Masih Belum Lelah, Harga Saham Batu Bara 'Ngacir' Lagi

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
24 September 2021 09:43
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara melonjak pada awal perdagangan hari ini, Jumat (24/9/2021), melanjutkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah harga batu bara menyentuh rekor tertinggi baru dan mencoba menyentuh titik US$ 190/ton.

Berikut penguatan saham batu bara, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.21 WIB.

  1. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), saham +10,47%, ke Rp 95/saham


  2. Golden Eagle Energy (SMMT), +8,33%, ke Rp 195/saham

  3. Indika Energy (INDY), +6,52%, ke Rp 1.470/saham

  4. Perdana Karya Perkasa (PKPK), +6,06%, ke Rp 105/saham

  5. Alfa Energi Investama (FIRE), +5,83%, ke Rp 545/saham

  6. Harum Energy (HRUM), +5,79%, ke Rp 6.850/saham

  7. Bumi Resources (BUMI), +3,77%, ke Rp 55/saham

  8. United Tractors (UNTR), +2,85%, ke Rp 21.675/saham

  9. Adaro Energy (ADRO), +2,83%, ke Rp 1.455/saham

  10. Bukit Asam (PTBA), +2,07%, ke Rp 2.470/saham

  11. Bayan Resources (BYAN), +1,89%, ke Rp 16.200/saham

  12. Indo Tambangraya Megah (ITMG), +1,87%, ke Rp 19.075/saham

  13. Mitrabara Adiperdana (MBAP), +1,53%, ke Rp 3.320/saham

  14. Golden Energy Mines (GEMS), +1,42%, ke Rp 3.570/saham

  15. Atlas Resources (ARII), +0,66%, ke Rp 304/saham

Menurut data di atas, saham BOSS memimpin kenaikan dengan melesat 10,47% ke Rp 95/saham. Dengan ini, dalam sepekan saham BOSS naik 9,41%, sementara dalam sebulan melejit 31,43%.

Kedua, saham Grup Rajawali SMMT yang terkerek 8,33% ke Rp 195/saham. Ini membuat saham SMMT mencuat 7,61% dalam sepekan dan melesat 20,73% dalam sebulan belakangan.

Kemudian, saham INDY yang mendaki 6,52% ke Rp 1.470/saham, melanjutkan kenaikan pada 3 hari sebelumnya. Dalam seminggu saham INDY menguat 13,24%, sedangkan dalam sebulan melejit 17,56%.

Di bawah saham INDY ada saham PKPK yang bertambah 6,06% ke Rp 118/saham, setelah naik 15,12% pada perdagangan Kamis kemarin. Alhasil, dalam sepekan saham PKPK melonjak 46,25%, sedangkan dalam sebulan 'terbang' 95,00%.

Sebelumnya, harga batu bara naik lagi. Kini harga si batu hitam mencoba menyentuh titik US$ 190/ton.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 189,3/ton. Melesat 3,58% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Batu bara tidak gentar meski ada 'gertakan' dari China. Dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmen negaranya untuk menuju karbon netral pada 2060.

"Kami akan melakukan segala upaya untuk mencapai tujuan ini," tegasnya, seperti dikutip dari AFP.

Untuk mencapai netral karbon pada 2060, Xi mengungkapkan China tidak akan mendanai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru di luar negeri. PLTU adalah pembangkit yang menggunakan batu bara sebagai sumber energi primer.

Namun target Xi memang bertahap, tidak bisa ujug-ujug. Sebab, saat ini China adalah konsumen batu bara terbesar di planet bumi.

Pada 2019, konsumsi batu bara di Negeri Tirai Bambu mencapai 4,36 miliar ton. Amerika Serikat (AS) di posisi kedua 'cuma' 924,44 juta ton.

Selain itu, ada alasan lain yang membuat batu bara sulit ditinggalkan, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai sumber energi primer untuk pembangkit listrik, batu bara masih lebih ekonomis dibandingkan sumber lainnya.

'Pesaing' terdekat batu bara adalah gas alam. Masalahnya, sekarang harga gas pun mahal, naik terus.

Pada Jumat (24/9/2021) pukul 07:57 WIB, harga gas di Henry Hub (Oklahoma, AS) tercatat US$ 5,05/MMBtu. Naik 1,43% dari hari sebelumnya dan sejak akhir 2020 (year-to-date) sudah membukukan lonjakan 98,78%.

Saat harga gas mahal, biaya pembangkitan listrik dengan energi primer itu jadi ikut menanjak. Di Eropa, misalnya, biaya pembangkitan listrik dengan batu bara adalah EUR 73,38/MWh per 21 September 2021. Sementara biaya pembangkitan listrik dengan batu bara adalah EUR 44,18/MWh.

"Kenaikan harga gas membuat batu bara menjadi kompetitif sehingga meningkatkan permintaan batu bara. Melihat harga kontrak forwards, sepertinya situasi ini masih akan bertahan setidaknya sampai awal 2022," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv, dalam risetnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading