Saham Konstruksi-Properti 'Ngamuk', Berani Jajal Hari Ini?

Market - Putra, CNBC Indonesia
04 November 2021 07:10
Workers of The Jakarta Mass Rapid Transit construction take their lunch at Sudirman Business District in Jakarta, Indonesia, April 13, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang pengumuman tapering atau pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS, Federal Reserve (the Fed), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,91% ke level 6.552,13 pada perdagangan Rabu kemarin (3/11/2021).

Penguatan indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ditopang oleh berbagai sektor, utamanya konstruksi dan properti.

Saham emiten konstruksi dan sektor pendukungnya sukses menghijau pada perdagangan kemarin. Jawara di sektor konstruksi ada PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dengan kenaikan harga saham mencapai 5,77% dalam sehari di level Rp 1.100/saham.


Untuk sektor konstruksi memang belum ada katalis positif. Namun sejak pekan kedua bulan lalu harga saham-saham konstruksi BUMN Karya cenderung downtrend dengan pelemahan lebih dari 10%.

Penurunan yang cukup signifikan dalam waktu singkat ini dinilai menjadi momentum tepat untuk kembali melakukan aksi beli. Sehingga kenaikan harga saham-saham konstruksi lebih mencerminkan faktor teknikal dan psikologis pasar yang melihat harga sudah turun drastis.

Konstruksi

Harian

ADHI

+5,77% di Rp 1.100

SMGR

+5,57% di Rp 9.475

WIKA

+3,69% di Rp 1.265

PTPP

+3,45% di Rp 1.200

INTP

+2,11% di Rp 12.100

JSMR

+1,70% di Rp 4.190

WSKT

+1,66% di Rp 920

Kenaikan harga saham konstruksi juga turut mengerek naik sektor terkait yakni properti. Bahkan indeks saham properti melesat 1,33% kemarin. Tren pergerakan harga saham properti juga mengikuti emiten konstruksi yang downtrend sejak pekan kedua Oktober.

Properti

% Harian

SMRA

+5,41% di Rp 975

CTRA

+4,33% di Rp 1.085

ASRI

+2,75% di Rp 187

LPKR

+2% di Rp 153

PWON

+1,98% di Rp 515

APLN

+1,45% di Rp 140

BSDE

+1,35% di Rp 1.125

SSIA

+1,24% di Rp 490

Secara umum faktor pemicu rebound harga saham konstruksi dan properti lebih diakibatkan oleh tren penurunan harga sahamnya. Sehingga momentum saat ini lebih mencerminkan fenomena bottoming up.

Namun kemungkinan penguatan harga saham-saham tersebut hanya akan berlangsung temporer saja.

Ada kecenderungan volatilitas yang tinggi berlanjut akibat sentimen tapering dan faktor musiman IHSG yang biasanya ambles di bulan November mengingat musim rilis laporan keuangan berakhir.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saham-saham Konstruksi Mulai Bergerak Liar, Ada Apa?


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading