Diteror Sentimen Negatif, IHSG Babak Belur Kena Profit Taking

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
01 October 2021 09:14
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah sebesar 0,28% ke level 6.269,24 pada perdagangan di hari terakhir pekan ini, Jumat (1/10/2021).

Pada 09.05 koreksi IHSG semakin dalam. Indeks tercatat melemah 0,5%. Tercatat ada 145 saham yang menguat, 175 melemah dan 213 stagnan.
Nilai transaksi hampir tembus Rp 1 triliun. Asing tercatat masih melakukan aksi beli bersih di pasar saham dalam negeri dengan nilai mencapai Rp 180 miliar.

Saham duo big cap bank yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi saham yang paling banyak dikoleksi oleh asing dengan net buy masing-masing sebesar Rp 91,7 miliar dan Rp 18,8 miliar.


Sedangkan saham yang banyak dilepas asing adalah saham PT ABM Investama Tbk (ABMM) dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) dengan net sell masing-masing sebesar Rp 4,2 miliar dan Rp 2,5 miliar.

Dalam dua hari terakhir IHSG terus mencatatkan apresiasi yang tinggi. Oleh sebab itu adanya risiko profit taking yang membuat indeks melemah menjadi lebih tinggi.

Masuk hari pertama kuartal 4, ada beberapa sentimen yang patut dicermati terkait dengan potensi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini.
Pertama adalah pelemahan bursa saham Wall Street yang terjadi semalam. Tentu saja ini menjadi sentimen negatif yang dapat menekan IHSG yang melesat tinggi hingga 2% lebih kemarin.

Kabar tersebut juga menjadi sentimen negatif untuk rupiah dan SBN. Sementara itu kabar baik juga datang dari AS, Kongres sudah menyepakati anggaran jangka pendek yang menghindarkan pemerintahan mengalami shutdown. Anggaran tersebut akan mendanai operasional hingga awal Desember.

Tetapi, shutdown sebenarnya bukan masalah yang perlu ditakuti, sebab tidak memberikan dampak yang besar ke dalam negeri. Bahkan, saat shutdown terakhir dan terpanjang dalam sejarah AS yang terjadi pada 22 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019, pasar finansial Indonesia malah mencatat kinerja positif.

Dari dalam negeri aktivitas manufaktur Indonesia tercatat kembali mengalami ekspansi hal ini tercermin dari angka PMI yang mencapai 52,2 di bulan September.

Selain PMI manufaktur ada juga rilis data inflasi yang dijadwalkan bakal diumumkan oleh BPS pada 11.00 WIB. Berdasarkan poling yang dihimpun CNBC Indonesia, inflasi bulan September 2021 diramal tetap rendah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid-19 Varian Baru Mengancam, IHSG Anjlok 1,44%


(hps/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading