Kabar Buruk China Bertubi-tubi, Rupiah Tembus Rp 14.200/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 October 2021 09:32
Ilustrasi Dollar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/10). Terus melemahnya rupiah menandakan berakhirnya kampanye menembus Rp 14.000/US$, setidaknya untuk saat ini. Tekanan bagi rupiah datang dari China yang mengirim akan buruk bertubi-tubi.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,07% ke Rp 14.180/US$. Setelahnya rupiah melemah hingga 0,25% ke Rp 14.205/US$ pada pukul 9:13 WIB. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 13 Oktober lalu.

Rupiah sebelumnya mencatat penguatan yang signifikan di bulan ini, sempat menyentuh Rp 14.020/US$ pada 19 Oktober lalu. Tetapi setelahnya, rupiah perlahan terus membukukan pelemahan.


Ekonom dari Societe Generale memperkirakan, reli rupiah sudah meredup dan giliran dolar AS yang akan perkasa. Meski demikian, tingginya harga komoditas masih membuat rupiah bertahan dan tidak mengalami pelemahan tajam.

"Tingginya harga komoditas yang membuat surplus neraca perdagangan membesar membantu rupiah tetap risilien. Tapering The Fed (bank sentral AS) sudah diantisipasi pasar saat ini. Tetapi, menipisnya selisih yield menjadi risiko bagi rupiah, saat inflow di pasar obligasi Indonesia lemah," kata ekonomi tersebut, sebagaimana dilansir FX Street, Rabu (27/10).

Ekonom tersebut melihat Bank Indonesia (BI) belum akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sementara The Fed sudah berancang-ancang melakukan normalisasi, sehingga spread yield akan menipis.

"Inflasi di Indonesia masih rendah, kami yakni ruang normalisasi suku bunga Bank Indonesia masih terbatas. Dalam konteks perbedaan kebijakan moneter dengan The Fed, rupiah akan dirugikan dalam jangka menengah. Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga pada semester II tahun depan," tambahnya.

Sementara itu China kembali memunculkan kecemasan bagi pasar finansial global. China kembali mengalami kenaikan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19). Dalam sepekan terakhir, rata-rata pasien positif bertambah 44 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata tujuh hari sebelumnya yaitu 28 orang saban harinya.

Secara nominal, angka penambahan kasus di Negeri Tirai Bambu memang kecil. Namun pemerintah China menganut kebijakan tiada toleransi untuk urusan Covid-19 (zero Covid-19 strategy).

Jadi walau angka kecil, tren kenaikan sudah cukup buat pemerintah memberlakukan lockdown.

Hal tersebut tentunya membuat sentimen pelaku pasar cukup memburuk, mengingat China merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Selain itu, sektor properti China juga memberikan kecemasan. Satu lagi perusahaan properti kesulitan membayar kewajibannya, menyusul Evergrande Group, Fantasia Holdings dan Sinic Holdings, yakni Modern Land.

Reuters mengabarkan bahwa emiten bursa Hong Kong tersebut telah melewatkan pembayaran kupon obligasi, menambah kekhawatiran tentang dampak yang lebih luas dari krisis utang di sektor properti China.

Pekan lalu Modern Land telah menyatakan akan menunda pembayaran bunga obligasi yang jatuh tempo Senin, 25 Oktober kemarin dan akan membayar sebagian darinya senilai US$ 250 juta atau setara dengan Rp 3,62 triliun dalam 3 bulan ke depan.

Kabar dari China tersebut membuat sentimen pelaku pasar memburuk, yang berdampak negatif bagi rupiah pagi ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading