Wow! Harga Minyak Mentah Melesat 9 Pekan, RI Cuan Gede?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 October 2021 14:30
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Laju kenaikan harga minyak mentah masih belum terbendung. Tercatat komoditas itu sudah mencatat kenaikan sembilan pekan beruntun. Minyak mentah bahkan masih mampu menguat saat harga batu bara ambrol.

Melansir data Refinitiv, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sepanjang pekan ini naik 1,8% ke US$ 83,76/barel. Sebelumnya sempat menyentuh US$ 84,25/barel yang merupakan level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Dalam sembilan pekan, minyak mentah sudah melesat lebih dari 34%.

Sementara minyak jenis Brent naik 0,8% ke 85,53/barel, setelah sempat menyentuh US$ 86,1/barel yang merupakan level tertinggi sejak September 2018.


oil

Kenaikan harga minyak mentah di pekan ini dipicu ketatnya suplai di Amerika Serikat (AS). Energi Information Administration (EIA) pada hari Rabu melaporkan persediaan minyak mentah di Cushing Oklahoma turun hingga menjadi 31,2 juta barel. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018.

"Jelas ada kekhawatiran persediaan sedang menyusut, hal itu kita lihat di pusat pengiriman WTI di Cushing," kata analis ING sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (22/10).

Ketatnya supply di Negeri Paman Sam tersebut membuat minyak mentah terus menanjak meski batu bara jeblok. Sebelumnya, kenaikan ratusan persen harga batu bara turut memicu kenaikan minyak mentah.

Tingginya harga batu bara terjadi akibat krisis listrik di beberapa negara. Tetapi harga batu bara yang sangat mahal membuat perusahaan pembangkit listrik banyak yang beralih ke tenaga disel dan minyak mentah.

Harga baru bara acuan Ice Newcastle Australia untuk kontrak bulan November ambrol nyaris 21% selama pekan ini ke US$ 191/ton. Sebelumnya batu bara mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 270/ton pada 5 Oktober lalu. Jika dilihat dari rekor tersebut, batu bara sudah jeblok nyaris 30%.

Jebloknya harga batu bara terjadi setelah Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China pada Selasa lalu mengungkapkan tengah mempelajari langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengintervensi harga batu bara. Mereka akan melakukan segala upaya agar harga kembali ke kisaran yang masuk akal.

Pemerintah China sudah memberikan persetujuan bagi 153 penambang untuk meningkatkan produksi. Alhasil, di pekan ini tingkat produksi naik 4% per hari dibandingkan bulan lalu menjadi 11,6 juta ton.

Analis dari ING menyatakan jebloknya harga batu bara tersebut akan menghilangkan salah satu faktor yang bisa menopang penguatan harga minyak mentah.

Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah di tahun ini juga memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Dalam simulasi sensitivitas APBN terhadap perubahan indikator ekonomi makro, kenaikan harga minyak justru menguntungkan. Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 1/barel, belanja negara memang bertambah Rp 3,5 triliun. Akan tetapi penerimaan negara bertambah lebih banyak yaitu Rp 4,4 triliun baik dari pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dengan demikian, net surplus dari kenaikan harga minyak adalah Rp 0,9 triliun.

Pada September 2021, rata-rata ICP ada di US$ 72,7/barel, tertinggi sejak Oktober 2018. Sepanjang Januari-September, rata-rata ICP adalah US$ 65,21/barel, melonjak 63,51% dibandingkan rerata sembilan bulan pertama 2020.

Asumsi ICP dalam APBN 2021 adalah US$ 45/barel. Jadi realisasi Januari-September sudah ada kenaikan US$ 20,21 dari asumsi tersebut.

Secara ceteris paribus, setiap kenaikan ICP sebesar US$ 1 akan membuat APBN 'untung' Rp 0,9 triliun. Jadi, kalau harga naik US$ 20,21 dari asumsi, maka APBN 2021 mendapat 'berkah' Rp 18,19 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading