Rupiah Ngegas Terus, Dolar Diramal Jatuh ke Rp 13.000-an!

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 October 2021 11:29
Ilustrasi Rupiah dan Dolar di Bank Mandiri

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah masih berpeluang lanjutkan penguatan beberapa waktu ke depan di tengah tingginya ketidakpastian global. Bahkan diperkirakan dolar Amerika Serikat (AS) nanti bisa sampai ke bawah level Rp 14.000.

"Bisa saja overshoot menguat di bawah Rp 14.000/US$," ungkap Ekonom Bank BCA David Sumual kepada CNBC Indonesia, Senin (18/10/2021)

Faktor pendorong terbesarnya adalah realisasi ekspor pada September 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan RI pada September 2021 tercatat surplus sebesar US$ US$ 4,37 miliar.


Ini dikarenakan peningkatan ekspor yang mencapai 47,64% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu impor juga tercatat tumbuh 40,31% (yoy) di waktu yang sama.

"Kemarin surplus tinggi dan 17 bulan kemarin US$ 4,3 miliar. Sepanjang tahun bisa surplus di atas US$ 30 miliar di 2021. Ekspor profit juga akan masuk ke rupiah, bisa untuk biayai operasional sehari-sehari dan pegawai," jelasnya.

Di samping itu ada persepsi positif dari investor ke dalam negeri terkait pemulihan ekonomi. Pasca hantaman covid varian delta dua bulan lalu, ekonomi tanah air kembali berjalan seiring dengan adanya penurunan kasus.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Aldian Taloputra, Ekonom Bank Standard Chartered Indonesia. Aldian menambahkan, harga komoditas batu bara hingga minyak kelapa sawit diperkirakan masih terus meningkat, sehingga mendorong ekspor dan penguatan nilai tukar rupiah.

"Kalau kami lihat penguatan rupiah saat ini didorong oleh penguatan harga komoditas terutama batubara, metal, palm oil, dan gas. Selain itu kita juga melihat permintaan domestik yang belum normal juga berkontribusi pada masih relatif rendahnya permintaan impor," papar Aldian.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading