Dibayangi Shutdown, Bursa AS Dibuka Mixed di Rentang Lebar

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
27 September 2021 21:07
A trader works on the floor of the New York Stock Exchange shortly after the opening bell in New York, U.S., July 23, 2018.  REUTERS/Lucas Jackson

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif dengan rentang lebar pada pembukaan perdagangan Senin (27/9/2021), dibayangi kabar tak sedap seputar risiko penghentian layanan pemerintahan (shutdown).

Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka naik 35,8 poin (+0,1%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 30 menit menjadi 220,6 poin (+0,63%) ke 35.018,58. Namun, S&P 500 surut 10,3 poin (-0,23%) ke 4.445,15 dan Nasdaq drop 149,6 poin (-1%) ke 14.898,13.

Saham-saham yang terkait dengan pemulihan ekonomi cenderung menguat di sesi pra-pembukaan, setelah kasus Covid-19 terus berlanjut dengan adanya rata-rata 114.000 kasus baru dalam 7 hari terakhir atau lebih baik dari sepekan sebelumnya 160.000 kasus.


Saham United Airlines lompat 1,7% di pembukaan, demikian juga saham perbankan seperti Goldman Sachs yang naik 2%. Saham Exxon Mobil memimpin reli di sektor energi setelah harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat melewati angka US$ 74 per barel.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menguat, dipicu optimisme seputar ekonomi, dengan menyentuh angka 1,5% atau menjadi yang tertinggi sejak Juni. Pada akhir Agustus, imbal hasil hanya di level 1,3%.

Saham teknologi seperti induk usaha Google (Alphabet), Apple dan Nvidia sontak terkoreksi karena kenaikan imbal hasil bakal membuat biaya pendanaan obligasi mereka menjadi semakin mahal.

Investor juga memantau kemajuan penyelesaian pemasukan AS yang sudah tiris, dan harus diizinkan menaikkan tingkat utang jika tak ingin layanan publik terhenti (shutdown) karena tak ada sumber dana pembayaran gaji mereka.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi pada Minggu mengatakan bahwa proposal infrastruktur bipartisan (disponsori kedua partai di AS) senilai US$ 1 triliun bakal disahkan pekan ini. Kongres harus meloloskan anggaran tambahan akhir September untuk menghindari shutdown.

"Washington DC akan mulai menarik lebih banyak perhatian dalam beberapa pekan ke depan, karena perhitungan politik seputar proposal infrastruktur dan debat mengenai batas utang akan cenderung memicu pasar bergerak," tulis Tavis McCourt, perencana saham Raymond James, seperti dikutip CNBC International.

Indeks Dow Jones pekan lalu menguat 0,6%, menghentikan koreksi mingguan tiga kali berturut-turut. indeks S&P 500 menguat 0,5% sedangkan Nasdaq tumbuh 0,02%. Sejauh ini, September dikenal sebagai bulan penuh volatilitas.

Sepanjang bulan berjalan, indeks S&P 500 melemah 1,5% dan berpeluang mencetak bulan negatif yang pertama sejak Januari. Pada periode yang sama, Dow Jones anjlok 1,6% sedangkan Nasdaq drop 1,4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading