Gokil! Diborong Asing Rp 759 M, Saham BBRI Melesat 4%

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 September 2021 15:45
Postur Keuangan BRI Terus Bertumbuh, Meski Portofolio BRIS dialihkan Ke
BSI

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten perbankan BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melonjak pada penutupan sesi II perdagangan hari ini, Kamis (23/9/2021), di tengah kabar bahwa penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBRI melonjak 4,43% ke Rp 3.770/saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun, tertinggi di bursa. Asing juga beramai-ramai melakukan aksi beli bersih Rp 759,2 miliar, juga menjadi yang terbesar di bursa hari ini.

Dengan ini, saham BBRI melanjutkan kenaikan pada perdagangan Rabu kemarin, ketika ditutup menguat 1,12%. Alhasil, dalam sepekan saham BBRI naikĀ 3,57%.


Adapun nilai kapitalisasi pasar saham BBRI sebesar Rp 555,60 triliun pada hari ini.

Sebelumnya diwartakan CNBC Indonesia, rights issue BRI dipastikan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, setelah hampir semua Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu diserap oleh pelaku pasar.

Berdasarkan informasi yang beredar di pasar modal, sedikitnya 93,5% HMETD telah dieksekusi atau ditukar menjadi saham baru BBRI. Bila memakai dasar tersebut, maka modal baru yang telah masuk ke BBRI setidaknya mencapai Rp 89,68 triliun, baik dalam bentuk inbreng saham PT Pegadaian dan PT PNM serta dana segar.

Namun, riset CGS CIMB yang diterbitkan pagi ini, Kamis (23/9/2021) menyatakan optimis aksi korporasi tersebut bakal berhasil karena semua investor minoritas menebus haknya (fully subscribed). Porsi saham minoritas yang menebus dalam bentuk tunai mencapai Rp 41,15 triliun.

Hasil final rights issue BBRI belum dapat dikonfirmasi kepada pihak BRI karena masih menunggu data hari terakhir dari biro administrasi efek. Data tersebut bisa keluar sore ini maupun esok hari.

Dengan pencapaian tersebut, rights issue BBRI bukan hanya terbesar di Indonesia, namun juga Asia Tenggara. Rekor terakhir rights issue terbesar di Asia Tenggara dipegang oleh Singapore Airlines pada 2020 silam dengan nilai SGD 7,7 miliar atau Rp 82 triliun. Sementara itu rekor rights issue terbesar di Indonesia, hanya separuh dari pencapaian BBRI, yakni PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) pada 2008 dengan aksi korporasi Rp 40 triliun.

Dalam riset CGS CIMB dinyatakan bahwa bila rights issue BBRI terserap seluruhnya maka rasio dividen yang dibayarkan atau dividend payout ratio (DPR) BBRI akan mencapai 100%.

Dengan skenario tersebut maka dividend yield dari BBRI untuk tahun 2021-2023 bakal mencapai 6%-10%. Perhitungan imbal hasil dividen ini menggunakan harga penutupan kemarin, Rabu (23/9/2021) di Rp 3.610/saham.

Dampak lain yang ditimbulkan adalah peningkatan total modal untuk 3 tahun ke depan dengan laju masing-masing 8%/6%/3%.

Rasio profitabilitas juga akan terkerek naik. Return on Asset (RoA) BBRI diperkirakan bakal kembali ke level tertinggi 3% sementara Return on Equity (RoE) bisa menyentuh 19% pada 2024.

Adanya konsolidasi dan penambahan modal lewat skema right issue ini akan berdampak pada peningkatan penyaluran kredit per tahun secara compounding (CAGR) sebesar 13,5% sampai dengan 5 tahun ke depan.

Pertumbuhan tersebut bakal didorong oleh segmen ultra mikro dan mikro yang memang memberikan imbal hasil tinggi.

CGS CIMB menilai bahwa valuasi BBRI saat ini sudah tergolong murah sehingga risiko-nya terbilang rendah. Adapun dalam risetnya CGS CIMB menilai nilai intrinsic BBRI berada di Rp 4.800/saham dengan rating buy.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading