SMAR & AALI Jadi Jawara Pencetak Cuan Emiten CPO

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
04 November 2021 11:50
Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat. Kamis (13/9). Kebun Kelapa Sawit di Kawasan ini memiliki luas 1013 hektare dari Puluhan Blok perkebunan. Setiap harinya dari pagi hingga siang para pekerja panen tandan dari satu blok perkebunan. Siang hari Puluhan ton kelapa sawit ini diangkut dipabrik dikawasan Cimulang. Menurut data Kementeria Pertanian, secara nasional terdapat 14,03 juta hektare lahan sawit di Indonesia, dengan luasan sawit rakyat 5,61 juta hektare. Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan volume ekspor 2017 sebesar 33,52 juta ton. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah penguatan harga CPO (crude palm oil) yang sudah terjadi sejak awal tahun ini, emiten perkebunan kelapa sawit dan perdagangan produk turunannya kembali mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan serta laba pada kuartal ketiga tahun 2021.

Kinerja cemerlang emiten sawit didorong oleh meningkatnya pendapatan perusahaan akibat naiknya harga minyak mentah kelapa sawit dunia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), enam emiten sawit telah menyampaikan kinerja keuangannya untuk kuartal III-2021, masing-masing adalah emiten milik Grup Astra PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), emiten Grup Sinarmas PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Mahkota Group Tbk (MGRO) serta emiten milik Grup Sampoerna PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).


Selain itu duo emiten milik TP Rachmat PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga telah menyampaikan laporan keuangan interim perusahaan.

Emiten sawit milik Grup Sinarmas memimpin baik itu dari total pendapatan maupun laba bersih yang berhasil dibukukan pada sembilan bulan pertama tahun ini.

Pendapatan SMAR tercatat naik 43% menjadi Rp 40,38 triliun dari semula sebesar Rp 28,02 triliun pada akhir September tahun lalu. Laba perusahaan juga melonjak hingga 736% menjadi Rp 1,79 triliun dari sebelumnya hanya sebesar Rp 214,72 miliar.

Penjualan ekspor dan dalam negeri SMAR nyaris sama besarnya yakni senilai Rp 19,93 triliun dan Rp 20,45 triliun. Penjualan ekspor didominasi oleh produk kelapa sawit kepada pihak berelasi sebesar Rp 14,75 triliun. Pos pendapatan ini juga merupakan yang mengalami pertumbuhan terbesar, meningkat lebih dari 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan dari dalam negeri didominasi oleh penjualan produk kelapa sawit kepada pihak ketiga senilai Rp 14,42 triliun.

Selanjutnya ada emiten Grup Astra yang membukukan pendapatan Rp 18,01 triliun hingga akhir kuartal ketiga tahun ini, tumbuh 35% dari periode yang sama tahun lalu sejumlah Rp 13,32 triliun. Laba bersih AALI juga tercatat melonjak 152% menjadi Rp 1,45 triliun dari sebelumnya hanya sebesar Rp 582,55 miliar.

Kinerja paling impresif dicatatkan oleh emiten sawit Grup Mahkota yang mampu meningkatkan pendapatan hingga 88% menjadi Rp 4,77 triliun dari sebelumnya hanya sebesar Rp 2,53 triliun. Kenaikan tersebut akhirnya mampu mengerek kinerja laba perusahaan yang semula mengalami kerugian kini mampu memperoleh keuntungan Rp 49,51 miliar.

Emiten Sawit Grup Sampoerna juga membukukan kinerja cemerlang. SGRO mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,90 triliun, tumbuh 73% dari pendapatan sembilan bulan pertama tahun lalu sejumlah Rp 2,26 triliun.

Hal tersebut akhirnya mampu mengerek laba bersih perseroan yang tercatat meroket naik 2.768% menjadi Rp 509,66 miliar dari semula hanya sebesar Rp 17,77 miliar. Selain peningkatan pendapatan efisiensi beban pokok penjualan yang dilaksanakan perusahaan juga merupakan dorongan utama pertumbuhan kinerja laba. Tercatat tahun ini porsi beban pokok penjualan perusahaan dari total pendapatan turun menjadi 69,50% dari semula mencapai 79,61%.

Terakhir adalah duo perusahaan pengusaha TP Rachmat, yang meski naiknya tidak sefantastis kompetitornya, masih mengalami perbaikan kinerja keuangan yang cukup impresif.

Pendapatan TAPG dan DSNG masing-masing tercatat tumbuh 25% menjadi Rp 4,45 triliun dan 15% menjadi Rp 5,05 triliun.

Laba bersih DSNG naik 154% menjadi Rp 415,88 miliar, sedangkan laba bersih TAPG meningkat 186% menjadi Rp 713,16 miliar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Laba Sampoerna Agro Q3 Meroket Nyaris 3.000%, kok Bisa?


(fsd/fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading