The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun Depan, RI Aman?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 October 2021 17:55
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell leaves after his news conference after a Federal Open Market Committee meeting in Washington, U.S., December 19, 2018. REUTERS/Yuri Gripas

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) sebentar lagi akan mulai menormalisasi kebijakan moneternya. Pertama, program pembelian aset (quantitative easing/QE) senilai US$ 120 miliar per bulan akan mulai dikurang perlahan (tapering). Setelah selesai, maka tahap selanjutnya adalah menaikkan suku bunga.

Tapering sudah pasti akan dilakukan tahun ini, entah bulan depan atau di bulan Desember. Pasar memperkirakan The Fed akan mengurangi nilai QE sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya, sehingga akan membutuhkan waktu 8 bulan hingga QE akhirnya nol.

Sementara untuk suku bunga, spekulasi berkembang akan dinaikkan pada bulan September tahun depan, sebab Amerika Serikat sedang mengalami inflasi tinggi. Bukan sekedar spekulasi, para anggota The Fed juga membuka peluang kenaikan suku bunga di tahun depan.


idrFoto: Fed Dot Plot 

Setiap akhir kuartal, The Fed akan memberikan proyeksi suku bunganya, terlihat dari dot plot. Setiap titik dalam dot plot tersebut merupakan pandangan setiap anggota The Fed terhadap suku bunga.

Dalam dot plot yang terbaru, sebanyak 9 orang dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini melihat suku bunga bisa naik di tahun depan. Jumlah tersebut bertambah 7 orang dibandingkan dot plot edisi Juni. Saat itu mayoritas FOMC melihat suku bunga akan naik di tahun 2023.

Namun, survei terbaru dari Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memprediksi bank sentral pimpinan Jerome Powell ini baru akan menaikkan suku bunga di tahun 2023.
Reuters mengadakan survei terhadap 67 ekonom pada periode 12 sampai 18 Oktober, hasilnya sebanyak 40 orang memprediksi suku bunga baru akan dinaikkan pada tahun 2023.

idrFoto: Refinitiv

Jika dipecah, sebanyak 29% memprediksi suku bunga akan dinaikkan di kuartal I-2023, kemudian 18% di kuartal II-2023, dan berturut-turut di kuartal berikutnya sebanyak 1% dan 11%.

Sementara itu, sebanyak 28% dari 67 ekonom melihat suku bunga bisa dinaikkan di kuartal IV-2022, dan 11% di kuartal III-2022.

"Kami tetap memperkirakan The Fed masih akan bersabar. Kami melihat suku bunga tidak akan dinaikkan hingga akhir 2023, tetapi waktu tepatnya akan sangat tergantung dair rilis data ekonomi," kata Jim O'Sullivan, kepala strategi makro di TD Securities, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (20/10).

Inflasi di AS yang sangat tinggi menjadi perhatian. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bahkan memperingatkan bank sentral di berbagai negara untuk bersiap menaikkan suku bunga agar inflasi tidak lepas kendali.

Inflasi di Amerika Serikat yang dilihat dari consumer price index (CPI) berada di level tertinggi dalam 13 tahun terakhir, sebesar 5,4% year-on-year (YoY).

Sementara jika dilihat dari personal consumption expenditure (PCE) berada di level tertinggi dalam 3 dekade terakhir. Di bulan Agustus, inflasi PCE Inti tumbuh 3,6% YoY.
O'Sullivan mengatakan inflasi inti masih akan naik, tetapi tidak akan membuat The Fed menaikkan suku bunga.

"Kami sedikit menaikkan proyeksi inflasi inti, yang merefleksikan ketidakseimbangan antara supply dengan demand. Ya inflasi untuk tahun 2021 masih akan naik, tetapi kebijakan The Fed harus sesuai dengan arah perekonomian," kata O'Sullivan.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Tak Seperti 2013, RI Kini Siap Hadapi Normalisasi Kebijakan The Fed?

Tak Seperti 2013, RI Kini Siap Hadapi Normalisasi Kebijakan The Fed?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading