Astaga! IHSG Keluar dari Zona Psikologis 6.600, Asing Cabut

Market - Putra, CNBC Indonesia
28 October 2021 09:14
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka drop 0,36% ke level 6.578,53 pada perdagangan hari ini, Kamis (28/10/2021).

IHSG lanjut koreksi pada 09.05 WIB dengan penurunan 0,49% ke level 6.570,51. Asing tercatat melepas kepemilikan sahamnya ketika IHSG terkoreksi. Hal ini tercermin dari net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 43 miliar.

Saham yang banyak dikoleksi asing adalah saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy masing-masing sebesar Rp 5 miliar dan Rp 3,3 miliar.


Sedangkan saham yang banyak dilepas asing adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell masing-masing sebesar Rp 32,6 miliar dan Rp 12,1 miliar.

Pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) diprediksi akan melambat pada kuartal III-2021, karena pasokan barang belum terserap optimal, sementara harga komoditas energi menguat dan penyerapan tenaga kerja belum optimal.

Polling Dow Jones memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan sebesar 2,8% ketika petang hari nanti diumumkan oleh Departemen Perdagangan AS. Meski masih terhitung menguat, catatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) itu akan menjadi yang terlemah di era pemulihan pandemi.

Bahkan, ada kemungkinan ekonomi tak bertumbuh sama sekali pada kuartal kemarin, mengingat platform GDPNow milik bank sentral (Federal Reserve/The Fed) Atlanta menurunkan estimasinya menjadi 0,2%.

Dari Jepang, Bank of Japan (BoJ) hari ini akan menggelar rapat dewan gubernur, dan diprediksi akan menahan suku bunga acuan. Tidak ada yang mengagetkan di sini, kecuali proyeksi bahwa inflasi bakal meninggi meski permintaan masih lemah.

Bank sentral Jepang tersebut diprediksi akan mempertahankan target inflasi di bawah 2% dalam 2 tahun ke depan, sehingga diprediksi akan menjadi bank sentral yang paling lama mempertahankan suku bunga acuan rendah.

Kenaikan harga komoditas telah mendorong inflasi Negeri Matahari Terbit tersebut ke level tertinggi dalam 13 tahun pada September. Namun, inflasi tersebut didorong oleh suplai (supply push) dan bukan permintaan yang meningkat (demand pull).

Kombinasi proyeksi ekonomi di AS yang kurang menggairahkan, pelemahan harga minyak, dan proyeksi inflasi yang masih tinggi seperti dikhawatirkan bank sentral Jepang, akan menekan sentimen pelaku pasar hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cek! 10 Saham Tercuan di Mei, Ada yang Melesat Ratusan Persen


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading