Analisis

PPN Dikerek, Saham UNVR-INDF dkk Balik Arah, Bakal Lanjut?

Market - Putra, CNBC Indonesia
11 October 2021 08:05
Sejumlah warga berbelanja di Lotte Mart, Puri Kembangan, Jakarta, Selasa (31/8/2021). Pemerintah kembali melakukan penyesuaian aktivitas masyarakat selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa - Bali terhitung sejak 31 Agustus hingga 6 September 2022. Aturan yang disesuaikan adalah yang berkaitan dengan waktu operasional supermarket dan pasar swalayan yang diperbolehkan beroperasi hingga pukul 21:00 waktu setempat, satu jam lebih lama dari sebelumnya dengan kapasitas tatap 50%. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir dengan apresiasi 1,02% ke level Rp 6.481,77 pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (8/20/21). Tak hanya melesat kencang, ternyata semua sektor mengalami penguatan.

Namun saat IHSG menguat lebih dari 1%, indeks sektoral consumer non-cyclical justru flat dengan apresiasi tipis 0,01%.

Saham-saham konstituen sektor ini terutama yang memiliki kapitalisasi pasar besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami koreksi masing-masing sebesar 1,45% dan 0,44%.


Pelemahan kedua saham tersebut cukup menjadi beban pemberat indeks mengingat bobot kedua saham tersebut terhadap indeks sektoral tergolong besar.

Berikut adalah daftar saham konstituen indeks consumer cyclical berkapitalisasi pasar besar yang mengalami koreksi:

Saham

1D (%)

1W (%)

UNVR

-1.45

+23.32

HMSP

-0.44

+9.80

ICBP

+0.56

+6.91

GGRM

-0.29

+8.11

MYOR

0.00

+2.54

INDF

0.00

+7.20

AMRT

-0.39

-3.73

Kinerja sektor consumer non-cyclical yang cenderung lagging ini menyusul langkah pemerintah untuk mengejar setoran pajak terutama dari PPN (pajak pertambahan nilai). Dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), tarif PPN dinaikkan dari 10% menjadi 11% tahun depan.

Kenaikan tarif PPN akan membuat harga mengalami kenaikan. Di tengah momentum pemulihan ekonomi yang berlanjut di tahun 2022, kebijakan fiskal diharapkan masih ekspansif dengan adanya stimulus.

Pengetatan fiskal yang terlalu cepat akan cenderung membuat konsumsi masyarakat sebagai tulang punggung ekonomi menjadi terdampak.

Bisa-bisa ekonomi tumbuh tak sesuai harapan karena daya beli masyarakat yang belum pulih optimal tapi langsung dihadapkan pada kenaikan harga barang.

Pelemahan daya beli masyarakat akan cenderung menjadi batu sandungan untuk emiten sektor konsumen terutama untuk produk-produk yang elastis dan non-esensial.

Namun sejatinya, koreksi di sektor konsumen cenderung terjadi hanya pada perdagangan akhir pekan lalu di mana para pelaku pasar menggunakan momentum negatif kenaikan PPN untuk melakukan aksi ambil untung.

Jika ditarik lebih jauh, dalam sepekan sektor ini masih mencatatkan return positif. Hampir semua saham konstituen indeks konsumen yang tergolong big cap dan dengan bobot penyusun terbesarnya mengalami uptrend.

Saham UNVR dengan bobot terbesar bahkan mengalami apresiasi hingga lebih dari 20% dalam seminggu setelah sebelumnya terus terkoreksi hingga ke bawah level Rp 4.000/unit.

Lantas bagaimana kinerja saham-saham ini untuk ke depan?

Apakah dengan adanya kabar buruk mengenai kenaikan PPN dapat menghentikan laju kenaikan saham consumer yang sedang on fire?

Secara umum, di bulan Oktober secara historis peluang IHSG naik cukup besar mengingat bulan ke sepuluh ini merupakan awal kuartal ke empat di mana biasanya persiapan window dressing sudah mulai terasa di bulan ini. Window dressing biasa diistilahkan dengan strategi mempercantik kinerja atau laporan keuangan maupun portofolio bisnis, baik emiten maupun manager investasi.

Puncaknya biasanya terjadi di bulan Desember ketika fenomena window dressing biasanya membuat indeks hijau. Saham-saham sektor konsumer pun berpeluang untuk ikut terangkat di bulan Desember tahun ini.

Potensi saham-saham konsumer untuk turut menerima sentimen window dressing sejatinya cukup besar mengingat banyak saham-saham di sektor ini yang merupakan saham-saham big cap.

Ini artinya banyak manajer investasi yang memegang saham-saham konsumer tersebut sehingga memiliki kepentingan untuk mengerek harga saham tersebut paling tidak hingga akhir tahun agar portfolionya terlihat ciamik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading