'Disentil' Jokowi, Erick Ungkap Biang Kerok Masalah BUMN RI

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 October 2021 11:08
Jokowi Bertemu Bos BUMN (Laily Rachef Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan permasalahan yang terjadi di BUMN mulai dari jumlahnya yang terlalu banyak, hingga fokus bisnis perusahaan BUMN yang sudah tidak ada (core business).

Bahkan hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada Erick, dalam pertemuan dengan jajaran petinggi perusahaan BUMN, Sabtu (16/10) pekan lalu di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

"Sesuai dengan arahan Bapak Presiden ketika beliau memberikan amanah kepada saya, di mana BUMN ini terlalu besar, terlalu besar sehingga sulit diawasi, lalu juga terlalu banyak bisnisnya sehingga tidak ada fokusnya," kata Erick dalam Grand Launching Produk Pangan dan Non Pangan BUMN secara virtual, Selasa (19/10/2021).


Selain itu, Erick mengungkapkan masalah sumber daya manusia (human capita) juga menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi BUMN. Sebab, dengan adanya HC yang mumpuni akan dapat melakukan perubahan terhadap perusahaan.

"Dan juga human capital-nya, tidak mungkin kita bertransformasi secara bisnis model ataupun jenis usaha tanpa ada transformasi HC, itu bohongan saja. Kita justru kuncinya di people, ini yang harus menjadi kunci kita," terangnya lagi.

Untuk itu, Erick secara tegas mengatakan kembali kepada jajaran manajemen BUMN, khususnya BUMN pangan, untuk melakukan transformasi. Jika transformasi tidak dilakukan, maka dia tidak akan segan-segan untuk merombak manajemen perusahaan.

Erick mengungkapkan, penggantian manajemen ini sudah terjadi di banyak BUMN. Bukan berdasarkan pada suka atau tidak suka terhadap manajemen sebelumnya, namun karena tidak terjadinya transformasi di perusahaan tersebut.

"Saya akan sangat serius memantau pangan satu tahun ke depan, dan mohon maaf yang tidak ikut transformasi pastinya akan saya bongkar, akan saya ganti, dan ini sudah terjadi di banyak BUMN. Jadi ga kaleng-kalengan ngomongnya, saya pastikan saya ganti. Tetapi bukan karena suka dan tidak suka," tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menyampaikan langsung bahwa dirinya sudah menginstruksikan untuk menggabungkan, mengkonsolidasikan, dan mereorganisasi BUMN yang dinilai saat itu sudah sangat terlalu banyak sejak tujuh tahun yang lalu.

"Ada 108 (BUMN), sekarang sudah turun menjadi 41. Ini sebuah pondasi yang sangat baik dan diklasterkan itu juga baik. Yang paling penting ke depan yang kita bangun adalah nilai-nilai, core value," jelas Jokowi saat memberikan arahan kepada para Direktur Utama BUMN di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, seperti dikutip dalam tayangan Youtube Sekretariat Presiden.

Jokowi mengatakan, sudah sejak 7 tahun lalu, dirinya sudah menginstruksikan untuk menggabungkan, mengkonsolidasikan, dan mereorganisasi BUMN yang dinilai saat itu sudah sangat terlalu banyak.

Terkait dengan BUMN pangan, Jokowi meluapkan kekesalannya kepada BUMN pangan lantaran Indonesia memiliki tanah yang luas tapi perencanaan di perusahaan BUMN soal hal ini masih belum maksimal.

"Sudah diprediksi ada terjadi krisis pangan. Ini kesempatan kita karena punya tanah luas, tapi yang merancang ya jangan yang kecil-kecil lah. BUMN hanya buat kecil-kecilan," katanya.

"Udah buat kecil-kecil gak jadi lagi. Buat yang gede sekali, berpartner," tambahnya.

"Namun kalau kita sendiri pertama butuh modal besar, kedua butuh teknologi. Kita gak punya kemampuan kesana makanya cari partner," katanya.

"Itu baru satu lokasi, belum lokasi lainnya yang memungkinkan membuat food estate, entah beras, jagung, singkong, dan lain-lain. tapi ya itu orientasinya jangan proyek saja. Dihitung lalu dikalkulasi," Katanya.

Jokowi mengatakan saat ini pemerintah sudah membuka pintu untuk mendatangkan partner baru untuk industri pangan. Namun belum direspons baik oleh perusahaan.

"Saya sering malu udah buka-bukan pintu, tapi gak ada respons ke sana. Itu investasi memang ribuan triliun, tapi kalau mau gede kita harus berpikiran gede," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading