Apa Kabar Holding BUMN Aviasi-Wisata? Ini Update dari Erick

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
16 September 2021 18:10
Instagram @Erickthohir

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tengah merampungkan pembentukan Holding BUMN Pariwisata dan Aviasi yang nantinya akan dipimpin oleh PT Survai Udara Penas.

Adanya holding ini ditargetkan untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan turis dalam negeri pasca-Covid-19.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan holding ini nantinya akan memberikan prioritas kepada turis dalam negeri untuk bisa bepergian dengan lebih leluasa, setelah selama ini fasilitas lebih banyak diberikan untuk turis asing.


"Jadi memang kan kita mesti berpikir tidak hanya saat Covid tapi pasca-Covid. Memang pasca-Covid ada beberapa pemikiran, memperbaiki pariwisata dan turunannya," kata Erick dalam wawancara dengan Safira Wardoyo dari CNBC Indonesia, disiarkan Kamis (16/9/2021).

Holding Ultra Mikro Targetkan Pembiayaan ke UMKM Naik 30% (CNBC Indonesia TV)Foto: Holding Ultra Mikro Targetkan Pembiayaan ke UMKM Naik 30% (CNBC Indonesia TV)
Holding Ultra Mikro Targetkan Pembiayaan ke UMKM Naik 30% (CNBC Indonesia TV)

Dia menjelaskan, sebelum Covid-19, pariwisata dalam negeri sebenarnya dikunjungi oleh 78% turis lokal dan sisanya merupakan turis asing. Sedangkan perputaran uangnya senilai Rp 1.400 triliun turis dalam negeri, sedangkan turis mancanegara hanya Rp 300 triliun.

"Kalau strategi open sky [pasar penerbangan sipil komersial tanpa batasan frekuensi dan kapasitas] kalau terbang dari enam airport, seperti Amerika dan China, domestic flight bisa diprioritaskan dan pembangunan infrastruktur domestic tourism, jangan hanya mikirin turis asing, tapi lokal ga pernah diapresiasi," imbuh dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan holding yang akan diberi nama PT Aviasi Pariwisata Indonesia ini akan menerima penyertaan modal negara (PMN) 2022 senilai Rp 9,318 triliun. Di dalamnya termasuk dana yang akan digunakan untuk mengakuisisi PT Citilink Indonesia dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

"Cukup besar kebutuhan permodalan ini yang kita butuhkan. Ini di tengah yang Rp 3,5 triliun ini terkait dengan permasalahan Garuda di mana kita dengan Kementerian Keuangan saat ini ingin ada satu standby facility yang nantinya digunakan untuk proses restrukturisasi daripada Garuda," katanya.

"Kami sendiri sedang merancang apakah nanti melalui pengambilan Citilink atau kah nantinya menggunakan ini untuk cash flow Garuda ke depan apabila Garuda berhasil direstrukturisasi," ungkap dia dalam rapat kerja dengan Komisi VI, Rabu (14/7/2021).

Rincian penggunaan dananya, Rp 2 triliun untuk penguatan modal dan penguatan solvabilitas bandara, Rp 700 miliar untuk penguatan modal dan pengembangan layanan penerbangan, Rp 1,2 triliun untuk penguatan modal dan pengembangan infrastruktur induk holding.

Kemudian dana Rp 1,818 triliun untuk penguatan modal, pengadaan lahan dan pembangunan destinasi pariwisata dan Rp 100 miliar untuk penguatan modal dan pengembangan bisnis trading untuk mendukung produk ekspor UMKM.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading