Newsletter

The Fed Sebut Tapering Mulai Tengah November, IHSG Kuat?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
14 October 2021 06:18
Ilustrasi bendera China. AP/ Foto: Ilustrasi bendera China. AP/

Sentimen dari luar negeri yang masih akan terus dipantau oleh investor adalah terkait kasus likuiditas perusahaan properti China, Evergrande, dan krisis energi yang melanda sejumlah negara.

Melansir Reuters, Rabu (13/10), Krisis China Evergrande memicu putaran baru penurunan peringkat kredit. Kemarin, Evergrande kembali melewatkan pembayaran obligasi internasionalnya senilai US$ 150 miliar untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Selain itu banyak pengembang properti lain yang juga menghadapi tenggat waktu pembayaran sebelum akhir tahun, senasib dengan Evergrande yang tampak semakin suram. Ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan memicu dampak serius yang jauh lebih luas.


Sejurus dengan itu, lembaga pemeringkat S&P Global memberikan penurunan peringkat baru untuk dua perusahaan besar di sektor ini, Greenland Holdings--yang telah membangun beberapa menara perumahan tertinggi di dunia--dan E-house. S&P Global memperingatkan, hal itu dapat memangkas peringkat mereka lebih lanjut.

Evergrande yang memiliki utang mencapai US$ 300 miliar (Rp 4.290 triliun) dengan hampir sebesar US$$ 20 miliar (Rp 286 triliun) merupakan utang luar negeri, telah melewatkan pembayaran pertama bunga obligasi US$ 47,5 juta (Rp 679 miliar) pada 23 September untuk obligasi dolar 9,5% Maret 2024.

Selanjutnya perusahaan kembali melewatkan pembayaran kupon US$ 83,5 juta (Rp 1,19 triliun) pada obligasi lain seminggu kemudian, tanggal 30 September lalu.

Secara total hingga saat ini raksasa properti China tersebut telah melewatkan pembayaran hingga US$ 281 juta (Rp 4,02 triliun) terhadap surat utang luar negerinya, dan masih memiliki kewajiban lain sejumlah US$ 573 juta (Rp 8,19 triliun) yang akan jatuh tempo sebelum akhir tahun ini.

Perusahaan memiliki masa tenggang (grace period) 30 hari untuk melunasi pembayaran kupon yang belum dilunasi, menurut prospektus penawaran obligasi, yang berarti default secara formal tampaknya akan terjadi pekan depan.

Kemudian, krisis listrik yang melandai Eropa hingga China masih belum teratasi hingga saat ini, di tengah melonjaknya harga gas dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Mengutip Reuters, di Eropa, harga gas alam kembali melonjak membuat lebih banyak utilitas untuk beralih ke batu bara dengan kandungan karbon tinggi untuk menghasilkan listrik, tepat ketika Eropa sedang giat-giatnya untuk mencoba menghentikan penggunaan bahan bakar yang berpolusi.

Harga gas yang tinggi juga telah mendorong peralihan ke minyak di Inggris, di mana batu bara menyumbang hanya 2% dari campuran listrik, dengan negara itu menghadapi pasokan listrik yang ketat pada musim dingin tahun ini.

Sementara itu di India, pemerintah setempat telah meminta kepada produsen listrik untuk mengimpor hingga 10% dari kebutuhan batu bara mereka.

Adapun di Jepang, harga listrik telah naik ke level tertingginya dalam sembilan bulan terakhir pada pekan ini karena terpengaruh dari naiknya harga global minyak, gas alam cair, dan batu bara.

Sementara itu di China, krisis energi di Negeri Panda diprediksi bakal makin parah. Pasalnya bencana banjir menghantam pusat produksi batu bara utama di China, Provinsi Shanxi.

Krisis energi, terutama listrik di sejumlah negara memang membuat pelaku pasar kembali khawatir, karena naiknya harga gas alam yang menjadi pemicu utamanya dapat menggerakkan harga energi lainnya seperti batu bara dan minyak.

Hal ini juga menjadi kekhawatiran yang berlanjut, di mana jika permintaan terus melonjak dan membuat harga juga terus melonjak, maka inflasi akan semakin tinggi dan tentunya akan berlangsung lama.

Jika inflasi global meninggi, maka sikap pelaku pasar global yang sebelumnya sempat optimis kini kembali pesimis.

Risalah The Fed, Inflasi China hingga Data Stok Minyak AS

Selain kedua sentimen di atas, investor juga akan menyimak sejumlah sentimen berikut ini.

Pertama, sentimen soal The Fed yang merilis risalah dari pertemuan kebijakan terakhirnya (FOMC) pada hari Kamis dini hari (01.00 WIB).

Berdasarkan risalah tersebut, para gubernur bank sentral AS mengisyaratkan bahwa mereka dapat mulai mengurangi dukungan era krisis untuk ekonomi alias melakukan tapering secara bertahap pada pertengahan November, meskipun mereka tetap bersilang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

The Fed sendiri selanjutnya akan melakukan pertemuan pada 2-3 November 2021.

Dalam proses yang dikenal sebagai tapering ini, The Fed akan mengurangi pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan secara bertahap. Risalah menunjukkan, bank sentral mungkin akan mulai dengan memangkas US$ 10 miliar pembelian obligasi (Treasury) dan US$ 5 miliar pembelian mortgage-backed securities (MBS) atau efek beragun aset KPR. The Fed saat ini membeli setidaknya US$ 80 miliar di Treasury dan US$ 40 miliar di MBS.

Artinya, jika The Fed konsisten setiap bulannya melakukan tapering US$ 10 miliar untuk Treasury dan US$ 5 miliar untuk MBS, maka nilai quantitative easing baru akan nol dalam tempo 8 bulan atau pertengahan 2022.

"Peserta rapat mencatat bahwa jika keputusan untuk memulai pengurangan pembelian aset (tapering) terjadi pada pertemuan berikutnya, proses pengurangan dapat dimulai dengan kalender pembelian bulanan yang dimulai pada pertengahan November atau pertengahan Desember," kata ringkasan tersebut dilansir CNBC Internasional, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (14/10/2021).

Inflasi September di AS tercatat tumbuh 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, atau lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan angka pertumbuhan sebesar 0,3% secara bulanan dan 5,3% secara tahunan.

Inflasi inti tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 4% secara tahunan, atau relatif sama seperti perkiraan yang masing-masing berujung pada angka sebesar 0,3% dan 4%.

Kedua, China bakal merilis data inflasi per September yang diprediksi naik 0,8% secara bulanan dan 0,1% secara tahunan. Keduanya sama seperti angka inflasi pada Agustus. Kemungkinan tidak akan ada kejutan karena Negeri Tirai Bambu dikenal kuat menjaga inflasi.

 

 

Kemudian, ketiga, AS akan merilis klaim tunjangan pengangguran mingguan, menjadi sentimen mayor lainnya yang perlu diperhatikan. Angka klaim tunjangan pengangguran baru ini diramal akan membaik ke angka 315.000 jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya sebanyak 326.000 klaim.

 

 

Lalu, keempat, data stok minyak mentah dan minyak olahan AS versi Energy Information Agency (EIA) juga perlu dipantau, untuk mengetahui apakah stok di AS berkurang drastis yang mengindikasikan meningkatnya permintaan jelang musim dingin. Sentimen ini akan memberi gambaran apakah reli harga minyak dan batu bara bakal terus berlangsung dalam jangka menengah.

Rilis Data Ekonomi, Agenda Emiten & Indikator Ekonomi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading