Efek Inflasi Tinggi Cenderung Pudar, Dow Futures Naik Tipis

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
11 November 2021 20:10
Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis (11/11/2021), menyusul aksi jual saham teknologi di tengah kenaikan inflasi.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 40 poin (+0,1%) dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq juga menguat, masing-masing sebesar 0,4% dan 0,7%.

Saham Disney anjlok lebih dari 5% di sesi pra-pembukaan setelah perseroan melaporkan kinerja laba bersih dan pendapatan kuartal III-2021 yang meleset dari perkiraan pasar. Jumlah pelanggan Disney+ juga tidak sesuai dengan ekspektasi.


Mayoritas indeks acuan bursa pada Rabu kemarin melemah setelah inflasi dilaporkan lebih tinggi dari perkiraan pasar, sehingga memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi. Kenaikan tersebut akan memukul kinerja saham teknologi yang memang rakus dengan pendanaan berbasis utang.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 240 poin, S&P 500 drop 0,8%, Nasdaq ambles 1,7%. Pemberatnya adalah saham Meta Platforms (induk usaha Facebook), Amazon, Apple, Netflix, Microsoft da Alphabet (induk usaha Google). Indeks saham kapitalisasi pasar kecil Russell 2000 juga drop, sebesar 1,6%.

Indeks harga konsumen (IHK) AS dilaporkan melesat 6,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), atau lebih panas dari estimasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 5,9%. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak 1990. Secara bulanan, inflasi naik 0,9% atau di atas estimasi pasar sebesar 0,6%.

Di sisi lain, pemerintah China melaporkan IHK naik 1,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) di bulan Oktober, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,7% YoY serta dibandingkan hasil polling Reuters terhadap para ekonom yang memprediksi 1,4% YoY.

"Inflasi masih tinggi, mengejutkan banyak pihak yang memperkirakan indeks harga konsumen akan melemah segera," tutur Ryan Detrick, Kepala Perencana Pasar LPL Financial seperti dikutip CNBC International.

Pembatasan sosial di ekonomi senilai US$ 20 triliun tersebut, lanjut dia, akan memberikan dampak lonjakan inflasi ketika ekonomi kembali pulih. Kenaikan inflasi tersebut memicu pertaruhan bahwa suku bunga acuan akan dinaikkan lebih cepat, yakni pada Juli tahun depan.

Di tengah situasi demikian, investor menghindari risiko gerusan inflasi dengan memburu aset-aset yang anti-inflasi seperti emas dan bahkan mata uang kripto.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Abaikan Shutdown, Dow Futures Menguat 94 Poin


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading