Ramai Gagal Bayar Properti China, Bos Schroders Waspadai Ini!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
08 October 2021 08:45
A woman walks past a property advertisement for Emerald Bay by China Evergrande in Hong Kong, China. August 25, 2021. REUTERS/Tyrone Siu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejadian menggemparkan raksasa properti China, Evergrande, tengah menjadi sentimen dan perhatian pasar global karena dikhawatirkan bisa menyebabkan krisis keuangan.

Krisis keuangan juga telah meluas ke lengan manajemen kekayaan perusahaan, Evergrande Wealth. Hingga akhir Juni, Evergrande memiliki utang yang nyaris mencapai 2 triliun yuan (US$ 309 miliar) atau setara dengan Rp 4.418 triliun (kurs Rp 14.300/US$) yang tercatat dalam neraca keuangan perusahaan.

Kesulitan likuiditas ini pun mulai menjalar ke perusahaan properti lain yakni Fantasia Holdings dan Sinic Holdings yang baru saja diturunkan peringkatnya oleh dua lembaga rating global, Fitch Ratings dan S&P. Fantasia Holdings bahkan tidak mampu membayar kembali obligasi yang sudah jatuh tempo pada Senin lalu (4/10).


Menanggapi ini, fund manager di Indonesia menilai ada dampak turunan dari Evergrande ke pasar keuangan di Indonesia, kendati tidak besar. Hal ini disebabkan karena pasar properti di China punya porsi sangat besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Tiongkok yang mencapai 25%.

Presiden Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia (Schroders), Michael Tjandra Tjoa mengatakan meski akan berdampak ke RI, namun efeknya akan minimal ke pasar dalam negeri, sehingga investor dinilai tak perlu khawatir dengan hal tersebut.

Bos Schroders Buka-bukaan Efek Tapering hingga Outlook Global (CNBC Indonesia TV)Foto: Bos Schroders Buka-bukaan Efek Tapering hingga Outlook Global (CNBC Indonesia TV)
Bos Schroders Buka-bukaan Efek Tapering hingga Outlook Global (CNBC Indonesia TV)

"Yes [berdampak], tidak terlalu besar ke Indonesia, tapi memberikan efek. Karena properti pengaruh properti di China market 25% dari total GDP dia, tentu memiliki efek ke Indonesia. Tapi kita tidak perlu terlalu khawatir karena Evergrande ini akan di-bailout (ditalangi) oleh pemerintah China, atau di-handover konglomerat lain di sana," kata Michael dalam acara Indonesia Knowledge Forum (IKF) X - 2021, Kamis kemarin (7/10/2021).

Untuk itu, kejadian gagal bayar yang diikuti oleh perusahaan properti China lainnya, termasuk Fantasia Holdings, dinilai bukan menjadi halangan bagi investor untuk tetap berinvestasi di pasar keuangan di dalam negeri.

Pasalnya, di samping adanya goncangan di pasar keuangan global seperti Evergrande dan ketakutan adanya tapering (pengurangan pembelian obligasi) oleh bank sentral AS, The Fed, pasar keuangan Indonesia saat ini dinilai sudah lebih baik dibanding sebelumnya.

Terlebih saat ini ekonomi Indonesia sudah kembali mulai menggeliat setelah mengalami penurunan dalam di tahun lalu akibat pandemi. Hal ini menunjukkan banyak perusahaan mulai bangkit.

"Indonesia in much better positioning now dibandingkan dengan beberapa waktu lalu pada saat tapering terjadi," imbuh dia.

Dia menjabarkan, saat ini posisi cadangan devisa per September senilai US$ 146 miliar, ini merupakan angka tertinggi, dibarengi dengan neraca perdagangan yang berada di posisi lebih baik dibanding sebelum pandemi Covid-19.

"Juga kita lihat bahwa interest rate [suku bunga[ kita juga masih memberikan prospek dibandingkan negara-negara lain," terangnya.

Sebelumnya Fantasia dan Sinic, dua perusahaan properti China mulai bernasib sama dengan Evergrande kendati nilai utangnya tak sejumbo Evergrande.

Sinic sedang mengalami masalah likuiditas yang parah dan kemampuan membayar utangnya sangat terbatas.

Dikutip CNBC International, anak perusahaan lokal Sinic juga gagal melakukan pembayaran bunga sebesar US$ 38,7 juta atau sekitar Rp 553 miliar (kurs Rp 14.300/US$) pada dua obligasi dalam mata uang yuan yang telah jatuh tempo 18 September lalu.

Buruknya kondisi likuiditas Sinic Holdings menyebabkan perusahaan pemeringkatan global, Fitch Ratings, pada Senin (4/10) kembali menurunkan peringkat utang menjadi 'C' dari sebelumnya 'CCC'. Ini merupakan penurunan kedua dalam sebulan terakhir setelah sebelumnya pada 22 September Sinic Holdings yang semula memiliki peringkat 'B+' turun ke 'CCC'.

Senasib dengan Sinic, Fantasia juga berkali-kali rating-nya diturunkan oleh Fitch dalam sebulan terakhir, dimulai dari tanggal 16 September dari 'B+' menjadi 'B', kemudian pada 4 Oktober turun menjadi 'CCC-' dan terakhir Selasa (5/6).

Akhirnya Fantasia distempel 'RD' (Restricted Default) oleh Fitch setelah perusahaan gagal melunasi senior notes-nya sebesar US$ 206 juta atau setara dengan Rp 2,94 triliun (kurs Rp 14.300/US$) yang jatuh tempo pada 4 Oktober 2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awas Evergrande Jilid II, 2 Perusahaan China Ini Mau Bangkrut


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading