Imbal Hasil US Treasury Melandai, Dow Futures Menguat Tipis

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
01 October 2021 19:41
Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., October 4, 2017. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Jumat (1/10/2021), setelah kemarin indeks S&P 500 terkoreksi hingga menyentuh level terburuknya sejak Maret 2020.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average naik 117 poin (+0,3%) dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat sebesar 0,3%. Di antara saham penopangnya adalah Merck yang lompat 7% setelah terapi obat Covid-19 mereka mengurangi risiko kematian hingga 50% untuk pasien dengan gejala menengah.

Sementara itu, harga saham teknologi juga menguat setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang sempat melonjak ke level 1,56% kini melandai dan berada di angka 1,5%.


Saham maskapai penerbangan ikut menguat, di antaranya Southwest Airlines setelah JPMorgan menaikkan rekomendasi saham perseroan. Di sesi awal dini hari waktu setempat, Dow futures sempat anjlok hingga 300 poin.

Sepanjang September, S&P 500 ambles 4,8%, menghentikan reli selama 7 bulan beruntun. Indeks Dow Jones dan Nasdaq ambruk masing-masing sebesar 4,3% dan 5,3%, menjadi bulan terburuk tahun ini.

"Kombinasi antara perlambatan ekonomi, kebijakan moneter yang kurang akomodatif, perubahan di China, stimulus fiskal yang mengabur, dan tersendatnya rantai pasokan memperberat sentimen investor," tutur Chris Hussey, Direktur Pelaksana Goldman Sachs, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Sepuluh dari 11 sektor di indeks S&P 500 anjlok pada September, dengan pelemahan terbesar dicetak sektor material yang mencapai 7,4%. Sebaliknya, saham energi mencetak kinerja terbaik dengan meroket lebih dari 9%. Indeks S&P kini terpaut 5,2% dari rekor tertinggi sepanjang masa dan masih terhitung menguat 15% sepanjang tahun berjalan.

Investor menunggu rilis data inflasi versi harga belanja konsumen inti (personal consumption expenditure/PCE) Agustus, yang menjadi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menentukan kebijakan moneternya.

Pasar dalam polling Dow Jones memperkirakan inflasi PCE tersebut bakal naik 0,2% secara bulanan dan 3.5% tahunan. Pada Juli, inflasi tercatat sebesar 3,6% secara tahunan menjadi yang tertinggi sejak Mei 1991.

Dari Washington, Kongres dijadwalkan akan membahas upaya mencegah penghentian layanan pemerintah AS (shutdown). Senat dan DPR AS telah menyetujui UndangĀ­-Undang jangka pendek yang memungkinkan pemerintah terus beroperasi hingga 3 Desember.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Antisipasi Data Tenaga Kerja Bakal Oke, Dow Futures Menguat


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading