Roundup

Ekspansi Rp 20 T Grup Djarum, Taipan RI Beli Saham Batu Bara!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
04 October 2021 08:25
Michael Bambang Hartono. (Detikcom/Rifkianto Nugroho)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (1/10), pelaku pasar asing melakukan transaksi jual yang cukup masif seiring dengan krisis energi yang terjadi di China. Hal ini menyebabkan bursa saham domestik tertekan dan berakhir di zona merah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,92% ke level 6.228,84 poin dengan nilai transaksi Rp 31,35 triliun kendati sepekan naik 1,3%. Pelaku pasar asing keluar dari bursa saham Indonesia sebesar Rp 10,51 triliun.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai transaksi di awal pekan ini, Senin (4/10/2021):


1.Caplok 2 Emiten Nyaris Rp 20 T, Duo Hartono Siap Tender Offer

Konglomerasi Grup Djarum milik dua taipan RI, duo Hartono, menyatakan bakal melaksanakan penawaran tender wajib (tender offer) setelah merampungkan akuisisi dua perusahaan dengan nilai investasi hampir mencapai Rp 20 triliun.

Kedua perusahaan yang diambilalih Grup Djarum ialah emiten pengelola Ranch Market PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) sebesar Rp 2,03 triliun dan emiten menara telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) senilai Rp 16,72 triliun, total Rp 18,75 triliun.

Pembelian RANC dilakukan lewat perusahaan e-commerce PT Global Digital Niaga (Blibli), sementara akuisisi SUPR dilakukan lewat PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha bisnis menara Grup Djarum, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Wakil Direktur Utama Protelindo, anak usaha Adam Gifari, kepada CNBC Indonesia mengungkapkan, saat ini perusahaan sedang dalam proses untuk melakukan penawaran tender wajib di OJK setelah TOWR, melaui anak usaha Protelindo mengakuisisi sebanyak 94,03% saham SUPR.

"Proses sedang dijalankan dengan OJK. Begitu sudah disetujui maka akan diluncurkan," ujarnya, Jumat (1/10/2021).

2.Resmi! Jokowi Teken PP Merger Pelindo I-IV

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan penggabungan perusahaan pelabuhan pelat merah, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II, III, dan IV yang berlangsung Jumat ini (1/10/2021) sudah disetujui Kementerian Keuangan dan disahkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101/2021 tentang Penggabungan Pelindo I, III, dan IV ke dalam Pelindo II. PP itu berlaku tanggal 1 Oktober 2021.

"Alhamdulillah, penggabungan empat BUMN pelabuhan, berintegrasi menjadi satu Pelindo sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan, dan Peraturan dari Presiden Joko Widodo juga sudah disahkan," kata Erick dalam keterangan resmi, Jumat ini (1/10).

Erick menegaskan, merger ini akan meningkatkan konektivitas maritim di seluruh Indonesia dan meningkatkan kinerja serta daya saing BUMN di bidang kepelabuhanan.

3.2 Tahun Dibubarkan OJK, Begini NAB Reksa Dana Minna Padi

Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk reksa dana Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) mengalami penurunan yang signifikan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membubarkan dan melikuidasi atas 6 produk reksa dana MPAM sejak dua tahun terakhir.

"Sekarang nilai aktiva bersih (NAB) produknya turun tajam menjadi kurang dari 1% jika dibandingkan dengan NAB pada saat pembubaran di tanggal 25 November 2019," kata perwakilan nasabah MPAM, Dovan, dalam keterangannya, kepada CNBC Indonesia, Jumat (1/10/2021).

Dalam surat yang disampaikan manajemen kepada nasabah MPAM, saat ini nilai reksa dana Dana Minna Padi Keraton II turun menjadi Rp 37 per unit penyertaan dari posisi 25 Desember 2019 di harga Rp 1.268,36 per unit.

Lalu, Reksa Dana Minna Padi Property Plus juga anjlok menjadi Rp 8 per unit penyertaan dari sebelumnya Rp 1.146,35 per unit. Reksa Dana Minna Padi Pasopati Saham turun menjadi Rp 67 per unit penyertaan dari sebelumnya Rp 1.150,82. Sedangkan, Reksa Dana Minna Padi Pringgondani Saham turun menjadi Rp 102 per unit penyertaan dari Rp 942,35 per unit pada akhir 2019 lalu.

4.Suntik Rp 3,1 T, Taiheiyo Jepang Resmi Jadi Investor SMCB

Emiten produsen semen, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), mengubah susunan pengurus perusahaan seiring dengan masuknya perusahaan semen asal Jepang, Taiheiyo Cement Corporation (TCC) sebagai salah satu pemegang saham perseroan.

Hal ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Jumat (1/10/2021) di Jakarta.

Selain menyetujui perubahan seluruh anggaran dasar, rapat juga menyetujui pengangkatan Yasuhide Abe sebagai direktur dan Yoshifumi Taura sebagai komisaris perseroan.

Seperti diketahui, pada 4 Agustus 2021 lalu, Semen Indonesia Grup (SIG) menjalin kemitraan strategis dengan TCC dan masuk menjadi pemegang saham SMCB. Investasi yang dilakukan SCC ialah dengan mengakuisisi 15,04% saham SMCB senilai US$ 220 juta atau setara Rp 3,1 triliun.

5.Hartanya Rp 30 T, Taipan Ini Borong Lagi Saham Batu Bara RI

Momentum kenaikan harga batu bara dimanfaatkan para pemilik emiten pertambangan batu bara menambah pundi-pundi saham mereka.

Baru-baru ini, pengusaha sukses yang juga pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Dato' Low Tuck Kwong menambah kepemilikan sebanyak 182.600 saham dengan harga pembelian Rp 21.338,20 per saham atau senilai Rp 3,89 miliar.

Transaksi tersebut dilaksanakan pada 24 sampai dengan 30 September 2021 dengan tujuan dari transaksi untuk investasi. "Status kepemilikan saham langsung," kata Low Tuck Kwong, dalam keterangan resmi kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (1/10/2021).

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham orang terkaya ke-11 di Indonesia di BYAN bertambah menjadi 1.837.703.730 saham dari sebelumnya sebanyak 1.837.521.130 saham.

6.Pasca Rights Issue Rp 96 T, Ini Bocoran Strategi BRI ke Depan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) baru saja melakukan penambahan modal melalui rights issue dengan transaksi mencapai Rp 96 triliun. Melalui aksi korporasi ini BRI menerbitkan 28,2 miliar saham baru dan telah terserap seluruhnya dan bahkan mengalami oversubscribed 1,53 kali.

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan sederet strategi yang akan dilakukan perusahaan terutama di segmen ultra mikro dan mewujudkan misinya menjadi The Most Valuable Banking Group in South East Asia, dan menjadi juara untuk inklusi finansial. Dengan begitu BRI berencana menciptakan nilai bukan hanya sebagai bank, melainkan juga holding dan anak-anak usaha yang memegang peran penting.

"Pilar-pilar bisnisnya yang utama di mikro, di dalamnya ada konsumer dan kami mulai mengisi kekosongan di ultra mikro. Di wholesale tetap ada, seperti treasury dan global services ada, arahnya untuk wholesale kami mau lebih ke transaction banking," jelas Sunarso dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (1/10/2021).

7.Siapkan Kocek! BEI Sebut Ada 2 Anak Usaha BUMN Mau IPO di Q4

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga pertengahan September lalu terdapat dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya di pipeline pencatatan saham. Total terdapat 26 perusahaan yang ada di pipeline bursa ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan dari 26 perusahaan ini, 15 perusahaan tergolong dalam perusahaan beraset besar alias di atas Rp 250 miliar.

Sedangkan tujuh merupakan perusahaan skala menengah dengan aset Rp 50 miliar-Rp 250 miliar dan sisanya adalah perusahaan dengan skala kecil beraset di bawah Rp 50 miliar.

"Dari pipeline 26 tersebut ada dua BUMN and subsidiary," kata Nyoman baru-baru ini.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading