Gegara Suku Bunga, Poundsterling Bakal Tembus Rp 20.000/GBP?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 October 2021 11:18
Ilustrasi Poundsterling Inggris (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling sedang menanjak melawan rupiah sepanjang Oktober, setelah sebelumnya merosot hingga menyentuh level terendah 7 bulan pada akhir September lalu.

Bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) yang diramal akan menaikkan suku bunga pada pekan depan menjadi pemicu pengguatan poundsterling.

Pada perdagangan Rabu (27/10), pukul 10:24 WIB poundsterling menguat 0,29% melawan rupiah ke Rp 19.535/GBP. Sepanjang bulan ini, penguatannya tercatat sebesar 1,3%. Poundsterling kini berjarak sekitar 2,4% dari level psikologis Rp 20.000/GBP yang terakhir dicapai pada awal Agustus lalu.


BoE akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (4/11) pekan depan, dan pasar memperkirakan ada probabilitas sebesar 60% BoE akan menaikkan suku bunga sebesar 15 basis poin menjadi 0,25%.

Bukan tanpa sebab, probabilitas tersebut muncul setelah Gubernur BoE, Andrew Bailey, dua pekan lalu mengatakan tengah bersiap untuk menaikkan suku bunga guna meredam laju inflasi.

Bailey mengatakan inflasi yang tinggi di Inggris hanya bersifat sementara, tetapi dengan kenaikan tajam harga energi, inflasi bisa semakin tinggi dan dalam waktu yang lama.

"Kebijakan moneter tidak bisa menyelesaikan masalah dari sisi supply (yang memicu inflasi), tetapi tetapi bank sentral harus bertindak jika kita melihat risiko, khususnya inflasi dalam jangka menengah begitu juga dengan ekspektasinya" kata Bailey, saat diskusi panel online, Minggu (17/10).

"Dan itulah mengapa Bank of England memberikan sinyal kenaikan suku bunga, dan ini sinyal yang lainnya. Tetapi tentunya kami akan bertindak saat rapat kebijakan moneter," tambahnya.

BoE memprediksi inflasi akan melewati 4%, lebih tinggi dua kali lipat ketimbang target 2%.

Sementara di Indonesia, inflasi justru masih rendah. Pada Jumat (1/10/2021) Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulan September tumbuh 1,6% year-on-year. Rendahnya inflasi tersebut sebenarnya memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga.

Tetapi, jika suku bunga kembali diturunkan, rupiah berisiko mengalami tekanan. Sehingga BI masih mempertahankan suku bunga 3,5% sejak Februari lalu.

BI mengindikasikan baru akan menaikkan suku bunga pada tahun 2023. Artinya spread suku bunga dengan BoE akan menyempit, sehingga ada risiko kurs poundsterling terus menanjak melawan rupiah.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading