BRI Setop Sisa Penerbitan Obligasi Rp 15 T, Ini Alasannya!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
02 November 2021 15:15
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali menunjukan tajinya sebagai perusahaan dengan manajemen terbaik khususnya di bidang HR atau SDM. BRI memperoleh penghargaan internasional bergengsi yakni sebagai salah satu tempat bekerja terbaik di Asia atau Best Companies to Work For in Asia. Penghargaan diberikan oleh HR Asia Media, media di bidang HR profesional terpercaya di Asia.

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memutuskan untuk menghentikan sisa program penerbitan obligasi berkelanjutan (PUB) III dengan target emisi yang diterbitkan senilai Rp 20 triliun.

Pertimbangannya karena perusahaan menilai saat ini kebutuhan pendanaannya bisa dipenuhi dari dana pihak ketiga (DPK).

Berdasarkan pengumuman yang disampaikan perusahaan, dalam PUB III tersebut perusahaan telah menerbitkan sebanyak Rp 5 triliun untuk tahap 1 pada 2019 lalu, sehingga sisa plafon Rp 15 triliun tidak akan diterbitkan oleh perusahaan.


Keputusan ini telah ditetapkan oleh perusahaan per 29 Oktober 2021 lalu.

Manajemen BBRI menyatakan, terdapat dua poin yang menjadi pertimbangan perusahaan untuk menghentikan penerbitan surat utang ini, yakni pertumbuhan DPK yang diproyeksikan mampu mendukung pemenuhan kewajiban jangka pendek maupun pertumbuhan kredit serta hasil Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) meningkatkan likuiditas perusahaan.

September lalu, BBRI memang melakukan rights issue dengan perolehan dana keseluruhan mencapai Rp 96 triliun.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah telah mengeksekusi 16,1 miliar HMETD miliknya pada 13 September 2021 melalui inbreng saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) senilai Rp 54,77 triliun.

Sedangkan dari investor publik, BBRI meraih dana tunai sebesar Rp 41 triliun.

Dengan rights issue dan inbreng ini, maka Pegadaian dan PNM menjadi anak usaha BRI.

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan dialihkannya saham pemerintah di Pegadaian dan PNM ke BRI sehingga Pegadaian dan PNM jadi anak usaha BRI itu dilakukan demi membentuk Holding BUMN Ultra Mikro (UMi).

Pada rights issue September lalu, BRI menetapkan harga pelaksanaan rights issue tersebut sebesar Rp 3.400 per saham.

Berdasarkan prospektus rights issue, saat itu BRI akan menawarkan sebanyak-banyaknya 28.213.191.604 saham seri B dengan nominal Rp 50 per saham.

Untuk diketahui, obligasi dalam PUB III Tahap 1 yang diterbitkan BRI pada 2019 lalu dilakukan dengan 3 seri yaitu Seri A bertenor 1 tahun, Seri B bertenor 3 tahun dan Seri C bertenor 5 tahun.

Obligasi Seri A ditawarkan Rp 1,125 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,65% per tahun, Obligasi Seri B sebesar Rp 2,934 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,60% per tahun, dan Seri C Rp sebesar Rp 2,844 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,85% per tahun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading