Saham UNVR is Back, Tanda Old Economy Mulai Bangkit?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 October 2021 08:04
The logo of the Unilever group is seen at the Miko factory in Saint-Dizier, France, May 4, 2016. REUTERS/Philippe Wojazer/Files

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten barang konsumer raksasa PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil mencatatkan reli kenaikan selama 4 hari terakhir, di tengah masuknya investor asing dalam sepekan terakhir. Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengangkat performa saham UNVR sepanjang tahun ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Kamis (8/10/2021), saham UNVR melesat tinggi 13,11% ke Rp 4.830/saham, melanjutkan kenaikan dalam 3 hari belakangan. Nilai transaksi saham UNVR mencapai Rp 1,20 triliun, tertinggi di bursa. Sementara volume perdagangan mencapai 250,9 juta saham.

Di tengah kenaikan saham UNVR, asing melakukan beli bersih Rp 175,9 miliar, terbesar kelima di BEI pada perdagangan kemarin. Sementara, dalam sepekan asing melakukan beli bersih sebesar Rp 187,12 miliar di pasar reguler.


Dengan ini, dalam sepekan saham UNVR terkerek naik 22,28%, sementara dalam sebulan melesat 17,80%. Namun, sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), saham UNVR masih ambles 34,29%.

Adapun nilai kapitalisasi pasar UNVR mencapai Rp 184,26 triliun pada penutupan pasar kemarin.

Kenaikan saham UNVR berbarengan dengan saham barang konsumer non-siklikal lainnya, seperti saham produsen rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang masing-masing naik 4,65% dan 5,14%. Seperti UNVR, keduanya sudah mencatatkan kenaikan selama 4 hari beruntun, ditopang masuknya investor asing.

Kemudian, saham Grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) naik 1,52% dan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga terkerek 3,86%.

Berkat lonjakan saham-saham tersebut, indeks saham sektor barang konsumer non-siklikal menjadi sektor yang paling naik, yakni sebesar 2,90%, memimpin di antara indeks sektoral lainnya di tengah IHSG ditutup mendatar (flat) dengan minus 0,01% ke 6416,40.

Kenaikan tersebut seolah menandakan kebangkitan saham ekonomi lama (old economy), yang sebelumnya dipimpin oleh saham dari sektor energi--seperti batu bara dan migas--akhir-akhir ini. Sementara, sektor saham ekonomi baru (new economy) alias saham teknologi cenderung loyo.

Kemarin, indeks sektor teknologi minus 0,29%. Saham teknologi, termasuk e-commerce PT Bukalapak.com (BUKA) turun 1,20% ke Rp 825/saham. Sementara saham pemilik BUKA, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), merosot 1,17%. 

Mengenai kinerja keuangan, laba bersih UNVR per Juni tercatat sebesar Rp 3,05 triliun, turun 15,75% dari periode yang sama tahun lalu Rp 3,62 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat ini (23/7), penurunan laba bersih seiring dengan koreksi pendapatan di periode 6 bulan ini. Pendapatan UNVR tercatat Rp 20,18 triliun, turun 7,30% dari Juni 2020 sebesar Rp 21,77 triliun.

Penjualan dalam negeri mencapai Rp 19,29 triliun, turun dari Rp 20,77 triliun, sementara ekspor juga turun menjadi Rp 888,11 miliar dari Rp 1 triliun

Penjualan kepada pihak terafiliasi terbesar yakni ke Unilever Asia Private Limited, Unilever (Malaysia) Holdings Sdn Bhd, Unilever Philippines, Inc., Unilever EAC Myanmar Company Limited, Unilever Australia Ltd, dan Unilever Thai Trading Limited.

Perseroan mencatatkan laba bruto Rp 10,25 triliun, juga turun dari sebelumnya Rp 11,18 triliun, sementara harga pokok penjualan turun menjadi Rp 9,93 triliun dari Rp 10,59 triliun.

Adapun beban pemasaran dan penjualan berhasil diturunkan menjadi Rp 4,22 triliun dari sebelumnya Rp 4,29 triliun.

Per Juni, jumlah aset tercatat Rp 20,27 triliun, dari Desember 2020 Rp 20,53 triliun di mana kas dan setara kas berkurang drastis menjadi Rp 526,36 miliar dari Desember 2020 sebesar Rp 844,08 miliar.

Total kewajiban mencapai Rp 16,26 triliun dari Desember 2020 Rp 15,59 triliun, dengan ekuitas Rp 4,01 triliun dari Desember 2020 Rp 4,94 triliun.

Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa pertumbuhan pasar FMCG (Fast Moving Consumer Goods) belum sepenuhnya pulih karena pandemi Covid-19. Ini yang menyebabkan konsumen masih berhati-hati dalam memilih pola konsumsi di beberapa kategori basic.

"Berbagai tantangan tersebut tentunya mempengaruhi tingkat pertumbuhan dari perseroan. Kondisi ini juga ditambah dengan kenaikan harga komoditas yang mulai mempengaruhi biaya produk," kata Ira, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat ini (23/7).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading