pelemahannya tipis dan masih mungkin berbalik arah. Sementara melawan rupiah, yen melemah 0,2% ke Rp 124,74/JPY.

Posisi yen melawan rupiah sebenarnya sudah lebih baik ketimbang bulan lalu. Pada 20 Oktober, yen menyentuh Rp 122,67/JPY, yang merupakan level terlemah sejak 21 Feberuari 2020, atau sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) melanda dunia.

Jepang kembali mengalami lonjakan kasus (Covid-19) di kuartal III-2021, bahkan menjadi yang terparah sepanjang pandemi. Alhasil pembatasan sosial kembali diketatkan, sehingga perekonomiannya kembali berkontraksi. Tetapi kontraksinya di kuartal III-2021 ternyata jauh lebih dalam dari prediksi.

Data dari Cabinet Office Jepang menunjukkan produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi (tumbuh negatif) 0,8% dari kuartal II-2021 (quarter-to-quarter/QtQ). Sementara pada periode kuartalan yang disetahunkan, kontraksi diperkirakan sebesar 3%.

Rilis tersebut jauh di bawah hasil polling Reuters menunjukkan PDB mengalami kontraksi 0,2% QtQ, dan, minus 0,8% periode kuartalan yang disetahunkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Angin Berbalik Arah, Rupiah Bisa Jeblok ke Rp 14.450/US$


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading