Roundup

Emiten Bentjok Pailit, Bos Smartfren Buka-bukaan soal Alibaba

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 October 2021 08:55
Benny Tjokosaputro atau akrab disapa Bentjok, salah satu dari 6 terdakwa di kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menjalani persidangan Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Benny Tjokosaputro atau akrab disapa Bentjok, salah satu dari 6 terdakwa di kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menjalani persidangan Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi beli investor asing yang cukup massif mendorong laju bursa saham domestik ke level psikologis 6.500 pada perdagangan Rabu kemarin (13/10).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,78% ke level 6.536,90 dengan nilai transaksi Rp 17,76 triliun. Pelaku pasar asing melakukan pembelian bersih senilai Rp 1,20 triliun.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai transaksi pada perdagangan Kamis ini (14/10/2021):


1.Kabar Alibaba & Merger XL, Bos Smartfren Buka-bukaan Faktanya

Manajemen emiten telekomunikasi Grup Sinar Mas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) memberikan respons terkait kabar masuknya investor global, Alibaba milik crazy rich China Jack Ma, yang disebutkan membeli saham perseroan.

Direktur FREN, Antony Susilo, dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, sebagai perusahaan publik, perseroan terbuka bagi investor lokal maupun global.

"Bagi FREN jika dapat berkolaborasi dengan investor global diharapkan akan membuka kesempatan untuk berkembang yang lebih pesat," kata Antony, Rabu (13/10/2021).

Tak hanya dikabarkan akan dibeli oleh Alibaba, FREN juga disebut sedang dalam proses melakukan penggabungan usaha (merger) dengan emiten telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Manajemen menegaskan, FREN terbuka untuk berkonsolidasi dengan pelaku industri lain yang bertujuan untuk efisiensi operasional, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Hanya saja, terkait merger ini, belum ada kesepakatan yang lebih lanjut.

2.Gugatan Merdeka Copper vs PSAB di Singapura, Damai?

Perusahaan pertambangan milik Grup Saratoga yang didirikan oleh Menteri Pariwisata Sandiaga Uno dan pengusaha Edwin Soeryadjaya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) telah menangguhkan gugatan arbitrasenya terhadap PT J Resources Nusantara (JRN), anak usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) di Singapura.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan, gugatan ini dilayangkan oleh anak usahanya PT Pani Bersama Tambang (PBT).

Gugatan ini dilakukan di Singaporean International Arbitration Center (SIAC) dengan nomor perkara No. ARB0012/21/ARK.

"Lebih lanjut, permohonan tersebut telah diterima dan dikonfirmasi oleh SIAC pada tanggal 2 Oktober 2021. Penangguhan tersebut berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut dari para pihak yang bersengketa," tulis keterbukaan informasi perusahaan, dikutip Rabu (13/10/2021).

3.Efek Pandemi, ALTO Bakal Pangkas Gaji 1.047 Karyawan

Emiten produsen air mineral dalam kemasan, PT Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) memangkas gaji terhadap 1.047 karyawannya sejak Januari 2021.

Corporate Secretary Tri Banyan Tirta, Olivia Martha mengungkapkan, hal ini dilakukan sebagai dampak pandemi Covid-19 menyebabkan perseroan harus melakukan pembatasan operasional lebih dari tiga bulan.

Perseroan melakukan pembatasan jam kerja pada seluruh kegiatan operasional. Padahal, kegiatan operasional yang terhenti itu memberikan andil terhadap pendapatan sebesar 25% sampai dengan 50%.

4.Bank Nobu Milik Lippo Rights Issue, Beli Gedung UPH Rp 193 M

Perusahaan terafiliasi dengan Grup Lippo, PT Grahaputra Mandirikharisma (GPMK), menyatakan bakal menjadi pembeli siaga (standby buyer) dalam pelaksanaan rights issue atau penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang dilakukan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Bank milik Grup Lippo itu berencana menawarkan sebanyak 164.367.122 saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham dengan harga pelaksanaan Rp 1.205 per saham.

Nilai yang ditawarkan tersebut mewakili 3,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum terbatas (PUT), sehingga nilai PUT adalah sebanyak-banyaknya Rp 198,06 miliar.

5.MA Kabulkan Kasasi, Emiten Bentjok MYRX Dalam Status Pailit

Emiten pengembang properti yang dimiliki Benny Tjokrosaputro, PT Hanson International Tbk (MYRX) dalam status pailit setelah Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi pada 8 Juni 2021.

"Dengan adanya putusan kasasi tersebut menyebabkan perseroan kembali dalam keadaan pailit," kata Bob Hasan, Kuasa Hukum PT Hanson International Tbk dari Law Office Bob Hasan & Partners, dikutip Rabu (13/10/2021).

Bob Hasan menyatakan, berdasarkan putusan nomor 667 K//Pdt.Sus-Pailit/2021, Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Niaga PN Jakarta Pusat dengan nomor perkara 29/Pdt-Sus-PKPU/2020/PN Niaga Jkt.Pst pada 18 Februari 2021.

6.BACA Rights Issue Tanpa Pembeli Siaga, Yakin Diserap Ritel?

Manajemen PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) menegaskan tidak ada pembeli siaga (standby buyer) dalam pelaksanaan rights issue perseroan.

Hal ini disampaikan Direktur Utama Bank Capital, Wahyu Dwi Aji dalam penjelasannya kepada otoritas bursa mengenai rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau Penawaran Umum Terbatas IV perseroan.

Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 20 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100. Harga pelaksanaan sendiri belum ditetapkan. Namun, jika mengacu pada harga terendah saham BACA di awal tahun yakni Rp 376/saham, potensi dana yang bisa diraih mencapai Rp 7,5 triliun.

7.Stock Split, Beli Saham BCA Cuma Modal Rp 732.000

Pada perdagangan Rabu (13/10/2021) saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan mulai diperdagangkan dengan nominal baru setelah bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5.

Dengan demikian, maka nominal saham perusahaan dari sebelumnya Rp 62,5/saham menjadi Rp 12,5/saham.

Bersamaan dengan itu, maka harga saham perusahaan mulai pagi ini juga akan terpecah menjadi Rp 7.320/saham, dari posisi penutupan perdagangan kemarin di harga Rp 36.600/saham.

Dengan demikian, dengan minimal pembelian 1 lot (isi 100 saham), maka investor hanya mengeluarkan modal Rp 730.000-an, tepatnya Rp 732.000 untuk menjadi pemegang 1 lot saham BCA, dari sebelumnya hingga Rp 3,66 juta untuk 1 lot.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading