Stagflasi Makin Nyata, Dolar Singapura Naik Tajam

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 October 2021 12:02
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Singapura naik tajam melawan rupiah pada perdagangan Selasa (13/10). Ketidakpastian kondisi perekonomian global ke depannya membuat rupiah sebagai mata uang emerging market kurang diuntungkan.

Pada pukul 10:23 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.499,11, dolar Singapura menguat 0,26% di pasar spot melansir data Refinitiv. Untuk dolar Australia, penguatan tersebut terbilang cukup tajam sebab rentang pergerakannya bisanya tidak terlalu lebar. Dalam 2 hari terakhir, dolar Singapura melemah masing-masing kurang dari 0,1%.

Tingginya inflasi di beberapa negara membuat Dana Moneter International (IMF) meminta bank sentral untuk bersiap menaikkan suku bunga. Ketika suku bunga dinaikkan, maka dukungan kebijakan moneter terhadap perekonomian menjadi berkurang. Laju pertumbuhan ekonomi berisiko melambat.


IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 5,9%, dari perhitungan sebelumnya 6,0% pada Juli, karena penyebaran virus Covid-19 varian delta.


Sementara itu bank investasi ternama Goldman Sachs pada hari Senin lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.

Di tahun ini Goldman memprediksi perekonomian AS akan tumbuh 5,6%, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 5,7%. Tetapi untuk tahun depan, produk domestik bruto (PDB) diperkirakan tumbuh 4%, jauh di bawah proyeksi sebelumnya 4,4%.

Ketika perekonomian melambat dan inflasi masih tetap tinggi, maka akan terjadi stagflasi.

Beberapa bank sentral di dunia memang sudah menaikkan suku bunganya akibat inflasi yang tinggi.

Yang paling agresif dalam menaikkan suku bunga adalah bank sentral Brasil yang sudah menaikkan suku bunga lima kali berturut-turut. Terbaru, pada September lalu suku bunga dinaikkan sebesar 100 basis poin menjadi 6,25%. Total kenaikan suku bunga bank sentral Brasil sebesar 325 basis poin, bahkan akan menaikkan lagi di tahun depan.

Tekanan inflasi bisa semakin parah sebab beberapa negara mengalami krisis energi. Eropa, China, dan India mengalami krisis tersebut membuat harga energi melambung tinggi. Amerika Serikat juga terancam mengalami hal yang sama, sehingga inflasi berisiko semakin tinggi lagi.

Ketidakpastian perekonomian global tersebut membuat rupiah kurang tertekan pada hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada Lockdown, Kurs Dolar Singapura di Bawah Rp 10.800/SG$


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading