Bitcoin-Ethereum Lesu Terus, Kripto Big Cap Lainnya Ngacir!

Market - chd, CNBC Indonesia
04 November 2021 09:55
An alleged infiltrated paints a graffiti on a bank during a protest against the use of Bitcoin as legal tender and legal reforms to extend president Nayib Bukele's term in San Salvador, El Salvador, September 15, 2021. REUTERS/Jose Cabezas

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) bergerak menguat pada perdagangan Kamis (4/11/2021) pagi waktu Indonesia, di mana investor kripto cenderung mengabaikan sentimen dari pengurangan pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS).

Melansir data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari sepuluh kripto berkapitalisasi pasar di atas US$ 30 miliar, hanya bitcoin, ethereum, dan dogecoin yang mengalami pelemahan harga pada pagi hari ini.

Bitcoin cenderung terkoreksi yakni sebesar 1,1% ke level harga US$ 62.389,88/koin atau setara dengan Rp 892.175.284/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.300/US$), ethereum merosot 1,2% ke level US$ 4.558,83/koin atau Rp 65.191.269/koin, dan dogecoin ambles 1,8% ke US$ 0,2678/koin (Rp 3.830/koin).


Sementara sisanya diperdagangkan di zona hijau pada pagi hari ini. Koin digital XRP (ripple) memimpin penguatan kripto berkapitalisasi pasar di atas US$ 30 miliar pada hari ini, yakni meroket 9,36% ke US$ 1,24/koin (Rp 17.732/koin).

Sedangkan penguatan paling minor dibukukan oleh kripto binance coin yang menguat 1,5% ke US$ 562,03/koin (Rp 8.037.029/koin).

Berikut pergerakan 10 kripto dengan kapitalisasi pasar di atas US$ 30 miliar.

Kripto

Meskipun bitcoin cenderung terkoreksi, tetapi secara menyeluruh, koin digital berkapitalisasi pasar lebih dari US$ 1 triliun tersebut masih cenderung bertahan di range harga level US$ 60.000-US$ 63.000.

Seperti di pasar saham, investor di pasar kripto juga cenderung mengabaikan kabar dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya atau tapering off pada bulan ini.

Walaupun cenderung mengabaikan, namun di bitcoin, harganya sempat ambles hingga 5% setelah The Fed mengumumkan hal tersebut, meskipun pada akhirnya pembeli bitcoin dengan cepat masuk di level support US$ 60.000.

Sejak pandemi virus corona (Covid-19) menghantam Negeri Paman Sam tahun lalu, Ketua The Fed, Jerome Powell dan koleganya memutuskan pemberian stimulus untuk merangsang ekonomi AS.

Selain memangkas suku bunga acuan hingga hampir 0%, The Fed juga memborong surat berharga senilai US$ 120 miliar per bulan.

Namun kini, dengan ekonomi AS yang semakin pulih, The Fed merasa jumlah stimulus itu sudah bisa dikurangi. Sebagai awalan, pembelian aset dipangkas US$ 15 miliar menjadi US$ 105 miliar.

"Dengan mempertimbangkan kemajuan substansial yang terjadi, Komite memutuskan untuk mulai mengurangi besaran pembelian aset sebanyak US$ 10 miliar untuk obligasi pemerintah dan US$ 5 miliar untuk aset beragun kredit properti (mortgage-backed securities). Mulai bulan ini, Komite memutuskan melakukan pembelian obligasi pemerintah senilai US$ 70 miliar dan mortgage-backed securites US$ 35 miliar.

"Mulai Desember, nilai pembelian obligasi pemerintah akan menjadi US$ 60 miliar sedangkan mortgage-backed securities US$ 30 miliar. Komite menilai pengurangan dengan kecepatan itu sepertinya layak untuk dilakukan setiap bulannya, meski bisa disesuaikan tergantung outlook ekonomi," ungkap keterangan tertulis The Fed.

Tapering tentu akan membuat likuiditas di pasar keuangan AS (dan dunia) berkurang. Semestinya ini menjadi pukulan berat buat pasar, utamanya pasar berbasis risiko seperti saham dan kripto.

Tetapi, tapering tahun ini cenderung berbeda dan tidak akan membawa malapetaka seperti pada 2013-2015. Sebab, seperti yang sudah disampaikan, komunikasi The Fed berjalan dengan baik sehingga pasar punya waktu untuk menyesuaikan diri.

"Pelaku pasar sudah lama memasukkan faktor tapering dalam perhitungan (priced-in). Sebab, The Fed sudah lama melakukan komunikasi dan menyampaikan rencana mereka berbulan-bulan lalu," kata Danielle DiMartino Booth, CEO Quill Intelligence yang berbasis di Texas (AS), seperti dikutip dari Reuters.

Powell pun menegaskan bahwa jika nanti ada perubahan dalam kecepatan tapering, maka akan dikomunikasikan dengan baik.

"Kami tidak akan mengejutkan pasar kalau harus mengubah kecepatan tapering. Kami akan menyampaikan berbagai perubahan secara transparan," tutur Powell dalam jumpa pers usai rapat, seperti diberitakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bitcoin Mulai Lesu, Harga Binance Coin Meroket 12% Lebih


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading