Boleh Dicoba Kak, Deretan Saham Batu Bara 'Harga Miring'

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
12 October 2021 07:30
FILE PHOTO: A worker walks past coal piles at a coal coking plant in Yuncheng, Shanxi province, China January 31, 2018. Picture taken January 31, 2018.  REUTERS/William Hong/File Photo

Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara yang melonjak luar biasa sepanjang tahun ini, bahkan kenaikannya sempat memecahkan rekor tertinggi sejak 2008 di posisi US$ 280/ton pada Selasa (5/10/2021) pekan lalu.

Level kenaikan harga batu bara menjadikan saham emiten batu bara juga 'terbang' berjamaah dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan ini disebabkan oleh sektor pertambangan batu bara yang mengalami kenaikan permintaan sejalan dengan krisis energi yang menghantam kawasan Eropa dan wilayah lain seperti China dan India.


Di samping itu, permintaan juga didorong oleh faktor musiman (musim dingin) yang diperkirakan berakhir di Kuartal I-2022.

Terbaru krisis energi yang merambah dan juga ikut mengancam Amerika Serikat (AS). Hal ini terlihat dari persediaan gas untuk musim dingin yang terbatas di negara adidaya.

Chief Executive Officer Xcoal Energy & Resources LLC, Ernie Thrasher, mengatakan bahwa beberapa perusahaan utilitas saat ini cemas kekurangan bahan bakar benar-benar terjadi pada musim dingin ini yang dapat menyebabkan pemadaman.

Secara general diperkirakan akan ada kenaikan konsumsi bahan bakar batu bara hingga 23% tahun ini. Padahal hal tersebut bertentangan dengan komitmen AS terhadap kebijakan iklim.

Kebanyakan harga saham batu bara juga telah mengalami peningkatan tajam, mengingat dalam sebulan indeks sektor energi di bursa telah naik hingga 37%, jauh di atas IHSG yang tumbuh di kisaran 6%, atau sektor transportasi yang tumbuh 13%.

Bahkan sektor yang semula digadang-gadang akan tumbuh fantastis malah mengalami koreksi, yakni sektor transportasi yang turun nyaris 8%.

Indeks energi menjadi sektor dengan pertumbuhan terbesar dalam sebulan terakhir.Foto: Google Finance
Indeks energi menjadi sektor dengan pertumbuhan terbesar dalam sebulan terakhir.

Meski sudah meningkat drastis, nyatanya masih terdapat beberapa emiten yang harga sahamnya dibanderol tidak sampai Rp 1.000/saham alias bisa terjangkau bagi investor milenial.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Senin, 11 Oktober 2021, setidaknya terdapat tujuh emiten batu bara yang diperdagangkan di bawah harga Rp 1.000/saham alias seceng.

Harga Saham Batu Bara di Bawah Seceng

1. Alfa Energi Investama (FIRE) Rp 720/saham, +6,67%, pekan lalu naik +0,75%

2. TBS Energi Utama (TOBA) Rp 555/saham, +0,00%, pekan lalu turun -7,56%

3. Delta Dunia Makmur (DOID), Rp 344/saham, +4,24%, pekan lalu turun -5,71%

4. Atlas Resources (ARII) Rp 324/saham, +1,25%, pekan lalu turun -3,61%

5. Golden Eagle Energy (SMMT), Rp 206/saham, +1,98%, pekan lalu -9,01%

6. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), Rp 100/saham, -0,99%, pekan lalu turun -10,62%

7. Bumi Resources (BUMI), Rp 94/saham, +9,30%, pekan lalu naik +2,38%.

Penempatan saham-saham ini hanya sederhana berdasarkan harga di bawah Rp 1.000/saham, bukan melihat valuasi secara PBV dan PER.

Pemilihan saham-saham ini pun bukan rekomendasi, melainkan keputusan tergantung investor untuk mempertimbangkan sendiri saham-saham tersebut.

Adapun PBV (price to book value) adalah metode valuasi yang membandingkan nilai buku suatu emiten dengan harga pasarnya. Semakin rendah PBV biasanya perusahaan akan dinilai semakin murah. Secara Rule of Thumb, PBV akan dianggap murah apabila rasionya berada di bawah angka 1 kali.

Sedangkan PER (price to earnings ratio) juga merupakan metode valuasi yang membandingkan laba bersih per saham dengan harga pasarnya.

Semakin rendah PER maka biasanya perusahaan juga akan dianggap semakin murah, Untuk PER biasanya secara rule of thumb akan dianggap murah apabila rasio ini berada di bawah angka 10 kali.

Kembali ke batu bara, kendati harganya terus tinggi, tapi harga batu bara tidak membukukan kenaikan atau penurunan sepanjang pekan lalu. Mengawali pekan di US$ 225,75/ton, harga si batu hitam finis di posisi yang sama akhir pekan lalu.

Dalam 2 hari perdagangan pertama minggu lalu, harga batu bara melesat tajam masing-masing 10,3% dan 12,45%. Akan tetapi, harga batu bara kemudian menemukan keseimbangannya.

Harga komoditas ini ambruk masing-masing 15,71% dan 4,7% dalam 2 hari beruntun. Pada perdagangan akhir pekan, harga naik tipis 0,38%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading