Parah! 3 Indeks Wall Street 'Kebakaran', Saham Facebook Jatuh

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
18 September 2021 06:17
Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., November 12, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak tiga indeks utama di bursa Wall Street AS melorot pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS (17/9/2021) atau Sabtu pagi waktu Indonesia (18/9).

Berdasarkan data CNBC, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terpangkas 166,44 poin atau minus 0,48% di 34.584, Indeks Nasdaq ambles 137,96 poin atau turun 0,91% di 15.043, dan Indeks S&P 500 juga turun 40,76 poin alias anjlok 0,91% di 4.432.

Sejumlah saham pemicu kejatuhan Dow Jones di antaranya Dow Inc -2,89%, Apple Inc -1,84%, Microsoft turun 1,75%, dan Coca-Cola turun 1,64%.


Di Nasdaq saham Zoom melesat 3,4%, dan Baidu juga menguat 1,66%, sementara pemberat indeks yakni Copart anjlok 5,5%, Qualcomm -3,4%.

Di S&P, saham Unum Group jeblok 6,04% dan Freeport juga ambles 3,6%.

Sejak pembukaan perdagangan tadi malam waktu Indonesia, bursa AS memang tergelincir ke zona merah setelah investor kian berhati-hati menghadapi risiko kenaikan kasus Covid-19 varian delta dan volatilitas September.

Pada pembukaan perdagangan, saham Facebook anjlok 1% dan akhirnya ditutup ambles 2,24%, sebaliknya United Airlines lompat 1% lebih dan ditutup naik 0,16%.

Indeks S&P 500 setiap September turun rata-rata 0,4%, menjadi bulan terburuk, menurut Almanac terbitan Stock Trader's. Pemicu volatilitasnya adalah masuknya periode kedaluwarsa kontrak berjangka saham opsi, dan lainnya.

"Kami memperkirakan volatility akan meningkat bulan depan didorong oleh kenaikan musiman terkait ketakpastian investor, berlanjutnya ketakpastian virus, dan katalis kebijakan fiskal dan moneter yang signifikan," tulis John Marshall, Kepala Riset Derivatif Goldman Sachs, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Menurut catatan, lanjut dia, volatilitas S&P 500 biasanya meningkat 27% pada September, dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun, Wall Street memasuki Jumat ini dengan masih membukukan reli meski tipis.

Dow Jones naik 0,41% dan S&P 500 tumbuh 0,34% sepanjang pekan berjalan, sementara Nasdaq menguat 0,44% sepanjang pekan setelah selama sebulan berada di zona merah.

Adapun sepanjang bulan berjalan, Dow Jones turun 1,7%, S&P 500 drop 1,1% dan terpaut 1,6% dari rekor tertingginya, sementara Nasdaq turun 0,5%.

Pada Kamis lalu, Dow Jones turun 63 poin, setelah sempat anjlok hingga 274 poin. Indeks S&P 500 turun 0,16%, Nasdaq masih menguat tipis, sebesar 0,13% didorong saham Netflix, Microsoft dan Amazon yang kompak menghijau.

Pemerintah AS merilis penjualan ritel per Agustus yang naik 0,7% (bulanan). Angka itu membalik estimasi ekonom dalam konsensus Dow Jones yang memprediksi pelemahan 0,8% (bulanan). Artinya, terjadi kenaikan belanja di sana sehingga inflasi berpeluang menguat dan membuat bank sentral AS kian percaya diri melakukan kebijakan tapering lebih cepat.

Namun, pelaku pasar masih menilai peluang percepatan tapering (pengurangan pembelian surat utang di pasar sekunder) masih tergerogoti oleh data pengangguran yang masih buruk.

Klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu tercatat 332.000, atau lebih buruk dari prediksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 320.000.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading