Jorjoran Bunga 'Selangit', Awas Ini Risiko Bank Digital!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
19 October 2021 07:01
Sedangkan dari sisi volume Bank BRI mampu mencatatkan 4.617 triliun Rupiah meningkat 57% dibandingkan periode yang sama ditahun 2020, bahkan jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, terjadi peningkatan sebesar 68% (YoY Juni 2019 – Juni 2021).

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyedia layanan bank digital semakin gencar mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan dan ketentuan bank digital yang termuat dalam POJK 12/2021 tentang Bank Umum pertengahan Agustus lalu.

Upaya ini dilakukan dengan memberi promo berupa bunga simpanan hingga 7% dan bunga deposito hingga 8% per tahun kepada nasabah yang membuka rekening tabungan.

Saat ini, berdasarkan catatan CNBC Indonesia, sejumlah bank bertranformasi menjadi bank digital yang disokong pula oleh para konglomerasi.


Sebut saja, Grup Djarum, melalui PT Bank Digital BCA (Blu), Grup GoTo, melalui PT Bank Jago Tbk (ARTO), Grup CT Corp yang dimiliki pengusaha nasional Chairul Tanjung juga menyiapkan bank digitalnya, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI).

Di luar nama itu, ada PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang sahamnya dikendalikan PT Akulaku Silvrr Indonesia, yang terafiliasi dengan perusahaan milik Jack Ma, Ant Financial, dan Seabank milik e-commerce raksasa Shopee, dengan SeaBank Indoensia, dari nama sebelumnya Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE).

Terkait dengan bunga, berdasarkan laman resmi Seabank, divisi perbankan Sea Group di Indonesia ini memberikan promo bunga simpanan mencapai 7% kepada nasabah yang mendaftar hingga 30 September 2021. Bunga tersebut diberikan tanpa minimum jumlah tabungan, jangka waktu, maupun biaya yang harus dipenuhi.

Besaran bunga tersebut berada di atas bunga yang dijaminkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 3,50%, akan tetapi di luar promo sebenarnya suku bunga yang ditawarkan Seabank adalah sebesar 4% per tahun, sudah memenuhi syarat penjaminan LPS.

Sejalan dengan fokus bank digital pada tahap awal yakni menggenjot penghimpunan dana (funding), jangan heran apabila calon bank digital berlomba menawarkan keuntungan paling atraktif kepada nasabah agar menyimpan dananya di bank tersebut. Salah satu hal yang ditawarkan adalah bunga simpanan dan deposito yang tinggi.

Selain Seabank, bank digital milik fintech Akulaku juga terlihat sangat agresif dalam menjaring calon nasabah demi mengumpulkan dana.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dalam postingan di Instagram mengumumkan bahwa perseroan menawarkan bunga tabungan 6% per tahun serta bunga deposito yang mencapai 8% per tahun.

Menanggapi ini, pengamat perbankan, Paul Sutaryono mengungkapkan, bank digital memang mempunyai keunggulan dibanding bank konvensional lantaran bisa menjangkau audiens yang luas melalui perangkat teknologi informasi.

Kelebihan itu menjadi peluang bagi bank digital memperoleh pendanaan maupun potensi pendapatan dari sisi fee based income (FBI) yang cepat sebagai sumber profitabilitas.

"Bank digital memiliki keunggulan untuk menjangkau nasabah lebih banyak dengan mengandalkan infrastruktur IT. Hal itu berarti funding termasuk fee-based income akan lebih cepat diperoleh. Mengapa? lantaran semakin banyak nasabah, sehingga transaksi keuangan lebih banyak," kata Paul, saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (18/10/2021).

Namun, ia mengakui, saat ini ada beberapa bank-bank digital di tanah yang air mematok tingkat suku bunga tabungan yang lebih tinggi dari bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang saat ini di level 3,5%.

Hal ini dinilai wajar dilakukan sebagai upaya yang dilakukan bank digital untuk memperoleh likuiditas.

"Secara teori, bank yang menawarkan suku bunga simpanan yang tinggi seperti deposito, itu berarti bank tersebut sedang membutuhkan dana besar. Artinya, likuiditas kurang perkasa," ungkapnya.

Namun risikonya, dengan menawarkan tingkat bunga simpanan di atas bunga penjaminan LPS, maka simpanan yang ditawarkan oleh bank tersebut tidak dijamin oleh LPS dan akan berisiko bagi nasabah menanggung kerugian bila bank tersebut mengalami likuidasi.

"Ketika suku bunga simpanan itu melebihi suku bunga penjaminan LPS, itu mengandung arti, simpanan itu tidak ditanggung LPS ketika bank itu menderita risiko dilikuidasi. Dengan kalimat lain, nasabah akan menanggung sendiri risiko tersebut," imbuhnya.

Research Analyst PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Setya Aridiastama, mengungkapkan, bank digital pada prinsipnya mendorong efisiensi dari sisi operasional.

Lantaran, bank ini tak lagi membutuhkan banyak kantor cabang laiknya bank konvensional. Sehingga, bank ini bisa lebih lincah bergerak mendulang profitabilitas.

"Bank digital dinilai dapat mendorong perbankan lebih efisien dari segi biaya operasional. Selain itu kemudahan yang ditawarkan dapat menarik jumlah nasabah. Kami melihat hal tersebut dapat mendukung pertumbuhan dari segi marjin," katanya, Senin (18/10/2021).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ramalan Bos BCA Apa Terbukti? Hanya 3 Bank Digital Bertahan


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading