Bakal Sengit, Ini Peta Persaingan Bisnis Bank Digital di RI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
18 October 2021 19:49
[THUMB] Nasib Digital Banking di Masa Depan

Jakarta, CNBC Indonesia - Di masa pandemi Covd-19, digitalisasi layanan perbankan sudah menjadi kebutuhan. Pembatasan mobilitas masyarakat membuat aktivitas perbankan tidak lagi dilakukan secara fisik, kini cukup melalui gawai.

Hal ini mendorong grup konglomerasi besar menghadirkan bank digital. Sebut saja, Grup Djarum, melalui PT Bank Digital BCA (Blu), Grup GoTo, melalui PT Bank Jago Tbk (ARTO), Grup CT Corp yang dimiliki pengusaha nasional Chairul Tanjung juga menyiapkan bank digitalnya, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI).

Di luar nama itu, ada PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang sahamnya dikendalikan PT Akulaku Silvrr Indonesia, yang terafiliasi dengan perusahaan milik Jack Ma, Ant Financial.


Pengamat perbankan, Paul Sutaryono mengungkapkan, bank digital mempunyai keunggulan dibanding bank konvensional lantaran bisa menjangkau audiens yang luas melalui perangkat teknologi informasi.

Kelebihan itu menjadi peluang bagi bank digital memperoleh pendanaan maupun potensi pendapatan dari sisi fee based income (FBI) yang cepat sebagai sumber profitabilitas.

"Bank digital memiliki keunggulan untuk menjangkau nasabah lebih banyak dengan mengandalkan infrastruktur IT. Hal itu berarti funding termasuk fee-based income akan lebih cepat diperoleh. Mengapa? lantaran semakin banyak nasabah, sehingga transaksi keuangan lebih banyak," kata Paul, saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (18/10/2021).

Namun, ia mengakui, saat ini ada beberapa bank-bank digital di tanah yang air mematok tingkat suku bunga tabungan yang lebih tinggi dari bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang saat ini di level 3,5%. Hal ini dinilai wajar dilakukan sebagai upaya yang dilakukan bank digital untuk memperoleh likuiditas.

"Secara teori, bank yang menawarkan suku bunga simpanan yang tinggi seperti deposito, itu berarti bank tersebut sedang membutuhkan dana besar. Artinya, likuiditas kurang perkasa," ungkapnya.

Dengan menawarkan tingkat bunga simpanan di atas bunga penjaminan LPS, maka simpanan yang ditawarkan oleh bank tersebut tidak dijamin oleh LPS dan akan berisiko bagi nasabah menanggung kerugian bila bank tersebut mengalami likuidasi.

"Ketika suku bunga simpanan itu melebihi suku bunga penjaminan LPS, itu mengandung arti, simpanan itu tidak ditanggung LPS ketika bank itu menderita risiko dilikuidasi. Dengan kalimat lain, nasabah akan menanggung sendiri risiko tersebut," imbuhnya.

Research Analyst PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Setya Aridiastama, mengungkapkan, bank digital pada prinsipnya mendorong efisiensi dari sisi operasional. Lantaran, bank ini tak lagi membutuhkan banyak kantor cabang laiknya bank konvensional. Sehingga, bank ini bisa lebih lincah bergerak mendulang profitabilitas.

"Bank digital dinilai dapat mendorong perbankan lebih efisien dari segi biaya operasional. Selain itu kemudahan yang ditawarkan dapat menarik jumlah nasabah. Kami melihat hal tersebut dapat mendukung pertumbuhan dari segi marjin," katanya, Senin (18/10/2021).

Diminati Investor Global

Meski begitu, investor global kian melirik potensi bisnis bank digital tanah air setelah Ribbit Capital mengumumkan investasi di PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan Alibaba melalui Akulaku Silvrr, menjadi pemegang saham untuk menjadi pengendali Bank Neo Commerce (BBYB).

Menurut sejumlah ekonom minat investor asing dipicu setidaknya dipicu tiga hal. Pertama, besarnya populasi masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank (unbanked population). Jumlahnya mencapai 52% atau sekitar 95 juta orang.

Kedua, lebih dari 47 juta penduduk dewasa tidak memiliki akses memadai pada kredit, investasi dan asuransi. Ketiga, penetrasi smartphone di Indonesia mencapai hingga 70%-80%. Fakta ini mengonfirmasi masyarakat Indonesia secara infrastruktur sangat siap untuk perbankan digital.

Faktor pendorong lainnya adalah POJK Bank Umum yang memberikan kepastian hukum bagi investor untuk menanamkan modal di bank digital. Sebagian investor memilih jalan akuisisi bank kecil untuk dikonversi menjadi bank digital, seperti Sea Limited (induk Shopee) yang mengubah Bank Kesejahteraan menjadi SeaBank dan Alibaba di BBYB.

Ekonom CORE Indonesia, Piter Abdullah menjelaskan, pada dasarnya bank punya peluang yang sama untuk memenangi persaingan. Karena saat ini semua bank telah mengembangkan layanan digitalnya, maka bank yang lambat beradaptasi tentunya akan tertinggal.

"Teknologi digital membawa bank berdiri di garis start yang sama. Jika dulu bank-bank besar yang memiliki banyak kantor cabang dan ATM menjadi pemenang, kini di era teknologi digital, bank memiliki garis start baru untuk berlomba jadi pemenang," kata Piter.

Menurut Piter, bank digital manapun bisa memenangkan persaingan asal memenuhi tiga syarat utama. Pertama, bank digital harus memiliki kemampuan mengakses ekosistem digital. Kalau dulu bank yang punya cabang dan ATM banyak jadi pemenang, kini bank yang punya ekosistem besar punya peluang besar jadi pemenang.

Kedua, bank digital harus memiliki produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini dan masa depan. Hal ini mengingat tuntutan nasabah akan layanan perbankan terus meningkat, khususnya di era digital saat ini.

Ketiga, bank digital harus punya modal besar dan SDM yang kuat. Hal ini juga menjadi salah penentu bank digital bisa memenangkan persaingan ke depan.

Perubahan Lanskap Industri

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa keuangan (OJK) Heru Kristiyana menjelaskan, sebagai regulator, pihaknya turut merespons dinamika tersebut melalui proses yang panjang dalam menggodok aturan bank umum yang di dalamnya juga mengatur pendirian bank digital.

Aturan tersebut tertuang dalam POJK Nomor 13/POJK.03/2021 tentang Penyelenggaraan Produk Bank Umum didasari pada dinamika global yang berkembang cepat dan dipicu pandemi Covid yang turut mengubah lanskap industri perbankan.

"Perubahan lanskap perbankan terus berubah yang dipercepat oleh pandemi dan perubahan perilaku masyarakat mendorong kita memberikan landasan kuat agar perbankan mencapai skala ekonomi yang kita inginkan, supaya memberikan kontribusi maksimal, menjawab tantangan dan tuntutan pesatnya perubahan teknologi informasi," ujarnya.

Sebagai pembeda dengan bank umum, OJK menetapkan enam persyaratan bagi bank agar dapat disebut sebagai bank digital.

Pertama, memiliki model bisnis dengan penggunaan teknologi yang inovatif dan aman dalam melayani kebutuhan nasabah. Kedua, memiliki kemampuan untuk mengelola model bisnis perbankan digital yang prudent dan berkesinambungan.

Ketiga, memiliki manajemen risiko secara memadai. Keempat, memenuhi aspek tata kelola termasuk pemenuhan direksi yang mempunyai kompetensi di bidang teknologi informasi dan kompetensi lain sebagaimana dimaksud dalam ketentuan OJK mengenai penilaian kemampuan dan kepatutan.

Adapun syarat kelima dan keenam adalah menjalankan perlindungan terhadap keamanan data nasabah dan memberikan upaya yang kontributif terhadap perkembangan ekosistem keuangan digital dan/atau inklusi keuangan.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading