Dibayangi Dot Plot The Fed, Rupiah Galau Maksimal

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 September 2021 09:35
Federal Reserve Chairman Jerome Powell testifies during a House Financial Services Committee hearing on

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah membuka perdagangan Jumat (24/9) dengan menguat 0,14% melawan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi dalam hitungan menit sudah masuk ke zona merah. Pergerakan yang sama juga terjadi Kamis kemarin sebelum rupiah berakhir stagnan.

Pada pukul 10:12 WIB, rupiah berada di Rp 14.250/US$, melemah 0,07% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Pergerakan tersebut menunjukkan pelaku pasar masih mencerna pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) Kamis dini hari kemarin. Dalam pengumuman tersebut, tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) yang akan dilakukan The Fed masih "ketaker" alias sesuai ekspektasi pasar.


The Fed belum menyatakan kapan tapering akan dilakukan. Sementara pelaku pasar memperkirakan pengumuman tapering akan dilakukan pada bulan November dan eksekusinya di Desember. Sejauh ini, ekspektasi tapering masih sama, tetapi yang sedikit mengejutkan adalah dot plot atau proyeksi suku bunga The Fed.

Sejak pandemi penyakit virus corona (Covid-19) melanda, The Fed membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%, dan bertahan hingga saat ini.

Setiap akhir kuartal, The Fed akan memberikan proyeksi suku bunganya, terlihat dari dot plot. Setiap titik dalam dot plot tersebut merupakan pandangan setiap anggota The Fed terhadap suku bunga.

idr

Dalam dot plot yang terbaru, sebanyak 9 orang dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini melihat suku bunga bisa naik di tahun depan. Jumlah tersebut bertambah 7 orang dibandingkan dot plot edisi Juni. Saat itu mayoritas FOMC melihat suku bunga akan naik di tahun 2023.

Artinya, terjadi perubahan proyeksi suku bunga yang signifikan. Kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari sebelumnya lebih berisiko memicu capital outflow dari Indonesia, dan negara emerging market lainnya, sehingga menimbulkan gejolak di pasar finansial global. Apalagi, jika The Fed nantinya agresif dalam menaikkan suku bunga.

Kemungkinan The Fed agresif dalam menaikkan suku bunga terbuka cukup lebar. Sebab pada rapat kebijakan kali ini bank sentral pimpinan Jerome Powell ini juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Saat proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas, suku bunga diproyeksikan naik lebih cepat, menarik. Lantas, bagaimana jika pertumbuhan ekonomi AS malah lebih bagus dari proyeksi The Fed? Suku bunga tentunya bisa dinaikkan dengan agresif guna mencegah perekonomian AS overheating.

Jika The Fed menaikkan suku bunga tahun depan, artinya Bank Indonesia (BI) akan ketinggalan. Sebab sebelumnya BI memproyeksikan kenaikan suku bunga di akhir tahun depan. Hal ini berisiko memicu capital outflow yang besar dari Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading