Cek Harga Emas Sepekan: Boncos Atau Bawa Cuan?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 October 2021 13:45
FILE PHOTO: Gold bars are seen in this picture illustration taken at the Istanbul Gold Refinery in Istanbul March 12, 2013.  REUTERS/Murad Sezer/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas pada perdagangan pekan ini tercatat mulai bangkit, di mana sepanjang pekan ini harga emas dunia mulai menguat, setelah pada pekan sebelumnya sempat melemah.

Harga emas dunia pada pekan ini menguat 0,6% secara point-to-point. Namun pada penutupan perdagangan Jumat (15/10/2021) kemarin, harga emas dunia berbalik ambles 1,58% ke level US$ 1.767,26/troy ons.


Pada Rabu (13/10/2021) lalu, harga emas sempat melesat nyaris 2%, atau lebih tepatnya melesat 1,86% ke level US$ 1.792,65/troy ons. Namun melesatnya harga emas dunia tak berlangsung lama, di mana pada Kamis (14/10/2021) lalu, penguatan emas cenderung terpangkas dan pada Jumat kemarin, harga emas pun kembali berbalik arah.

Sebelumnya, beberapa analis memperkirakan bahwa harga emas dunia diprediksi mampu mencapai US$ 1.900/troy ons pada akhir tahun ini, jika risiko stagflasi atau inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi menurun, semakin menguat.

"Ada lebih banyak sentimen alih risiko di pasar dan emas mendapat keuntungan dari hal tersebut, ditambah lagi dengan kecemasan akan inflasi sementara pertumbuhan ekonomi global melambat," kata Daniel Briesemann, analis di Commerzbank.

"Jika risiko stagflasi meningkat, emas berpotensi ke US$ 1.900/troy ons di akhir tahun, saat suku bunga masih relatif rendah meski The Fed memulai tapering," tambahnya.

Faktor pendorong positifnya harga emas pada pekan ini adalah kekhawatiran pelaku pasar akan inflasi yang akan lepas kendali. Saat itu terjadi, emas menjadi salah satu aset yang diuntungkan, sebab secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi.

Inflasi di negara Barat sudah terbilang tinggi, di Amerika Serikat (AS) bahkan berada di level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Inflasi tersebut bisa semakin tinggi mengingat harga energi sedang meroket.

"Kami melihat dukungan dari tekanan inflasi yang tinggi akan mampu menahan harga emas, di saat bank sentral AS (The Fed) akan memulai mengurangi nilai program pembelian asetnya," kata David Meger, direktur trading logam di High Ridge Futures, sebagaimana dikutip CNBC International.

Meskipun positif, namun laju pergerakan emas masih cenderung tertahan pada pekan ini. Pengurangan nilai program pembelian aset atau tapering bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menjadi penahan laju penguatan emas.

Selain itu, data penjualan ritel AS periode September 2021 yang masih kuat juga menjadi penghambat laju pergerakan emas dunia, sehingga pada Jumat kemarin, harganya kembali ambles.

Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel Negeri Paman Sam pada September 2021 tumbuh nyaris 14% secara tahunan. Secara bulanan, penjualan ritel AS cenderung stabil sebesar 0,7% sejak Agustus lalu.

Di lain sisi, menguatnya kembali imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) pada perdagangan Jumat kemarin juga turut meningkatkan peluang kerugian memegang emas.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun menguat 5,5 basis poin (bp) ke level 1,574% pada penutupan perdagangan Jumat kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading