Rupiah Tangguh, Sayangnya Gagal Lewati Rp 14.200/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 October 2021 15:23
An employee counts U.S. dollar banknotes at a currency exchange office in Jakarta, Indonesia October 23, 2018. Picture taken October 23, 2018. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah sukses menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/10), melanjutkan kinerja apik pekan lalu. Meski demikian, laju penguatan rupiah masih tertahan di Rp 14.200/US$, sebab pelaku pasar tidak melihat adanya perubahan waktu tapering.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 14.200/US$. Level tersebut sekaligus menjadi yang terkuat hari ini, rupiah setelahnya memangkas penguatan hingga tersisa 0,04% saja.

Di akhir perdagangan rupiah mempertebal penguatan lagi menjadi 0,11% ke Rp 14.205/US$. Sementara itu sepanjang pekan lalu rupiah tercatat menguat 0,59%. 


Rupiah mampu melanjutkan penguatan sebab dolar AS sedang tertekan pasca rilis data tenaga kerja Jumat pekan lalu. Data tenaga kerja merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang bulan September perekonomian Negeri Paman Sam mampu menyerap 194.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sangat jauh di bawah hasil survei Reuters sebanyak 500.000 tenaga kerja.

Dengan rilis data tersebut, peluang kenaikan suku bunga pada tahun depan kembali dipertanyakan pelaku pasar. Sebab, ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya mengatakan perlu kemajuan lebih lanjut di pasar tenaga kerja untuk menaikkan suku bunga. Meski tapering tetap akan dilakukan di tahun ini.

Powell pada akhir September lalu menyatakan perekonomian saat ini masih jauh dari target tenaga kerja maksimum.

"Sebelumnya saya mengatakan kami sudah mencapai target untuk memulai tapering. Saya perjelas lagi, dalam pandangan kami, masih jauh untuk mencapai target tenaga kerja maksimum," kata Powell di hadapan Kongres AS, Selasa (28/9).

Sementara itu analis dari TD Securities menyatakan data NFP memang jauh di bawah ekspektasi, tetapi secara garis besar tidak akan merubah proyeksi The Fed mengumumkan tapering bulan depan.

"Data tenaga kerja yang utama jauh di bawah ekspektasi, sudah pasti. Tetapi, detail menunjukkan tidak terlalu buruk, jadi itu konsisten dengan proyeksi pengumuman tapering pada bulan November," kata Mazen Issa, ahli strategi mata uang di TD Securities New York, sebagaimana dilansir CNBC International.

Hal Senada juga diungkapkan Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto.

"Pergerakan harga dolar menunjukkan pelaku pasar masih melihat potensi penguatan dolar AS, sebab tidak ada perubahan ekspektasi tapering akan diumumkan November atau Desember, dan kenaikan suku bunga pertama pada musim gugur 2022" kata Schamotta, sebagaimana dikutip CNBC International

Di sisi lain, data Jumat pekan lalu menunjukkan rata-rata upah per jam menunjukkan peningkatan 0,6% dari bulan sebelumnya. Sementara jika dilihat dari September 2020, terjadi peningkatan sebesar 4,6%. Dalam 6 bulan terakhir, rata-rata upah per jam menunjukkan kenaikan 6% year-on-year (YoY).

Kenaikan upah tersebut membuat inflasi diprediksi masih akan tinggi dalam waktu yang lebih panjang, yang bisa berdampak pada proyeksi kebijakan moneter The Fed.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Terpuruk Saat Dolar AS Lesu, kok Bisa?


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading