Analisis Teknikal

Neraca Dagang Surplus US$ 5,7 Miliar, Sesi 2 IHSG Bisa Naik!

Market - Putra, CNBC Indonesia
15 November 2021 13:13
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,32% ke level 6.629,79 hingga sesi istirahat siang ini, Senin (15/11/2021).

Indeks sempat dibuka menguat di awal perdagangan. Namun selang tak berapa lama indeks berbalik arah. Pada perdagangan intraday hari ini IHSG bergerak di rentang terendahnya 6.615,55 dan tertingginya 6.675,59.

Saat koreksi melanda indeks, terpantau ada 158 saham menguat, 364 melemah dan 148 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 6,87 triliun dan asing mulai membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 248,76 miliar.


Mengawali pekan ini IHSG ambles setelah di akhir pekan lalu ditutup dengan koreksi 0,6%. Ada indikasi profit taking masih berlanjut. Maklum IHSG sudah sempat menyentuh level All Time High (ATH) sehingga koreksi wajar memang diperlukan.

Sentimen seputar inflasi di AS dan China memang masih menjadi kecemasan tersendiri. Salah satu penyebab kenaikan inflasi di berbagai negara di belahan dunia adalah kenaikan harga komoditas.

Namun sebagai negara eksportir komoditas, naiknya harga dan permintaan justru menguntungkan karena dapat meningkatkan ekspor. Di sisi lain mobilitas yang terbatas membuat impor tak akan naik signifikan. Alhasil Indonesia berhasil mencatatkan surplus dari pos perdagangan internasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekspor Indonesia tumbuh 53,35% year on year (yoy) dan impor naik 51,06% yoy membuat neraca dagang RI surplus US$ 5,7 miliar bulan lalu. Tren surplus neraca dagang masih berlanjut jelang pengujung 2021.

Surplus neraca dagang diharapkan bakal menjadi modal untuk memperbaiki transaksi berjalan RI yang selama ini tekor. Perbaikan transaksi berjalan diharapkan mampu membuat rupiah lebih kuat dan stabil.

Stabilitas rupiah setidaknya menjadi modal yang akan membuat investor asing melirik aset-aset keuangan dalam negeri karena mata uang yang stabil membuat risiko berinvestasi di suatu negara menjadi lebih minim.

Setelah drop 0,32% di sesi I, bagaimana prospek IHSG Sesi II? Apakah sentiment surplus neraca dagang yang besar mampu mengangkat indeks? Berikut ulasan teknikalnya.

Analisis Teknikal

TeknikalFoto: Putra
Teknikal

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode jam (hourly) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat posisi penutupan IHSG, maka indeks harus melewati level resisten terdekatnya di 6.665 untuk membentuk tren bullish.

Sementara itu indeks harus melewati level support terdekatnya di level 6.627 untuk mengalami tren bearish.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 41,92 dan cenderung berada di zona netral. Namun pola RSI tampak cenderung naik. Dengan adanya sentimen positif dari neraca dagang diharapkan mampu membawa IHSG memangkas koreksi di sesi II.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading