Asing 'Kerasukan', Borong Habis Deretan Saham Blue Chip Ini!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 October 2021 10:47
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kenaikan Indeks harga Saham Gabungan (IHSG), investor asing ramai-ramai melakukan aksi beli bersih (net buy) ke sejumlah saham big cap (berkapitalisasi pasar terbesar) pada perdagangan pagi ini, Jumat (8/10/2021).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.22 WIB, IHSG berhasil melonjak 0,96% ke 6.477,91 dengan nilai transaksi Rp 6,65 triliun. Asing mencatatkan beli bersih Rp 652,23 miliar di pasar reguler dan beli bersih Rp 208,90 miliar di pasar negosiasi dan pasar tunai.

Indeks sektor transportasi (IDXTRANS) memimpin indeks sektoral IHSG dengan naik 2,42%, diikuti sektor barang baku (IDXBASIC) yang bertambah 1,95%. Tidak hanya itu, indeks sektor keuangan atau finansial (IDXFINANCE) juga menguat 1,4%.


Berikut kenaikan saham-saham big cap dengan net buy terbesar di bursa.

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,94%, ke Rp 4.200/saham, net buy Rp 204,3 M

  2. Bank Mandiri (BMRI), +2,99%, ke Rp 6.900/saham, net buy Rp 159,7 M

  3. Bank Central Asia (BBCA), +1,61%, ke Rp 36.375/saham, net buy Rp 123,6 M

  4. Telkom Indonesia (TLKM), +2,15%, ke Rp 3.800/saham, net buy Rp 66,3 M

  5. Adaro Energy (ADRO), +2,59%, ke Rp 1.780/saham, net buy Rp 15,1 M

Menurut data di atas, saham BBRI menguat 1,94% ke Rp 4.20/saham. Asing melakukan beli bersih Rp 204,3 miliar, menjadikan saham BBRI saham yang paling diborong asing pagi ini. Dalam sepekan, saham BBRI melesat 7,18%, sementara dalam sebulan mendaki 10,85%.

Aksi borong asing yang masih terus berlanjut dan uptrend saham BBRI menunjukkan bahwa investor optimis kinerja BBRI akan semakin cemerlang dengan adanya pembentukan holding ultra mikro melalui akuisisi Pegadaian dan PNM oleh BBRI.

Hal tersebut terjadi pasca-BBRI melakukan aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue jumbo senilai Rp 96 triliun

Selain itu kesuksesan right issue jumbo terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara juga menjadi katalis positif yang dominan dalam menggerakkan harga saham BBRI.

Di posisi kedua, ada saham bank BUMN lainnya BMRI, yang mencuat 2,99% ke Rp 6.900/saham dengan nilai beli bersih asing Rp 159,7 miliar. Dalam sepekan, saham BMRI melonjak 13,11%, sedangkan dalam sebulan naik 11,29%.

Di bawah BMRI, saham BBCA juga terapresiasi 1,61% ke Rp 36.275/saham dengan nilai net buy Rp 123,6 miliar.

BBCA bakal melaksanakan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5 yang ditargetkan akan rampung pada Oktober tahun ini.

Berdasarkan informasi yang disampaikan manajemen BBCA di laman BEI, akhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 12 Oktober 2021.

Kemudian, awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 13 Oktober. Tanggal penentuan pemegang saham yang berhak atas hasil Stock Split (Recording Date) 14 Oktober.

Sentimen bagi IHSG hari ini adalah terkait kebijakan pajak pemerintah guna menggenjot penerimaan negara.

Tahun depan penerimaan negara diperkirakan bakal bertambah sebesar Rp 130 triliun setelah diberlakukannya sederet kebijakan pajak yang tertuang di Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

Beberapa kebijakan pajak yang akan dijalankan tahun depan di antaranya kenaikan tarif PPN, pajak karbon, cukai untuk plastik dan minuman berpemanis hingga pengampunan pajak alias tax amnesty.

Tidak hanya berhenti di situ, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan peningkatan penerimaan juga akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

"Pada 2023-nya kenaikan Rp 150 - 160 triliun, ini tidak akan terjadi dengan sendirinya," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Akibat kebijakan ini, rasio pajak juga akan meningkat dari 8,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 9,22% dari PDB.

Pemerintah memang sedang getol untuk mendapatkan dana segar guna menambal defisit anggaran yang melebar. Kenaikan pajak sejatinya bukanlah kebijakan yang popular.

Kenaikan PPN misalnya, tentu akan berdampak pada appetite konsumen untuk berbelanja barang-barang. Dengan kenaikan PPN dari 10% menjadi 11% artinya konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli suatu barang.

Produk-produk yang cenderung elastis akan terkena dampak yang paling terasa. Di sisi lain upaya menguber pajak yang terlalu dini juga berisiko terhadap pertumbuhan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading