Internasional

Disalip Hong Kong-RI, Singapura Panik! Pasar Modalnya Dikebut

Market - Riri Akadafi, CNBC Indonesia
17 September 2021 15:50
SGX: Bursa Singapore (Youtube/SGXChannel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Singapura mengumumkan akan menyiapkan beberapa langkah untuk menggenjot pertumbuhan modal mereka dengan mengakomodasi penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) perusahaan start-up (rintisan) teknologi yang tengah tumbuh.

Langkah ini disiapkan demi memikat perusahaan-perusahaan teknologi agar mau melakukan IPO di Bursa Singapura (Singapore Exchange). Apalagi saat ini pasar modal Singapura mulai tertinggal dari sejumlah pasar modal di Asia, termasuk dari Hong Kong dan Indonesia.

Dikutip dari wawancara eksklusif CNBC International, Lee Boon Chye, Kepala Eksekutif Singapore Exchange mengatakan Singapura adalah negara dengan tujuan pencatatan saham favorit bagi investasi perusahaan real eastate.


Walaupun sudah memiliki perusahaan teknologi seperti Nanofilm yang terdaftar di pasar saham di sana, tetapi Negara Singa itu ingin menarik perusahaan-perusahaan teknologi lainnya untuk segera mencatatkan saham perusahaan mereka di Bursa Singapura.

Nanofilm Technologies International adalah perusahaan yang menyediakan bahan pelapis serta pelindung untuk smartphone dan televisi.

Nanofilm memulai debut perdagangannya di Bursa Singapura pada tahun lalu, dan menjadikan Nanofilm sebagai IPO non-REIT (real eastate investment trust/dana investasi real estate) terbesar pertama dalam beberapa tahun.

Strategi Lain

Lebih lanjut, Pemerintah Singapura bersama dengan Temasek, perusahaan BUMN investasi Singapura, akan membantu perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan modal melalui IPO baik primer maupun sekunder.

Pada tahap pertama, dana tersebut akan sediakan sebesar SG$ 1,5 miliar atau setara dengan dengan US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 16 triliun, kurs Rp 14.300/US$).

Langkah lainnya juga diumumkan pemerintah Singapura, di antaranya Badan Investasi Singapura (Economic Development Board/EBD) pada tahap selanjutnya akan memberikan dana baru untuk investasi di perusahaan tersebut sampai saham tercatat di Bursa Singapura.

Dana tersebut akan diberikan kepada perusahaan-perusahaan dengan nilai hingga SG$ 500 juta, setara Rp 5,3 triliun (kurs Rp 10.566/SG$).

Selanjutnya, strategi berikutnya mengenai masalah regulator keuangan. Nantinya Bank Sental Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) akan meningkatkan hibah untuk membantu perusahaan membiayai biaya pencatatan atau listing fee.

Terakhir Singapura Exchange (SGX) akan membantu perusahaan untuk mengumpulkan dana sebelum tercatat di papan bursa.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong dalam pidatonya mengaku bahwa insentif yang diluncurkan bukanlah peluru ajaib, tetapi ia yakin hal ini akan mampu menjadi angin baru dan menjadikan Bursa Singapura bukan hanya pilihan yang layak tetapi juga menarik bagi perusahaan inovatif yang sedang tumbuh dan ingin go public.

Gan Kim Yong juga mengatakan saat ini ada empat start-up lokal Singapura telah mencapai status sebagai "unicorn" dan bernilai US$ 1 miliar. Dari keempat tersebut yang terbaru adalah start-up Carousell.

Daftar SPAC
Singapura Exchange dalam beberapa tahun terakhir juga telah mengeluarkan beberapa langkah untuk meningkatkan IPO.

Bahkan awal bulan ini SGX bahkan mengumumkan aturan baru untuk memungkinkan pencatatan perusahaan akuisisi tujuan khusus atau SPAC (special purpose acquisition company, perusahaan cek kosong).

Langkah ini dinilai sebagai cara untuk menghidupkan kembali pasar IPO di Singapura.

Reuters mencatat, pada tahun ini, pasar saham Singapura sebenarnya telah mengungguli banyak bursa regionalnya, bahkan indeks acuan Straits Times naik sekitar 7,8% pada penutupan perdagangan Kamis (17/9).

Tetapi penawaran umum perdana di Bursa Singapura terlihat tidak begitu menarik.

Bahkan pada paruh pertama tahun ini saja, Singapura hanya mampu menarik tiga IPO saja yang menghasilkan nilai sekitar US$ 200 juta atau setara Rp 2,9 triliun.

Dibandingkan dengan Hong Kong cukup tertinggal jauh di mana Bursa Hong Kong mampu mencatatkan 46 perusahaan untuk listing dan mengumpulkan dana hingga US$ 27,4 miliar atau setara Rp 392 triliun.

Di Indonesia, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna Setia mengungkapkan, sampai dengan 16 September 2021, terdapat 38 perusahaan yang melakukan IPO dengan emisi sebesar Rp 32,14 triliun.

"Nilai tersebut merupakan perolehan dana terbesar yang dihimpun perusahaan melalui IPO sejak Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977," kata Nyoman, kepada awak media, Jumat (17/9/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading